Catatan Harian Sekolah

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 07 Agustus 2016
Catatan Harian Sekolah

Catatan Harian Sekolah


Sebuah tulisan soal sekolah, sebuah kenangan soal masa-masa SMK. Semoga biasa tersampaikan dengan baik; soal cinta, teman, sahabat, guru dan juga sekolah itu sendiri. Segera datang novelnya...

Kategori Cerita Pendek

3.1 K Hak Cipta Terlindungi
Catatan Harian Sekolah

“Nah ini baru bagus!” Teriak Kang Reza sambil membanting naskah gue yang dia pegang.

Gue terdiam, biasa aja nggak menemukan dimana kebagusan yang dia bilang.

“Seharusnya kamu ngelakuin ini dari dulu, kenapa nggak kepikiran buat tulisan kayak gini dulu?” Tanya Kang Reza sama gue.

“Ya, waktu itu memang nggak punya bahan buat ditulis aja Kang. Maaf kalau naskahnya juga molor sampai 2 tahun begini, banyak masalah yang harus aku selesain dulu.” Kata gue lembut sama Kang Reza.

Kang Reza menatap gue lekat, sambil perlahan menyodorkan naskah gue. “Si Bayu kenapa dia pergi? Padahal dari beberapa tahun saya lihat kalian selalu bareng-bareng dari dulu. Nggak pernah berantem, sekalinya berantem juga soal taruhan siapa yang paling ganteng.”

“Dia katanya mau kuliah di Sydney. Nggak tahu juga sih berhasil atau nggak, tapi aku masuk UI aja udah seneng banget Kang.” Jawab gue sekenanya.

Dia mengangguk, sambil perlahan tersenyum sama gue dan disitulah gue tersenyum sama dia. Katanya naskah gue akan diterbitkan beberapa bulan kedepan. Gue nggak terlalu banyak banget berharap sama dia sekarang, tapi apa boleh buat dia orang yang selalu merevisi semua tulisan-tulisan gue, dan dia juga yang memberikan gue kesempatan biar gue jadi seorang penulis. Gue masuk FIB Universitas Indonesia, Bayu bener-bener berangkat ke Australia untuk kuliah disana, Freyna dia masih sama gue hubungan kami bertahan cukup lama. Hampir satu tahun berlalu ketika gue nembak dia.

Nina, gue nggak tahu kabarnya dia sekarang tapi dari sedikit info yang gue dapet dia kuliah di Unindra Fakultas Pendidikan Matematika sama Yasmin, gue rasa selamanya dia bakalan tetep kekeh sama apa yang dia mau. Roy, teman baik gue juga, dia sekarang jadi anak Jurnalistik, semua hal yang bersinggungan sama dia pasti semuanya soal gosip-gosip dan berita soal bencana alam, gue selalu berasa news anchor kalau lagi deket sama dia.

Waktu ngajarin gue banyak soal perpindahan, soal bagaimana kita merasa benar-benar berbeda ketika berusaha untuk kembali ke tempat yang lama. Sekolah, ya buat gue rumah kedua gue dulu sekarang udah jadi beda, pondasinya udah diganti dengan yang lebih baru, gerbangnya sekarang sudah di berikan warna hijau, lapangan mulai di perluas, guru-gurunya pun perlahan mulai berganti satu-persatu. Gue nggak tahu kapan bisa mengalami masa-masa yang sama lagi ketika sudah berada diluar sekolah kayak gini, sudah lulus dan menjadi orang yang paling penting di kalangan penulisan, tapi gue tahu satu hal tanpa mereka gue bukan apa-apa. Jadi nggak ada satupun alasan gue buat ngelupain mereka.

Gue sempet nyimpen sms terakhir Bayu sebelum dia pergi ke Sydney dia bilang...

