Cinta Yang Biasa-biasa Saja

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Agustus 2016
Cinta Yang Biasa-biasa Saja

“Aira.” Panggilku padamu yang berjalan cepat melewati lorong-lorong kelas. Kau menoleh ke arahku. “Ini ikat rambutnya jatuh.” Kataku gugup.

Kau meraba perlahan rambut belakangmu, memastikan apakah memang itu milikmu atau bukan. “Makasih ya Bar.” Katamu sambil mengambil ikat rambut itu dariku.

Aku mengangguk. Apa kau masih ingat itu?

Ketika perasaan kita mulai berdekatan satu sama lain, membuat warna-warna pelangi disekelilingnya, menyuburkan daun-daun yang gugur, menumbuhkan pohon-pohon yang tumbang, memperlihatkan harapan yang boleh jadi tak aku punya sama sekali waktu itu. Angin dari Air Conditioner kelas masih membuat dingin ruangan, sebentar lagi bel pelajaran berbunyi dan aku masih mengakrabi semua pandanganku padamu. Seperti senja yang membutuhkan sebuah peraduan.

Kurasa itu pertama kalinya aku menjadi laki-laki yang paling berlebihan di sekolah. Kau masih mengingatnya? Kurasa hampir sudah setengah sekolah tahu perasaanku padamu, dan beberapa guru mengejekmu dikelas ketika pelajaran-pelajaran dimulai.

“Aira, tolong ambilkan buku ibu di ruangan sebelah.” Kata salah seorang guru matematika waktu itu.

“Kok saya bu?” tanyamu.

“Biar kamu bisa ketemu Akbar.” Sambil tersenyum guru matematika itu mulai mengejekmu.

“Cieeee.” Satu ruangan mulai riuh karena suara itu. Dan kau masih menolaknya, soal perasaan yang mungkin masih biasa-biasa saja.

“Apaan sih?!” nadamu yang agak marah waktu itu.

Kadang kau mulai memperhatikan gerak-gerikku di luar kelas, melihat sedetik lalu berpindah haluan ke arah tembok-tembok kelas. Saat ujian berlangsung, kita mendapati satu ruangan bersama. Aku selalu berusaha mencari perhatianmu dengan bertingkah sekonyol mungkin, berusaha agar kau memperhatikanku. Entah hal memalukan apa saja yang sudah kulakukan waktu itu demi mendapatkan perhatianmu. Aku mulai menjadi sok humoris dihadapanmu waktu itu, karena dari sedikit yang kutahu wanita selalu suka dengan pria yang humoris. Aku mulai membaca buku-buku komedi, mulai berusaha selucu mungkin saat berada dihapadanmu.

Entah lelucon apa yang kukatakan waktu itu, kurasa itu adalah pertama kalinya aku membuatmu tertawa secara tidak langsung. Aku mulai tersenyum sendiri, berusaha untuk terus merekam senyummu dalam pikiranku, agar aku tak pernah lupa tentunya. Setiap ujian berakhir, aku berusaha menjadi ketua kelas yang tak biasa, sebelum waktunya aku sudah menyiapkan yang lainnya untuk bergegas pulang.

“Attention please!.” Teriakku.

Yang lain sudah mulai bersiap sedari tadi, dan kamu. “Sebentar dong, kan masih jam 14.30 buru-buru banget sih!.” Sahutmu kesal kepadaku. Oh, aku selalu suka momen ketika kau terlambat mengumpulkan lembaran kertas ujian, disitu kau benar-benar kesal padaku. Lebih dari apapun, kau menunjukan perasaan itu padaku, matamu tajam menatapku. Nggak sabaran banget Mungkin itu yang ada dalam benakmu waktu itu. Aku selalu suka saat-saat itu, saat-saat dimana kau kesal padaku.

---

Ketika jam istirahat yang lain mulai bergegas membeli sesuatu untuk sekedar mengisi perut mereka. Aku masih disini, menemanimu dikelas. Kita berdua dikelas waktu itu, dengan tembok-tembok kelas yang putih bersih dengan hiasan struktur kelas dan jadwal piket harian. Kita bisu dan merekam setiap kejadian hari itu, soal pengawas yang masih mengejek kita berdua dengan keras.

