Tutorial Menulis Skenario

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Tutorial Menulis Skenario

Oke jadi gini.. Gue berpikir, di inspirasi.co ini banyak banget penulis-penulis yang lebih keren daripada gue, bahkan banyak banget yang hebat-hebat. Nah gue kepikiran untuk membuat project ini. Tutorial Menulis, walaupun belum jadi penulis beneran, tapi semoga bermanfaat. Gue selalu percaya, ilmu yang kita punya nggak akan berguna kalau nggak di bagi ke semua orang yang ada di Indonesia.

Oke kita mulai dari sini, Tutorial menulis skenario.

Setiap gue nulis skenario untuk project pribadi, entah itu iklan atau film pendek gue selalu ngerasa kalau jaman sekarang banyak orang yang minat untuk belajar film. Gue nggak akan bahas Directing-nya karena gue masih baru dalam Directing dan sebagianya, Statisticly bagian produksi nya. Nah yang akan gue bahas kali ini adalah soal dasar-dasar penulisan Skenarionya. Buat gue Skenario adalah otak dari sebuah film, dasar dari tebentuknya cerita. Makin kesini, gue semakin melihat banyak banget orang yang berminat menulis Skenario, alasan paling kuat karena penasaran. Tapi berawal dari penasaran itulah kadang orang menemukan sesuatu yang hilang dari dirinya.

 

  1. Pelajari Dulu Format Skenarionya

Hal yang paling penting buat gue ketika pertama kalinya menulis skenario adalah mempelajari dulu format skenario yang ada, karena menulis skenario beda sama menulis buku atau cerpen. Kali ini kita bicara medium penonton, kalau buku atau cerpen kita bicara medium pembaca. Format menjadi penting karena kita menulis per adegan bukan per bab lagi. Tantangannya lainnya adalah ketika menulis skenario usahakan kalian sudah membayangkan adegan nya seperti apa.

 

  1. Ide Cerita-nya

Setelah tahu dan paham format skenario kayak apa, gue akan langsung masuk ke ide ceritanya. Biasanya kalau gue menulis cerita itu sesuai dengan apa yang sedang gue resahkan atau mungkin gue pertanyakan. Banyak yang bilang statemant soal kalau menulis itu harus resah, berarti kalau kita nggak resah kita nggak bisa nulis dong? Menurut gue lagi, nggak, buat gue manusia terlahir dengan keresahan setiap detiknya, sadar atau nggak hal sederhana kadang kita resahkan. Kita ambil contoh cerpen gue yang “Kepada Jodoh”, waktu itu gue meresahkan soal:

Kenapa perempuan itu bisa masuk ke lubang yang sama bernama cinta padahal dia sudah disakiti berkali-kali, dan kenapa laki-laki yang belum pernah jatuh cinta harus merasakan yang namanya cinta. Kita dapet point utamanya, cinta adalah magnet yang sama yang membuat manusia wajib masuk ke dalamnya. Setelah menjabarkan keresahan, lalu menemukan point utamanya, biasanya gue akan mulai mencari kesimpulannya. Kesimpulannya “Cinta itu seperti the black hole (lubang hitam yang ada di semesta) karena dia akan membawa kita ke berbagai dimensi perasaan dan pikiran yang kita tidak pernah ada disana. Bisa sedih, bisa senang atau stress dan akhirnya bunuh diri.

Jadi cari apa yang sedang kalian resahkan atau pertanyakan lalu gali lagi lebih dalam dan buat ide itu menjadi sebuah cerita yang panjang.

 

  1. Alur Cerita dan Karakter Yang Kuat

Setelah dapet ide ceritanya masuk ke pembuatan alur cerita dan karakter. Usahakan kalian bisa membuat alur dan karakter yang kuat. Alur yang kuat itu kayak apa, Raditya Dika pernah bilang dalam skenario ada yang namanya log in. Log in adalah intisari cerita film dari satu atau dua kalimat. Rumusnya: Karakter – Tujuan – Halangan. Untuk membuat alur yang kuat usahakan tujuan dan halangannya balance satu sama lain, maksud gue adalah nggak berat sebelah dan masih ngimbangin si karakter juga, alur cerita kuat itu bisa membawa penonton merasa kalau mereka juga ada didalam cerita.

