Bagian Satu - Perjumpaan Pertama

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 27 Agustus 2016
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5.8 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian Satu - Perjumpaan Pertama

Rumah adalah tempat kita untuk merapikan kenangan, semua yang pernah kita tinggalkan disana selalu saja menyenangkan untuk selalu di ingat. Aku masih mengingatnya, empat tahun yang lalu aku meninggalkan Ibu dan Kakak laki-lakiku untuk menyelesaikan study-ku di Melbourne. Tapi sekarang waktu membuatku kembali berada ke tempat dimana aku berasal. Dimana semua kenangan datang dan pergi tiba-tiba.

“Assalamualaikum.”

Seorang anak kecil berjalan dari ruang tamu menujur pintu rumah, derap langkah nya seperti terburu-buru. “Om!” Teriaknya padaku ketika dia sampai di muka pintu dan memeluk kakiku.

Aku masih bingung, siapa anak kecil ini. Wajahnya cantik layaknya kakak iparku, dia mengenakan kaos bergambar salah satu kartun Disney. Rambutnya yang ikal membuatnya jauh terlihat lebih manis daripada anak kecil yang lainnya. Dari muka pintu ruang tamu, seorang perempuan paruh baya datang menggendong seorang anak kecil, kali ini laki-laki. Usianya sekitar 6 bulan, wajahnya yang manis dan lugu membuatnya terlihat lebih lucu.

“Kamu pulang kok tidak memberitahu ibu sih Dim?” Kata ibu menyalahkanku, dia langsung memukul bahuku pelan. Tanda bahwa dia ingin dikabari.

“Kan biar suprise bu?” Kataku tertawa, wajah ibu menampilkan wajah yang kurang enak, ketika keberangkatanku empat tahun lalu menuju Melbourne, ibu mengantarkanku. Sebelum take off ibu berpesan ‘kalau sudah mau pulang kabarin ibu, biar ibu jemput’ Kesalahanku membuat ibu sedikit jengkel pagi ini, mengabaikan pesannya lalu dengan alasan yang cukup klise membuat sebuah kejutan aku mengecewakannya. “Bu Mereka berdua?” Tanyaku mencoba mengganti topik lain, sambil menunjuk dua anak kecil yang ada di depanku ini secara bergantian.

“Mereka keponakan kamu.” Kata ibu singkat, masih dengan ekspresi yang sama.

“Wuahh, jadi Mba Yasmin udah lahiran? Kapan bu?”

“Beberapa bulan setelah kamu pergi ke Melbourne.”

Aku mengangguk, lalu menatap dua anak kecil itu secara bergantian. “Kamu namanya siapa?” Tanyaku sambil mengelus kepala anak kecil perempuan yang ada di hadapanku, yang sedari tadi memeluk kakiku erat.

“Aika.” Jawabnya singkat sambil memiringkan kepalanya ke kanan. Dan anak kecil yang sedang ibu gendong yang kutahu namanya adalah Arsyad. Keponakan keduaku. Empat tahun aku berada di luar negeri, banyak yang berubah, banyak yang membuatku tertawa sampai menangis, waktu mengajari ku sesuatu. Hal yang paling tidak bisa kita tinggalkan dari masa lalu adalah kenangan. Semua berubah termasuk Aira.

---

Poster Bondan Prakoso masih terpampang jelas di dinding kamarku, semuanya tidak ada yang berubah, mungkin setiap minggu ibu menyuruh Mbok Darmi membersihkan kamarku. Aku masih mengingat seluk-beluk tempat ini, komputer jadul yang kupakai untuk menulis cerpen pertamaku waktu itu, rak buku yang aku taruh di pojok kamar untuk menaruh semua koleksi-koleksi buku milikku, dan Aira. Di tempat ini setiap pulang sekolah aku dan Aira bertukar buku-buku apa saja lalu kami membacanya berdua, dan biasanya selepas membaca aku dan dia akan mulai berdiskusi soal buku yang kami baca. Aku masih mengingatnya. Aku hanya jatuh cinta diam-diam kepadanya, menyatakan semua perasaan padanya adalah keputusan terberat yang pernah aku pikirkan.