Soal teman-teman yang bersorak ramai dengan gosip kita berdua. “Ciee, kurang peka banget Ra, udah ada yang nunggu tuh.”

Aku tahu aku yang ia maksud, entah apa yang kau rasakan waktu itu. Hari itu aku tahu perasaanmu masih biasa-biasa saja, masih seperti biasanya tak ada perubahan sedikitpun. Aira, apa kau masih mengingat itu?

Aku masih mengingatnya, ketika lomba futsal antar kelas yang diadakan sekolah berlangsung. Kakimu tiba-tiba saja terkilir, aku bergegas mendatangimu ke musholla kecil dekat dengan lapangan.

“Tuh udah dateng yang mau nemenin.” Canda wali kelasmu waktu itu.

Aku tersenyum, aku merasa nyaman dengan semua ejekan guru-guru dan teman-teman yang lainnya. Aku menghampirimu, berusaha untuk menanyakan bagaimana keadaanmu. “Gimana kakinya?” tanyaku perlahan.

Kau diam saja, seperti isyarat bahwa kau tak mau berbicara denganku. “Masih sakit?” tanyaku sekali lagi.

Kau menarik nafas panjang. “Masih di bagian pergelangan kaki.” Katamu singkat, aku senang kau menjawab pertanyaanku. “Tapi udah di kompres.” Lanjutmu sambil menunjukan tumpukan es batu di sampingmu.

Kita mulai berbicara soal yang lainnya, tentang pertandingan tadi, soal bagaimana kakimu bisa terkilir, soal bagaimana kau bisa mencetak gol dan soal tugas bahasa inggris waktu itu. Entah seakan Semesta sudah mengatur percakapan ini.

---

“Sini.” Katamu malu-malu.

Aku mulai mengikuti perintahmu, kau mulai berbalik badan membelakangiku. Sehingga punggungku dan punggungmu bertemu. “Aku pinjem punggung kamu ya sebentar?” pintamu.

Aku megangguk.

Aira, entah apa perasaanmu masih biasa-biasa saja terhadapku waktu itu. Pembicaraan kita soal pertemuan kita di gerbang-gerbang sekolah SMP, soal gosip-gosip yang anak-anak sebarkan. Soal ejekan itu dan soal apapun. Kau mulai tertawa mendengarkanku cerita soal ejekan yang lain ketika aku sedang berjalan ke kantin, kurasa aku tak perlu menjadi terlalu humoris untuk membuatmu tertawa.

“Lagi pula kamu nya juga sih. Kenapa harus terlalu heboh sih, satu sekolah jadi tahu perasaan kamu sama aku.” Katamu sambil tertawa keras.

“Tapi aku rasa itu jalan biar aku selalu deket sama kamu.” Sahutku.

Kau tersenyum, kali ini pipimu memerah. Kurasa kau sudah mulai nyaman dengan semua gosip-gosip itu. Entah gosip yang keberapa, entah ejekan keberapa yang bisa mengubah sepenuhnya perasaanmu padaku.

---

Aira, kalau seandainya aku tak sabar waktu itu, seandainya aku menambatkan hati ke yang lain. Mungkin tak akan pernah terjadi hari ini, mungkin tak akan pernah ada perasaan yang begitu jelas. Seandainya Guru matematika kita tak terus-menerus mengejek kita waktu itu. “Sahabat Forever.” Mungkin tak ada aku dan kamu.

“Biar aku gendong ya?”

“Hmmm...” Katamu. “Memangnya nggak apa-apa?” tanyamu padaku.

Aku tersenyum padamu, mulai mengambil ransel hijaumu. “Nggak apa-apa.”

Kau tersenyum, sambil naik ke atas punggungku.

Aku selalu percaya bahwa perasaan manusia bisa berubah dengan sendirinya. Entah apa yang merubahmu waktu itu, entah. Pipimu memerah, hampir menutupi lesung pipimu, rambutmu mulai kau ikat agar tak mengahalangi pandangan. Kurasa cintamu padaku waktu itu memang biasa-biasa saja, tapi pada akhirnya aku tahu cinta selalu pulang pada saatnya. Dan sekarang aku tahu tak ada yang sia-sia dengan ejekan para guru soal kita waktu itu.