Karakter, usahakan membuat karakter kalian itu seperti cermin penonton. Mereka akan senang atau akan terbawa secara otomatis ke dalam cerita ketika dia menyadari bahwa karakter yang kalian buat menyamai mereka. Jadi usahakan buat karakter yang bersifat cermin (membuat penonton merasa kalau “karakter ini gue banget deh”)

 

  1. Proses Penulisan

Setelah semuanya sudah siap, masuk ke proses penulisan. Di proses penulisan biasanya gue membagi cerita itu per-squence, atau kalau dalam buku itu per bab. Untuk film pendek biasanya gue pakai Cuma 6 squence aja, satu di depan, empat di tengah dan satu lagi di belakang. Kenapa yang tengah lebih banyak, karena di tengah adalah dimana pusat konflik terjadi dan si karakter menemukan jalan keluar dari masalah yang ada, setelah seperti itu gue akan membagi tiap squence itu per babak.

Act 1 – awal/pertemuan

Act 2 – pusat konflik/pemecahan masalah

Act 3 – akhir/ending ceritanya

Setelah dari situ, baru gue mulai menulis. Biasanya gue menulis skenario di Final Draft. Gue tulis semuanya di sana, sampai nggak ada yang kesisa satupun. Sampai pada akhirnya skenario itu selesai di tulis.

 

  1. Development Skenario

Setelah dari proses penulisan, belum berakhir sampai situ. Skenario yang udah kalian tulis biasanya akan di Development ulang untuk mendapatkan cerita yang lebih menarik lagi. Eittss, jangan takut sama bagian yang satu ini, yang dikritik adalah ceritanya bukan cara nulis kalian yang masih jelek atau kurang menawan. Banyak orang yang melewatkan fase ini dan langsung shooting sehingga terjadi miss di lapangan. Karena itu men-Development ulang skenario adalah cara untuk memperbaiki nya bersama. Kalau di PH-PH besar, biasanya yang Development adalah Produser, Sutradara,  dan Penulis Skenario. Tapi khusus gue, setiap tulisan yang mau gue posting di inspirasi.co atau naskah buku yang gue buat atau skenario yang gue buat, gue punya tim pribadi untuk Development skenario itu bareng-bareng.

Di tahap ini, semakin banyak gagasan masuk, semakin bagus, dengan catatan masih nyambung dengan cerita awal yang kalian buat.

 

Gue kira segitu aja dulu, ini beberapa langkah yang mungkin gue permudah agar kalian tahu aja proses penulisan nya kayak apa, kalau di gali lagi mugkin bisa 10 halaman lebih gue nulis. Mungkin nanti gue akan buat versi videonya.  Basicly ini adalah cara gue nulisnya, tapi kalau kalian mau mengembangkannya lagi juga bisa atau mencari sumber lain dan menyatukan dengan punya gue juga bisa. Khusus gue, karena kadang gue nulis skenario nya sendiri, men-Direct juga, dan meng-edit videonya sendiri. Gue biasanya nggak akan terlalu detail nulis di skenarionya, yang penting aktor dan aktris yang meranin paham. Karena gue udah paham ceritanya jadi nggak perlu terlalu detail, biasa Penulis + Videographernya langsung. *Ciegitu :D

Saran gue, kalau misalnya kalian nulis untuk sutradara lain, berusahalah untuk membuat detail skenario kalian lebih rapih, sedikit miss maka akan timbul sedikit perdebatan aja, sedikit sih, tapi kan yang namanya jaga-jaga.

Saran terakhir, buat kalian yang sedang menulis, atau membuat video atau lagu atau karya apapun. Kritikan itu akan selalu ada, tapi jangan jadikan kritikan itu sebagai bentuk ketidaksukaan orang, tapi jadikan itu sebagai bahan perbaikan diri, buat gue karya yang baik adalah karya yang sering dikritik dan akhirnya tumbuh menjadi karya yang apik dan enak untuk di nikmati. Kalau misalnya nggak ada yang kritik, kritik aja sendiri. *Ciegitu.

Udah sekian aja, ini sedikit aja dari gue, mungkin kedepannya gue akan nulis soal Tutorial lagi, tapi beda tema pastinya, kecuali ada request untuk buat soal Skenario lagi. *Kokngarep.

Udah gitu aja, sekian.