Namun ibu mengajarkanku sesuatu, kadang apa yang sebenarnya paling kita inginkan tidak akan pernah selamanya menjadi milik kita, tapi apa yang sebenarnya tidak kita inginkan selalu saja datang dengan cara yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Unik memang, tapi begitulah bagaimana cara semesta membuatnya semakin rumit, bagaimana semua takdir Tuhan berjalan dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Aku mulai merogoh kembali ranselku, foto itu masih berada di tanganku, tujuh orang yang tertawa termasuk diriku. Kami menyebut diri kami Sette Migliori Amici, artinya sederhana tujuh orang sahabat. Aku, Saka, Aira, Rama, Bayu, Yuri, Moses, kami adalah orang yang selalu percaya kalau mimpi adalah cara agar manusia tetap hidup, tujuan yang terstruktur dengan sangat dahsyat. Ini adalah foto terakhir ku dengan mereka, hari kelulusan, selepas itu waktu tak pernah mengizinkanku bertemu dengan mereka kembali. Entah mungkin semuanya akan berbanding terbalik dengan apa yang aku dan mereka harapkan waktu itu.

“Kita foto ya?” Yuri yang hari itu mengenakan kebaya berwarna ungu mulai sumringah dengan kebersamaan yang jarang-jarang terjadi seperti ini. “Ayolah, gue akan kangen banget. Dimas akan ke Melbourne, Saka akan kuliah di Grouningen, Rama dan Bayu akan kuliah di Jogja, gue sama Aira kuliah di Jakarta-Jakarta juga, nggak bisa sekalian jalan-jalan kayak kalian...” Yuri berusaha berpikir, matanya mulai melirik ke arah Moses yang sedari tadi sibuk berfoto-foto dengan adik kelas, Moses tidak punya tampang yang memadai sebenarnya, tapi dia punya kemampuan akademik yang tinggi.

“Lo kemana Ses?” Yuri menodongnya.

Moses tampak bingung, kami ber-enam melihatnya seakan-akan ada yang aneh tentangnya, sepertinya dia akan memilih sesuatu yang berbeda dengan yang kami pilih. “Gue?” Dia tampak berpikir, wajahnya menjadi seribu kali lipat membosankan daripada beruang betina yang ada di Ragunan. “Gue kerja kayaknya, lumayan jadi Graphic Design kan gaji nya gede.” Sahutnya sombong.

“Yah lo, lulusan SMK nggak mungkin bisa Ses.” Celetuk Bayu.

“Ini tuh masalah kualitas, bukan kuantitas. Kalau gue bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan, jangankan lulusan D3, lulusan S3 sekalipun bisa gue kalahin.” Dia melanjutkan, kali ini dia sabil merapikan dasi hitamnya.

“Udah biarin-biarin.” Saka menengahi, sambil mendorong Bayu mundur.

“Yaudah ayo foto.” Ajak Yuri, tanpa babibu lagi dia mulai menghitung mundur. Aku yang sedari tadi memperhatikan Aira tak terkesiap dengan hitungan Yuri. “Dim, jangan liatin Aira aja dong lo. Mau foto nggak!” Bentak Yuri tiba-tiba, aku lupa satu hal. Yuri adalah wanita berbadan sedikit gempal galak yang pernah memukulku dengan keras. Aku menurut karena tidak mau menjadi korban pukulannya lagi. Hari itu selepas kami berpisah masing-masing, ada satu hal yang kami ucapkan bersama.

We’ll Meet Again!

---

“Om disuruh makan sama Nenek di bawah.” Suara Aika membangunkanku dari lamunan.

“Oh iya iya.” Aku berdiri, lalu mulai berjalan ke ruang makan di lantai bawah.

“Om.” Panggil Aika padaku.

Aku menoleh lalu memasang raut wajah yang seakan-akan berkata ada apa?

“Gendong.” Katanya dengan polosnya, sambil tersenyum dengan lugu. Lesung pipinya membuat dia begitu jauh lebih manis, keponakan pertamaku.

Aku mulai menghampirinya, aku memang tak pernah menggendongnya. Jelas saja, aku 4 tahun di Melbourne dan tak pernah sama sekali menyentuhnya. “Oke siap.”

“Om.”

“Iya?”

“Ini pertama kalinya Om gendong aku loh dan....” Dia berhenti disitu.

“Dan apa?” Tanyaku.

“Dan Ini perjumpaan pertama kita.” Dia tertawa.

Senyumku mengembang perlahan. “Iya bener.”

Aku mulai memindahkan Aika yang tadinya aku gendong di belakang, kali ini posisinya kupindahkan layaknya pesawat yang akan terbang. Wajahnya sumringah, ketika perlahan kami menuruni tangga dengan seperti itu. Ya, waktu mengajariku soal kerinduan, perjumpaan pertama adalah segalanya, dan saat ini keponakan yang aku lihat maish embrio waktu itu sekarang sudah besar. Waktu berlalu begitu cepat, sampai kita lupa mengambil jeda untuk tahu betapa berharganya masa lalu. Ah, begitulah semuanya berjalan, hanya antara waktu, semesta, dan manusia.