Prolog

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

5.3 K Hak Cipta Terlindungi
Prolog

“Friendship is a giving someone to destroyed you, but trusting them not to..” – Fahd Pahdepie

Hidup adalah soal bagaimana kita menemukan, perjalanan yang mungkin sangat tidak masuk akal datang dengan cara yang juga tidak masuk akal. Aku masih terduduk diam di cafe dekat kampusnya, dengan foto jaman SMK yang dia bawa kemana-mana, terlihat jelas tujuh orang tertawa di sana, sambil berpelukan dan berpegang tangan dengan satu keyakinan. Waktu mengajarkanku sesuatu, manusia adalah sebuah titik antara yang menyebabkan semesta berotasi secara otomatis dan membuat sebuah pertemuan atau perpisahan. Yang dimana kita selalu berada didalamnya, bahkan kita adalah penyebab semua kejadian ini berasal, dengan campur tangan Tuhan tentunya. Kita tidak pernah tahu dititik mana pertemuan akan terjadi, dan dititik mana perpisahan akan terjadi.

---

Aku masih terdiam menatap foto itu, perlahan tapi pasti bayanganku terbang kemanapun pikiran ini pergi. Seperti daun yang tertiup angin, terbawa angin dan hilang entah kemana. Masa ketika pertemuan adalah awal yang indah dari sebuah perjalanan. Namun, kadang perpisahan menjadi sebuah momok menakutkan yang membawa manusia jatuh terjerembab menuju lubang kematian tanpa dasar. Menangis berhari-hari dan akhirnya bunuh diri, betapa dahsyatnya kekuatan perpisahan yang mampu membuatnya menjadi sedemikian rupa menakutkan.

 

Kapan pulang?

 

Aku masih mengingat sms itu, sms yang dikirimkan seorang perempuan berkerudung merah muda waktu itu. Aira, seorang perempuan yang aku cintai lewat sebuah tali persahabatan, waktu mengubahnya menjadi butiran keindahan ketika matanya yang sayu menatapku dengan lembut, aku masih mengingat senyumnya, senyum yang membuatku yakin bahwa cinta memang diciptakan untuk membuat semuanya jauh lebih indah.

Aku menghela napas dan menutup foto itu, lalu memasukkannya ke dalam tas, suasana kota Melbourne menjadi sangat asing bagiku, aku mulai berdiri memanggil taksi lalu pergi dari suasana kota yang cukup asing. Dan terus menatap sebuah undangan pernikahan yang dikirimkan langsung dari Indonesia.

“Where are you going, sir?”

Aku tersenyum  sambil terus menatap undangan pernikahan itu. “Airport.” Kataku lemas.