Ingatlah Ini Ketika Mencintai Wanita

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 31 Juli 2016
Ingatlah Ini Ketika Mencintai Wanita

Selepas kejadian kemarin ketika aku tahu bahwa Rana terus membaca surat-suratku tanpa perasaan jengkel ataupun bosan, aku terus menulis surat untuknya. Setidaknya aku tahu dia menghargai setiap perasaanku pada pembiarannya.

 

Rana, jika jeda waktu membuat kita bertemu di suatu tempat yang sama, aku yakin Tuhan telah menakdirkan kita untuk bertegur sapa lalu menapaki jalan bersama-sama. Aku yakin kita memang dilahirkan untuk melengkapi satu sama lain, membuat sekat-sekat di antara kita berdua rapat dengan kerinduan yang panjang.

Aku menjadi tidak karuan Rana, semenjak kau turun dari kayangan, membuat indah semua hal disekelilingku. Aku jatuh Rana, dalam dekapan hangatmu lalu perlahan nyaman, nyaman, lebih nyaman dan terlelap begitu saja. Rana, sesekali aku ingin memegang tanganmu, erat. Hanya agar kau tahu aku akan menjagamu sekuat aku menjaga diriku sendiri. Cinta itu membebaskan, aku ingin terbebaskan dengan diri yang sekarang berada pada dirimu Rana. Sebagian tulangku hilang dan aku menemukannya dalam dirimu.

Jangan tanya bagaimana aku jatuh cinta padamu, karena sesuangguhnya aku juga tidak mengerti bagiamana cara cinta menyihirku, membawaku ke lautan paling dalam lalu tenggelam di dasar. Aku hanya mengetahui satu hal Rana, jatuh cinta padamu. Ya, itu adalah cara terindah sekaliagus terbaik yang pernah ada.

 

Aku tersenyum di ujung surat yang ku tulis. Berharap Rana menyukai surat yang satu ini, kadang memang menulis surat itu membosankan tapi bagi orang yang tidak berani mengatakan semuanya langsung pada orang yang disuka, aku hanya berbicara lewat aksara. Lewat semua kalimat-kalimat yang setengah mati ku susun hanya agar itu terlihat lebih indah dan lebih baik.

Ini jatuh cintaku yang kesekian di masa-masa remaja, ketika kelas 2 SMP aku pernah jatuh cinta kepada seseorang bernama Kurnia, seorang perempuan ahli matematika dan juga jago gambar. Hal yang selalu dia lakukan ketika jam istirahat tiba adalah membuat sebuah gambar yang akan dia tempel di mading sekolah. Dia pernah memenangkan lomba gambar tingkat wali kota, dia menjuarai beberapa cerdas cermat tingkat provinsi mewakili sekolahku waktu itu. Tapi sayang, dia menolakku begitu saja. Disitulah aku merasakannya, patah hati pertamaku. Kadang hal yang kita salah anggap dari cinta adalah tidak berani mengambil resiko yang ada, dan patah hati adalah bagian dari resiko-resiko itu, sebuah cara agar kita menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Namun aku selalu saja tidak bisa menerima semua kenyataanya, aku selalu bertanya-tanya kenapa tidak pernah ada satu perempuan yang memilihku? Rana? Dia hanya menjadikanku sahabat walaupun pada kenyataanya aku mencintainya setengah mati.

Bagiku, kita sudah termakan peradaban jaman yang mengatakan bahwa wajah 99% lebih kuat auranya daripada keahlian, banyak perempuan yang berkata “Percuma ganteng kalau nggak bisa apa-apa.” Tapi pada kenyataannya mereka berkata seperti itu ketika teman-temannya sedang memperhatikannya secara serius, sedangkan ketika berada sendiri secara tidak sadar mereka akan berkata “Nggak apa-apa deh nggak bisa apa-apa yang penting ganteng.” Harkat dan martabat seseorang kadang harus di pertaruhkan dalam hal bernama cinta ini, selalu ada saja harga diri yang mengikuti kita perlahan tapi pasti.

Semakin keren orang yang kita pacari maka akan semakin tinggi harga diri kita. Entah kenapa di jaman yang maju ini harga diri begitu penting, padahal pada kenyataanya kita sudah kehilangan harga diri kita ketika menatap seseorang dengan penuh penghayatan. Dengan seperti itu bukankah harga diri kita secara otomatis akan turun? Aku selalu berpikir seperti itu, setiap orang yang mempunyai harga diri yang tinggi ketika berhadapan dengan kasus bernama cinta akan jatuh, berbanding lurus dengan tingkat dia menyayangi pasangannya. Lalu mengapa kita masih bisa bilang “Kalau aku pacaran sama kamu, harga diri aku mau di taruh mana?” Bukankah itu konyol?.

Detik demi detik terus berputar, waktu terus berjalan dan aku masih terus membaca ulang tulisanku, disetiap surat yang aku berikan pada Rana aku selalu ingin dia membacanya dengan sesempurna mungkin, keseriusan seseorang bisa dinilai dari totalitasnya dalam setiap melakukan atau membuat sesuatu untuk orang yang kita sayang, maka merugi beberapa orang yang membuang orang-orang yang berjuang untuk mereka.