 

Gue nggak tahu bakalan balik kapan, gue nggak tahu juga nanti kalau gue balik gue masih inget muka lo atau nggak, karena gue tahu 4 tahun bukan waktu yang sebentar juga, bisa aja lo udah punya anak ketika gue balik kesini ataupun ketika gue mau main untuk sekedar nanya kabar sama lo. Kita tahu Fa, setiap pertemuan akan ada perpisahan, harus ada yang ngalah satu sama lain, sama kayak hujan yang ngalah sama cahaya yang menjadikannya pelangi. Kita masih sahabat, warna pelangi kita belum ada yang luntur, sampaikan salam gue sama Yasmin, Nina, Roy sama yang lain kalau bisa sama Intan. Tapi barangkali telat,kita bakalan ketemu lagi Fa, dalam waktu dekat ataupun dalam waktu yang gue nggak bisa pastiin juga kapan. Sampai ketemu lagi.

Bayu...

 

Gue nggak bales pesan Bayu waktu itu, karena dia pasti tahu kalau gue lagi nggak ada pulsa waktu itu, tapi satu hal yang pasti perlahan semuanya terasa berubah. Perlahan.

---

“Kenapa dari tadi diem aja sih?” Tanya Freyna sama gue.

“Eng-Enggak aku lagi mikir aja.” Jawab gue singkat.

“Mikir apa?”

“Kenapa hal-hal yang kita tinggalin malah perlahan berubah menjadi lebih baik ketimbang waktu kita masih disana?”

“Kok kamu mikir gitu?” Tanya Freyna sambil memakan french fries yang dia pesan disalah satu kafe di daerah tangerang selatan.

“Ya semenjak kita ninggalin sekolah aku ngerasa banyak yang beda aja, kayak semuanya kok malah berubah jauh lebih berbeda daripada waktu kita masih disana. Kamu pernah mikir kemana sahabat-sahabat kamu sekarang?” Tanya gue sama dia perlahan.

Dia terdiam, masih memakan french fries yang sedari tadi berada di ujung tangan kanannya. Malam itu nggak ada lagi hal-hal paling menyedihkan selain pertanyaan gue sama Freyna. Dia mulai membenarkan posisi duduknya, kemudian membenarkan kancing jaket yang gue beli buat dia waktu itu. “Aku nggak tahu mereka kemana.” Katanya masih fokus dengan kancing jaketnya. “Aku nggak pernah tahu juga sih mereka inget atau nggak sama aku, tapi waktu itu memang aku yang mutusin buat ninggalin mereka, sama kayak kamu waktu ninggalin sebagian sahabat kamu buat jaga perasaan aku. Kayak gitu juga aku ninggalin mereka, buat bikin keadaannya jauh lebih baik.”

Gue terdiam.

“Rafa, barangkali kegelisahan kamu ataupun kekosongan kamu soal kenangan-kenangan di sekolah, tentang guru, sahabat, teman, soal kamu suka sama Nina. Aku maklum, karena dulu kamu punya perasaan sebelum sama aku, tapi mungkin kita harus bertanya ulang deh soal semua kegelisahan itu.” Jelasnya.

“Apa?” Sambil menaikkan kedua alis gue mulai heran.

“Ya kembali lagi bertanya dalam-dalam, kita yang berubah atau mereka yang berubah. Kadang kita kehilangan sebagian kenangan kita bukan karena mereka yang berubah terlalu sibuk atau sekolah menjadi lebih baik dari sebelumnya, tapi kadang semuanya malah selalu terpaku sama sudut pandang kita. Jangan-jangan bukan mereka yang berubah, tapi kita yang berubah.” Tutup Freyna malam itu.

Gue mulai berpikir bagaimana seseorang berubah, bagaimana waktu mengajari mereka tentang banyak hal. Manusia diciptakan dengan sikap masing-masing, kadang mempunyai kelebihan yang hebat tapi kadang kelemahan yang dia punya adalah yang paling membuat dia tersingkir. Freyna bener jangan-jangan gue yang udah berubah bukan mereka.

“Kita bakalan berubah nggak ya?” Tiba-tiba seru gue sama Freyna.

