Bagian Dua - Dongeng Dari Masa Lalu

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5.8 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Dua - Dongeng Dari Masa Lalu

“Jadi lo dateng?” Tanya Bayu setibanya kami tiba di sebuah kafe bernama Zoe Cafe, ketika SMK aku dan lainnya sering berada di sini bahkan hingga larut hanya untuk bercerita, tentang apa saja.

“Belum tahu.” Jawabku singkat, aku sudah bisa menebak arah pembicaraan Bayu, sebuah acara pernikahan yang akan di gelar dua bulan lagi. Undangan yang aku terima ketika aku masih berada di Melbourne. Tertulis disana dengan jelas, Aira & Daud. “Gue nggak bisa lihat Aira sama yang lain.”

“Berlebihan lo.” Sahut Moses tiba-tiba.

Aku terdiam. Bayu dan Moses tertawa keras, aku belum tahu apa maksud tawa mereka itu. Tapi aku bisa menduga ada bau mencurigakan disana, aku sedang tidak berminat main tebak-tebakkan, aku masih mengaduk kopi yang baru saja sampai, aku masih terfokus dengan hal-hal yang barangkali membuatku sakit dan menyesal. Perpisahan dengan Aira, keributan dengannya adalah cara terburukku meninggalkan dia ke Melbourne. Kalau jarak diciptakan untuk menyatukan, mungkin mereka yang LDR bisa hidup dengan tenang, tapi jarak diciptakan sebagai pemisah, antara yang kanan dan kiri, atas dan bawah, depan dan bekalang, Aku dan Aira.

“Lo beneran sayang sama Aira?” Tanya Bayu, kembali dia menohokku dengan pertanyaan-pertanyaan yang barangkali sulit untukku jawab.

Sayang, hanya saja dua bulan lagi dia akan menikah dengan yang lain. Gumamku

“Dim, gue serius nanya. Lo sayang sama Aira?” Tanya Bayu sekali lagi, kali ini dia mulai menatap mataku lekat, seakan-akan sedang mencari jawaban disana. Perasaanku terombang-ambing ketika undangan itu datang ke meja kerjaku, seakan dunia berhenti dan gempa bumi datang secara tiba-tiba. Mungkin ini musibah yang paling hebat, patah hati.

“Lo kenapa nanya gitu?” Tanyaku kembali kepada Bayu.

“Bay lo mau bikin dia nangis lagi?” Tanya Moses sambil tertawa. “Gue nggak ada stok permen sama balon.” Dia tertawa makin keras. Bayu pun tertawa meledekku. Aku hanya terdiam tidak bisa berbuat apa-apa.

---

Waktu dicipta untuk menjadi jeda, jarak dicipta untuk menjadi dera.

Tuan Putri, maukah kau menatapku sekali lagi, dengan tangisan yang kutahan sejak tadi

Aku melihatmu berjalan menjauh, membuat jeda di antara kita semakin melebar

Membuat semuanya seakan-akan tidak mungkin bisa kita satukan

Aku menangis Putri, disudut ruangan, senja menyelinap dengan sangat baik

Membuat hati dan pikiranku hangat, tapi tetap saja. Tidak ada kamu disini, menghapus sedihku.

 

Bayangan wajah Aira tiba-tiba hadir dalam benakku ketika aku sedang menulis untuknya. Bukan hanya wajah Aira, wajah ke lima orang yang lainnya sudah berada di kepalaku sejak tadi. Aku sudah bertemu Bayu dan Moses tadi siang, tapi entah dengan yang lain. Mungkin hari itu adalah hari terakhir pertemuan aku dengan mereka. Aku benci sendiri, ketika tidak ada satupun orang yang berada disisiku disaat semua masalah bertubi-tubi datang kepadaku, meski dengan cara yang tidak masuk akal sekalipun.

Kau tahu rasanya tidak mempunyai teman dan sahabat atau bahkan seseorang yang paling kau sayangi berada disampingmu? Kau tahu betapa sakitnya ketika semua orang perlahan berbalik menjauh, membuatmu menjadi merana dan sendiri, terselip di bagian terpencil dunia mereka. Kehilangan semua perhatian dan tawa yang mereka suguhkan selama bertahun-tahun. Aku merasakannya selama empat tahun, cara paling menyakitkan yang sengaja mungkin Tuhan berikan padaku agar aku mengetahui rasanya berdiri sendiri tanpa siapapun.

Bersama adalah cara kita melihat masa depan dan menatapnya dengan baik, sendiri adalah cara kita menghancurkan masa depan perlahan-lahan. Waktu menjelma menjadi lebih lambat ketika pikiranku berteriak soal penyesalan yang datang bertubi-tubi. Apa yang sebenarnya harus dilakukan manusia ketika dia menyesal? Aku tahu jawabannya, melakukan yang terbaik dari waktu ke waktu. Namun, bagaimana jika yang disesali adalah sebuah keterikatan pikiran dan perasaan kepada sekumpulan orang yang sudah kita anggap sebagai sebuah keluarga. Aku baru saja melewatkannya, keluarga yang paling aku sayangi.

Aku merenggangkan kakiku, layar laptopku masih menyala, kertas yang ada didalamnya menunggu untuk di isi, dan saat ini pikiranku melayang jauh, pergi ke tempat yang tidak pernah aku tahu namanya.

“Om.” Suara Aika tiba-tiba datang dari balik pintu.

Aku menoleh kepadanya. “Kamu belum tidur?” Jawabku lemas.

Dia menggeleng, perlahan dia berjalan langkah demi langkah ke arahku. Dia duduk disampingku, lalu melihat apa yang sedang kukerjakan, dia melihat foto yang sedari tadi ku letakkan di samping laptop. “Om itu siapa?” Tanyanya sambil menunjuk wajah mereka berenam.

“Mereka?” Tanyaku sambil menunjuk foto yang ia maksud.

Dia mengangguk perlahan.

Aku menatap lekat foto itu, sambil membayangkan kalau mereka berada disini, membersamaiku dalam suka dan duka. “Keluarga.” Kataku singkat, senyumku mengembang perlahan. “Aika mau denger cerita nggak?” Kataku tiba-tiba sambil menoleh Aika.

“Cerita apa?”

“Tentang lima orang pangeran dan dua orang putri cantik dari sebuah kerajaan.” Kataku sambil menunjukkan angka lima dan dua dengan jari-jemariku.

“Wah, ada naganya nggak om?”

Aku tersenyum sambil terus memperhatikan tingkah lugunya. “Ada dong, tapi naga yang om akan ceritakan dia baik, dia malah membantu lima pangeran dan dua putri tadi bersatu melawan musuh.”

“Ceritain om!” Pintanya sambil berteriak. Wajahnya yang lugu selalu membuatku berhasil tersenyum kecil.

“Oke, judul kisahnya adalah lima pangeran dan dua orang putri dari sebuah kerajaan yang terpencil di pojok desa.” Kataku membuka cerita.

Malam itu, aku dan Aika menutup malam dengan sebuah cerita sederhana dari masa lalu. Bulan masih bersinar terang malam ini, dan waktu masih terus berjalan. Dan didalam kerajaan, lima orang pangeran dan dua orang putri cantik sedang asik makan malam. Dalam tawanya yang terkenang, dalam cinta yang hangat, senyum terpancar dari wajah mereka. Layaknya sebuah dongeng dikisah-kisah jaman dulu.