Dalam kamar ini aku selalu “bersemedi”, membuat sesuatu dari dalam sini, tulisan-tulisanku yang akan aku kirim ke penerbit, puisi dan surat cinta untuk Rana, membuat film pendek dan lain-lain. Aku melakukannya di kamar ini, kamar yang berukuran 3x4 meter ini menjadi tempat ternyaman ketika aku akan menggenapkan sesuatu yang akan aku buat. Di samping  televisi aku menaruh poster Bondan Prakoso, agar ketika bermain atau berlatih bass aku bisa berpura-pura menjadi dirinya, ini adalah metode baru untuk belajar sesuatu. Ketika kita membuat sesuatu atau belajar, maka bayangkanlah bahwa kita sudah menjadi orang terkenal nan hebat, yang di puja dan di puji banyak orang karena keahlian kita, itu bukan berarti tidak menjadi diri sendiri tapi pada dasarnya kita sudah menjadi diri sendiri dengan belajar percaya diri.

---

Aku tak bisa menolaknya, mencintai seseorang sama dengan mencintai seluruh dunianya. Mencintai Rana juga berarti mencintai seluruh apa yang dia sukai, Rana menyukai Matematika, tapi aku tidak. Bagiku matematika adalah tumpukkan angka yang keliru, tapi ketika kita mencintai seseorang kekeliruan itu menjadi wajar ketika kita berusaha mati-matian mempelajarinya. Mencintai sesuatu yang aku benci setengah mati untuk orang yang aku cintai adalah penjara. Tapi aku melakukannya, untuk benar-benar membuatnya jatuh cinta.

“Lagi nulis apa hayoo.” Seru ibu tiba-tiba.

Aku terkejut ketika ibu sudah berada di belakangku dengan punggung yang dia bungkukkan. “Wah ibu, ngagetin aja.”

“Lagi nulis apa kamu? Surat cinta ya? Lagi suka sama orang ya?”

“Bu apasih, langsung to the point gitu. Aku lagi ini..” Aku mulai berpikir, mencari alasan lain agar ibu tidak bertanya soal Rana. “Tugas menulis puisi bahasa Indonesia.” Akhirnya.

Ibu menyipitkan matanya, kemudian melihat ke arahku lalu melihat ke arah layar komputer. Terus seperti itu selama beberapa detik. Semenjak Ayah meninggal, ibulah orang yang selalu berada di dekatku. Dia ibu juga ayah yang baik, menjadi koki sekaligus kepala keluarga yang hebat. Bagiku tak ada satupun hal yang bisa menggantikan perannya yang sedemikian rupa memerlukan rasa tanggung jawab yang besar.

“Kamu nggak bohong kan sama ibu?”

“Ngg... Nggak.”

“Kok ngomongnya terbata-bata gitu?” ibu terus menyudutkanku.

Aku kalah. “Iyadeh bu iya.” ibu sumringah seketika, lalu perlahan dia duduk manis di atas kasurku. “Aku lagi suka sama perempuan.”

“Rana?”

Aku lebih terkejut daripada sebelumnya, jantungku berdebar lebih cepat kali ini, pikiranku kacau. Darimana ibu mendapatkan nama itu. “Kok ibu tahu? Ibu ikutin aku ya? Ibu tanya sama temen-temen aku ya? Kok Ibu tahu sih?!” Kepanikanku membuatku tak karuan.

“Hussh sembarangan.” Ibu menunjuk layar komputer dengan santai. “Tuh ada namanya di puisi yang kamu tulis.” Lalu dia tertawa di akhir kalimatnya, wajahku berubah menjadi datar. Seakan-akan pertanyaan yang tadi tak perlu ku ajukan sama sekali. “Kamu kalau lagi panik lucu ya Satya, jadi inget waktu kamu masih kecil jatuh di atas tempat tidur.” ibu kembali tertawa, kali ini cukup keras.

“Makasih loh bu.”

“Sama-sama.” Katanya sambil terus tertawa, aku masih cemberut karena di perlakukan kurang adil. Hal yang paling tidak aku suka dari ibu adalah cara dia membuatku tertawa, niat awal yang dia lakukan adalah membuatku senang tapi pada kenyataannya dia membuat dirinya sendiri senang.

“Dulu tuh ayah pernah ngomong sesuatu sama kakak kamu waktu dia suka sama perempuan buat pertama kalinya.” Kata ibu tiba-tiba ketika suasana hening beberapa saat.

“Apa?”

“Perkataan itu ayah kamu kutip dari sebuah hadits, ‘wanita itu dicintai/dinikahi karena 4 hal; karena kekayaannya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya, maka Taribat Yadaaka (Kembali kepada fitrah atau beruntung.)’ gitu waktu itu ayah kamu bilang sama kakak kamu.”

“Jadi?”

“Pilihlah wanita yang baik agamanya Satya, di keluarga kita kekayaan selalu bisa dicari, kecantikan selalu bisa dirawat, keturunan selalu bisa dididik. Tapi agama adalah cara dia menentukan keimanannya, jangan sampai salah langkah dengan melihat 3 sisi. Tapi lihat sisi ke empat dari si Rana ini.” Kata ibu dengan jari telunjuk yang berada di depan wajahnya. “Simpen itu baik-baik dalam otak kamu.”

Aku mengangguk. Ibu beranjak pergi meninggalkan kamarku dengan pesan itu, pesan yang diberikan ayah pada kakakku 10 tahun yang lalu, kali ini dia menyampaikan pesan itu padaku. Itu bukanlah hal yang salah, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dan juga agar anaknya tidak salah pilih dan salah langkah. Aku memandang kembali surat cinta yang aku ketik, memandang nama Rana sambil terus memikirkan pesan ibu.

Aku yakin kamu memiliki yang ke empat itu Rana. Gumamku.