Diary Soal Indonesia

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Diary Soal Indonesia

Apa?

Kalian menunggu ceritaku selanjutnya?

Aku hanya ingin diam, tidak bersuara. Aku hanya ingin menghirup udara perlahan tapi pasti membuat semuanya baik-baik saja. Aku tak bisa menulis malam ini, aku sedang gelisah, bukan soal cinta, aku mempunyai perempuan yang mencintaiku seutuhnya dengan segala kekurangannya, aku menyebutnya ibu. Aku gelisah, bukan juga soal pekerjaan, aku mempunyai sebuah Studio Design di Jalan Margonda, dan aku CEO-nya.

Aku sedang gelisah, soal generasi kita yang semakin lama semakin menjadi-jadi, terakhir di berita kemarin aku melihat puluhan anak SMP memakai narkoba jenis narkotika di rumah temannya, mereka berpesta. Merayakan semua kepura-puraan dunia, aku menaikkan kedua alisku dan tersadar bahwa sebenarnya kita telah buta, sebagai orang tua maupun generasi yang telah melewati fase remaja, kita telah buta. Aku benci mengatakannya tapi dari semua yang kulihat indonesia telah menciptakan generasi yang terlalu patuh, hal yang aku maksud adalah TERLALU PATUH. Aku ulangi lagi perkataanku, terlalu patuh membuat generasi kita menjadi chaos dan tidak berani berpikir berbeda, mereka perlahan hanya mengikuti peradaban mungkin sampai mereka mati. Terlalu patuh, membuat mereka tidak bisa berbicara berbeda, berpikir berbeda dan melakukan sesuatu secara berbeda, mereka hanya ikut-ikutan. Karena berbeda artinya salah di mata kebanyakan orang.

Indonesia adalah negara demokrasi, kita bebas berpendapat, tapi bagiku kebebasan berpendapat di sini berfungsi hanya untuk mereka yang sependapat dan satu gagasan aja. Bagi mereka yang tidak sependapat dan berkata berbeda, musnah aja udah. Nggak ada kesempatan bagi mereka yang membuat jalan yang berbeda. Indonesia, negara yang lucu, negara yang membuatku sering tertawa sinis. Banyak hal aneh yang aku rasakan di negara ini, rakyat yang terus menerus menyalahkan pemerintah.

“Pak kenapa rumah saya banjir.”

“Pak kenapa hutan kami kebakaran.”

“Pak kenapa anak saya kekurangan gizi.”

“Pak kenapa berat badan saya naik.”

Lucu, kan? Memang sepenuhnya salah pemerintah sampai membuat hutan terbakar? Apa sepenuhnya salah pemerintah membuat suatu daerah banjir? Memang apa salah pemerintah membuat badan kalian naik? Apa coba.

“Mereka makan uang negara, pemerintah macam apa, pemimpin macam apa yang seperti itu. Tidak layak untuk menjadi panutan.”

Itu yang orang-orang katakan, lucu kan? Lucu, jelas. Padahal pada kenyataannya kita yang memilih mereka, kita sering teriak pemerintah nggak adil, tapi kita nggak sadar kalau kita yang memilih mereka, lalu protes macam apa ini? Perlu di ingat mengkritik pemerintah yang kita pilih di pemilu itu boleh, karena kita memilihnya ketika dia melakukan kesalahan kita wajib mengkritiknya. Tapi membuat seakan-akan mereka menjadi terlalu salah itu juga nggak baik, tugas memajukan negara kan bukan hanya tugas mereka.

Itu yang aku sebut sebagai kebodohan massal, kebanyakan kita memilih calon presiden, gubernur atau walikota berdasarkan sembako yang mereka sumbangkan untuk kita ketika mereka kampanye, uang yang mereka berikan tepat di waktu shubuh kepada kita sebagai bahan kampanye. Licik, tapi berguna. Padahal pada kenyataannya kalau kita telaah lebih dalam, fungsi kampanye ada untuk membuat rakyat percaya dengan visi yang sudah si calon berikan. Bukan sebuah pesta pembagian sembako. Mungkin dia baik, membagikan sembako dan uang pada rakyat kecil tapi itu bukan hal yang serta merta membuat kita memilihnya, dia akan memimpin selama 4 tahun jika terpilih. Tidak mungkin dia akan memberikan sembako dan uang setiap hari, kan?