Dia menatap gue lekat, kemudian mengambil telepon genggam milik gue dan mulai membuka kuncinya. “Buat apa?”

“Pasti semua manusia bakalan berubah Frey.” Jawab gue.

“Kamu mau aku berubah?”

Gue mengangguk.

Dia tersenyum tiba-tiba lalu memegang tangan gue lembut. “Buat apa? Kalau yang saat ini kita udah seneng dan bahagia buat apa berubah. Biarin Sang Waktu yang ngasih kita petunjuk buat berpisah atau nggak, perubahan bakalan ada kalau kita mau menerimanya, kan? Kita nggak akan berubah, aku ataupun kamu. Kita bakalan berkembang sama-sama, jadi lebih baik.”

Gue tersenyum

Dia tersenyum

Waktu seakan menjadi lebih lambat, mungkin banyak yang berubah. Antara gue dan lingkungan gue, akan ada masanya setiap perubahan menjadi momok paling menakutkan dalam hidup, tapi inilah hidup. Tanpa perubahan itu kayak malam tanpa bintang, bulan tanpa sinar, matahari tanpa siang, bumi tanpa gravitasi, petir tanpa hujan. Nggak ada satupun yang beruhubungan, tapi kita manusia selalu berhubungan dengan aliran waktu bernama perubahan, sampai kapanpun kita bakalan hidup berdampingan dengan perubahan-perubahan itu.

---

Sekolah, buat gue itu adalah rumah kedua sekaligus tempat paling aman setelah rumah pertama. Sekolah, buat gue adalah pertama kalinya gue mengenal yang namanya cinta, yang namanya tawuran, disana gue pertama kalinya menjadi nakal. Gue ketemu teman-teman baru setiap tahunnya, kelas menjadi saksi bisu bagaimana cara gue mengakrabi mereka yang terlalu keren buat jadi temen gue.

Sekolah adalah tempat paling asik tapi sekaligus paling menyebalkan se-dunia. Kadang disekolah kita pertama kalinya di jahilin, pertama kalinya di bully, pertama kalinya mendapatkan panggilan baru seperti polem, cenang, hobbit, pendek, kampret, atau apapun yang mewakili diri kita masing-masing. Sekolah buat gue tempat pertama gue ribut sama seseorang karena masalah cewek, disekolah juga adalah tempat pertama kalinya gue ketemu cinta pertama dan jatuh cinta diam-diam sama Nina. Di tempat ini juga gue pernah punya temen paling aneh sedunia, temen yang barangkali jadi selalu bertingkah konyol di depan gue saat gue murung tapi selalu menjadi orang paling bijak menyebalkan saat gue seneng.

Sekolah, pertama kalinya gue suka sama tingkah lucu guru matematika, pertama kalinya gue disuruh mengulang kembali perkalian 1 sampai 10 Cuma agar guru matematika baru waktu itu melihat gue pintar, padahal setengah mati bego nya gue sampai harus ngulang perkalian 1 sampai 10. Jujur, gue pernah suka sama guru Bimbingan Konseling SMP, gue suka sama dia karena dia cantik dan menawan, dia selalu berkata manis, dan selalu mengajar dengan kelembutan yang sangat lembut. Disitulah semuanya berawal, sekolah, tempat paling pas merangkai masa depan. Di sekolah, kita selalu mengukir dinding-dinding kelas dengan angan-angan kita yang perlahan hilang seketika, sementara semuanya semakin maju, dan kita sibuk melamun di pojok tembok sekolah.

Kadang. Sekolah menjadi tempat paling menyedihkan yang pernah gue tahu. Jam pelajarannya juga kelebihan muatan, kadang ketika pulang sekolah masih ada aja pelajaran tambahan, masih ada aja les ataupun privat soal-soal pelajaran yang di UN-kan. Bahkan hafalan udah jadi tugas rutin setiap harinya Cuma agar otak gue dan teman-teman terisi sama semua itu. Menyedihkan, generasi yang seharusnya bisa berkontribusi banyak secara perlahan di rusak dengan sistem yang juga kopong, kayak nggak punya pondasi sama sekali.

Di atas semua itu seharusnya orang berpikir kembali ketika memasuki sekolah baru, cocok atau nggak sekolahnya untuk mereka. Tapi tetep sekolah buat gue rumah kedua, tempat gue pulang, tempat gue pertama kalinya mempunyai sahabat dan pacar. Tempat paling indah, paling menyejukkan, tempat paling membahagiakan.

Sekolah barangkali akan selalu mengalami perubahan, tapi gue akan tetap seperti ini. Menjadi orang yang benar-benar tumbuh dengan ilmu-ilmu yang gue dapet dari sekolah dulu untuk kemudian gue pakai saat berada di masa depan nanti. Dan ketika gue menuliskan catatan ini barangkali banyak yang bilang gue dramatis ataupun melankolis. Tapi yang gue tahu dari semua hal.

Barangkali banyak yang akan kita lupakan ketika kita pergi dari sekolah, tapi tak bisa kita pungkiri akan banyak hal juga yang menjadi kenangan paling manis dan membahagiakan saat kita berada disana.

---

“Kamu habis darimana?” Tanya Nyokap ketika gue beranjak dari pintu rumah ke ruang tamu.

“Habis makan sama Freyna sekalian ketemu penerbit Mah.” Sahut gue sambil menjatuhkan diri ke sofa.

Nyokap menyiapkan makanan buat gue dan keluarga untuk makan malam, waktu seakan menjadi lebih cepat dari biasanya, keponakan-keponakan gue yang dulunya nggak bisa ngomong sekarang udah lincah banget, Nyokap yang dulunya gesit sekarang udah mengurangi kegesitannya karena umur yang semakin menua, Kakak laki-laki gue sekarang udah makin tua dan menjadi bapak dari dua orang anak. Dan gue, bocah baru lulus sekolah yang mepertanyakan soal kenangan-kenangan di sekolah.

“Kamu nulis apa kali ini?” Tanya Nyokap lembut sambil menyiapkan piring di meja makan.

“Soal sekolah Mah.”

Nyokap langsung keheranan sama pernyataan gue. “Maksudnya soal sekolah?”

“Iya soal sekolah, soal semuanya. Habis aku bingung aja kenapa kalau kita habis lulus dari sekolah tempat kita belajar dan menjadi rumah kedua kenapa pas kita kembali lagi buat sekedar bertemu kembali sama keadaan lama semuanya berubah dan terasa beda.” Kata gue menjelaskan.

“Itu wajar kali Rafa.” Sahut nyokap sambil bolak-balik ke dapur untuk mengambil semua lauk-pauk malam ini. “Setiap kejadian, tempat, orang, masa lalu, kenangan, atau apapun itu yang kamu lewatin di masa lalu kamu sampai akhirnya kamu bisa sampai sini sekarang ya pasti akan berubah perlahan, nggak akan sama lagi rasanya.”

“Kok gitu?”

Nyokap berhenti sejenak, kemudian perlahan menatapa gue dan gue juga ikutan menatap nyokap. Dia tersenyum lalu bilang. “Itu namanya proses.” Lalu nyokap berlalu ke dapur lagi.

“.......”

Proses.

Ruangan menjadi sangat hampa, malam seakan menjelma menjadi perasaan asing yang kita tidak bisa menerimanya, lampu seakan berkedip, jam dinding menjadi lebih lambat dalam satuan waktu, ada sesuatu yang masih di pertanyakan, ada sesuatu yang masih di pertimbangkan, ada langkah yang masih tertatih, ada sesuatu yang terjawab.

---

Beberapa tahun berselang gue balik lagi ke sekolah, sekedar menengok keadaan. Gue inget pertama kalinya kami di bariskan dalam satu lapangan saat pembagian kelas pertama kalinya. Gue inget ibu kantin yang dengan segala kebawelannya saat menagih hutang.