Kalian paham arah pembiacaraanku?

Aku hanya sedang diam, tidak berbicara apa-apa. Aku hanya melihat diriku sendiri di depan cermin dan bagaimana generasi ini bertumbuh. Pandji Pragiwaksono pernah bilang. “Indonesian its not a poor country, its a rich country but a poorly manage.” Itu bener, banyak dari kita yang berkata pemerintah nggak bisa membuat perubahan, banyak dari kita yang bilang janji-janji pemerintah basi dan tidak pernah menjadi nyata. Kita selalu menyalahkan pemerintah, padahal kita hidup di negara yang sama, kita juga wajib membangun indonesia menjadi lebih baik. Wajib, kita adalah penggerak buat indonesia semakin maju lagi. Kita nggak bisa serta merta bilang pemerintah kerjanya lelet, pemerintah udah buat aturan, pemerintah sudah mengupayakan. Kita aja yang nakal, buat apa disediakan tempat sampah tapi masih ada yang buang di jalanan? Permerintah sudah berperan dalam perubahan indonesia, tapi sadar atau nggak, kita yang perlahan membuat pemerintah seakan-akan menjadi penyebab dari semua kerusakan ini, padahal nggak sepenuhnya.

Aku teringat pesan Ayah 4 bulan sebelum dia meninggal.

---

Bandara adalah tempat paling menyedihkan untuk berpisah, tapi tempat paling membahagiakan untuk menyambut seseorang kembali. Aku masih menunggu Ayah yang baru saja pulang dari New York untuk suatu pekerjaan, ramai sekali orang hari itu, aku tak melihat wajah Ayah. Tapi di ujung pintu masuk, sebuah topi berwarna biru bertuliskan Captain America yang aku berikan ketika dia ulang tahun terlihat begitu jelas, seketika aku sadar dia adalah ayah. Aku melambaikan tangan dari jauh sambil berteriak. “Ayah!”

Dia masih linglung, mencari asal suaraku, tapi lambaian tanganku terlihat dengan cukup baik. Dia berjalan ke arahku sambil tersenyum, aku membalas senyumnya. Satu tahun, adalah waktu yang cukup lama untuk seorang anak berpisah dengan ayahnya. “Kamu lama banget.”

“Aku udah nunggu dari tadi kali Yah.”

Ayah tertawa kecil. “Iya ya, ayah yang telat. Pesawatnya tuh landing nya lama, masa diajak muter-muter dulu liat awan, service tambahan katanya.” Candanya padaku.

Aku tertawa, candaan yang sudah lama tidak ku dengar dari ayah. “Kemarin aku naik taksi di ajak dorong sama dia. Lupa beli bensin katanya.” Ayah yang tertawa kali ini.

Didalam mobil aku memutar sebuah lagu nasional, sebuah lagu yang menjadi favorite-ku, kalau boleh lagu ini dijadikan bergenre EDM mungkin akan banyak diminati para anak muda. Tanah Airku, ayah adalah seorang Director film handal, beberapa film yang ia buat berhasil menduduki bangku-bangku Box Office. Dia sering di undang ke dalam acara-acara seminar tentang film dan kreatifitas, begitupun yang ia lakukan di Amerika serikat selama 1 tahun ini, bukan hanya membuat film tapi dia juga baru mengisi beberapa acara seminar di keduataan besar Indonesia yang ada disana.

“Gimana yah shootingnya disana?” Tanyaku pada ayah, ayah terdiam tak menjawab apa-apa. Aku mengulang pertanyaanku. “Gimana yah shootingnya disana?” Dia tetap terdiam, bahkan kali ini dia memejamkan mata. Aku mulai maklum, efek Jet Lag mungkin, tapi tidak sampai membuat seseorang menjadi tidak mendengar, kan? Sudahlah, aku fokus kembali pada jalanan. Di dalam mobil sunyi, tak ada suara apapun hanya ada suara lagu yang tadi masih kuputar. Tiba-tiba sesuatu bunyi memecah keheningan dan membuatku keheranan. Ayah bersenandung.