Gerbang menjadi lebih berkarat dari seharusnya, poster-poster soal pentas seni yang di perankan angkatan setelah gue mulai beredar di lorong-lorong sekolah. Guru-guru yang dulunya single dan belum sama sekali mempunyai anak, kali ini berubah perlahan satu persatu dari mereka menikah, menemukan pelabuhan terakhir yang membuat mereka menemukan termpat perpijakan terakhir. Kepala sekolah mulai berganti setiap beberapa tahun sekali, tergantung kinerja dan dedikasi yang ia buat untuk sekolah. Perlahan office boy sekolah bertambah dua orang, dan sekarang satpam sekolah berganti dengan yang lebih kekar.

Kelas, menjadi sangat tidak nyaman, menjadi sangat sepi. Lucu ya, teman-teman yang dulunya bermain bersama, tertawa bersama, dan sedih bersama sekarang malah berpisah entah kemana. Ada sesak yang tertinggal ketika gue melihat kembali kelas yang sekarang menjadi ruangan untuk Osis, semuanya berubah. Gue tahu sebagian dari mereka dimana, tapi gue nggak tahu sebagian dari mereka pergi kemana, kemungkinan mereka berkuliah di tempat yang gue nggak tahu namannya apa. Ada gitar tua yang berada di sudut ruangan, gue inget pertama kalinya gue nunjukin ke yang lain kalau gue bisa main gitar adalah di kelas ini. Gue inget disini adalah tempat Bayu dan yang lain menciptakan lagu, lagu yang barangkali gue nggak boleh tahu. Karena waktu itu Bayu bilang “Lagu ini rahasia, lagu kelas, jadi kelas gue doang yang boleh denger.” Ngeselin sih tapi itu jadi kenangan yang wajib buat gue inget.

Gue duduk di meja paling depan dan berusaha membayangkan teman-teman yang dulunya bersenda gurau bersama kali ini malah sekedar menjadi ruangan sepi tak berpenghuni. Mungkin ketika gue menuliskan catatan ini sebagian dari mereka sedang sibuk mengejar masa depan mereka masing-masing, tapi satu hal yang pasti. Gue selalu menyebut ini catatan harian sekolah, hanya agar gue bisa inget semua moment yang pernah gue rasain di sekolah. Ya, Cuma biar gue bisa inget mereka, teman-teman dan juga guru-guru yang membuat semuanya terlihat lebih baik.

---

“Udah selesai?” Tanya Freyna perlahan sama gue.

Gue mengangguk lemas.

“Beneran?” Tanyanya lagi. “Mau aku temenin lagi jalan-jalannya? Ketemu bu Hibah atau siapa nggak tadi?” Lanjutnya bertanya sama gue.

“Nggak, aku nggak ketemu siapa-siapa.” Jawab gue singkat.

Dia terdiam beberapa saat, menatap gue lekat. Lalu dia tersenyum “ Yaudah, Ayo katanya mau ke talkshownya mas Fahd Pahdepie? Keburu telat loh, ini udah jam 3 sore.” Serunya.

“Iya.” Sambil mengendarai sepeda motor yang sejak SMK gue bawa buat membonceng Freyna, sekarang mulai agak lebih baik.

Sekolah, semuanya Cuma antara gue dan waktu. Semuanya berpisah, semuanya berubah. Gue, Bayu, Nina, dan beberapa teman-teman yang lainnya termasuk guru. Mungkin memang sudah garis besar kehidupan manusia dipisahkan dengan cara yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya, mungkin sudah cara paling bahagia ketika Tuhan menghendaki manusia untuk memilih perubahannya sendiri. Dan gue, terus berpegang pada perubahan-perubahan itu.

Tentang sekolah, ada persahabatan yang tertinggal, ada cinta yang diam-diam pergi, ada ilmu yang perlahan berkembang, ada guru yang senantiasa bertahan, ada sistem yang sama, ada jalan yang tak terlihat, ada sesuatu yang selesai.