 

“Walaupun banyak negeri kujalani

Dan mahsyur damai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku, disanalahku rasa senang

Tanahku yang kucintai.... Engkau ku hargai.”

 

Aku berdehem. Ayah tersadar dari senandungnya. “Serius banget sih yah nyanyinya, kayak lagi pentas aja.”

Ayah tersenyum. “Kamu tahu nggak ayah tuh suka lagu ini, sama kayak kamu.” Aku tertawa kecil, senang rasanya selera kami berdua sama soal lagu, walaupun lagu nasionalis. “Ayah kangen semua ini, padahal baru satu tahun ninggalin Indonesia, rasanya semakin ayah pergi jauh, semakin ayah cinta dan kangen sama indonesia.” Jelas ayah.

Aku masih fokus pada setir mobilku. “Yah indonesia jaman sekarang berbeda sama Indonesia jaman dulu, jaman sekarang apa yang mau dikangenin? Generasinya udah chaos, kalau generasi dulu hebat-hebat, mereka berhasil membuat kemerdekaan. Tapi sekarang apa yang sudah dihasilkan? Pemerintahnya juga sama-sama chaos.”

“Indonesia tuh memang nggak sempurna Dimas.”

“Terus?”

Ayah menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan. “Indonesia itu adalah sebuah kapal, yang dipimpin oleh kapten bernama presiden, dan kita rakyat adalah awak yang membantu kapal itu berjalan. Ada yang bertugas mengangkat jangkar, ada yang bertugas menaikkan layar, ada pula yang bertugas mencari arah tujuan di kompas.”

“Terus?”

“Membuat indonesia maju bukan hanya tugas seorang pemimpin, sekarang ayah tanya waktu jaman perjuangan pemimpin indonesia siapa?”

“Soekarno kan?”

“Bukan, Seokarno dipilih menjadi presiden ketika dia selesai membacakan proklamasi.”

“Terus?”

“Ya nggak ada, waktu itu Soekarno masih seorang rakyat, tapi bayangkan bagaimana mereka bersatu padu membuat sebuah strategy untuk membuat Belanda kabur dan pada akhirnya lahir sang bendera merah putih yang didapat hasil merobek bendera Belanda.” Kata Ayah. “Tugas memajukan negara, bukan hanya tugas pemerintah, memajukan neraga juga tugas kita, kita tinggal di negara yang sama, kalau yang berjuang hanya presiden hancur semuanya. 255,5 juta orang rakyat indonesia, masa satupun nggak ada yang membuat perubahan.”

Aku terdiam, hanya menyimak ayah berbicara. Ya, hanya menyimak.

“Ah perubahan kayak apa? kita kan nggak bisa mengendalikan negara. Memang kalau membuat perubahan harus jadi pemerintah dulu? Itu kan salah, lewat film, buku atau karya apapun kita bisa membuat perubahan untuk indonesia, satu langkah kecil untuk memajukan negeri” Tutup ayah.

Aku tersadar hari itu, tentang sesuatu. Ya, tentang Indonesia.

---

Indonesia itu nggak sempurna tapi dia layak diperjuangkan” – Pandji Pragiwaksono

Pandji pernah mengatakannya, itu benar. Indonesia memang tidak sempurna, dari pemerintah dan sistemnya, anak-anak yang kehilangan akal akhirnya jatuh dan berujung pada tawuran dan narkoba, postisusi yang menjalar ke berbagai daerah. Tuduhan sana-sini soal perbedaan agama.

Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan pemerintah, menaikkan jangkar dan layar. Sudah saatnya kita bergerak. Aku nggak tahu rencana kalian kedepannya apa, tapi mari kita sama-sama memajukan indonesia, sama-sama membangun indonesia, menjadikan negara sendiri mandiri dan membuat perubahan perlahan tapi pasti.

INDONESIA MEMANG TIDAK SEMPURNA TAPI DIA LAYAK UNTUK DIPERJUANGKAN.