Aku Dapat Surat Cinta Lagi

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 30 Juli 2016
Aku Dapat Surat Cinta Lagi

Aku masih duduk manis di bangku kayu kelas, bentuknya yang memanjang dan menyatu dengan bangku teman sebelahku, sama seperti meja belajar hanya berbeda fungsi dan ada tambahan senderan. Aku masih menggores kertas dari buku tulisku dengan pensil yang baru saja ku raut beberapa waktu yang lalu, perlahan kata demi kata menjadi kalimat, dan menjadi sebuah surat. Kumpulan kalimat yang akan kuserahkan dengan perempuan cantik kelas sebelah. Rana.

Rana berhasil mencuri perhatianku ketika kami satu regu pada saat Masa Orientasi, dia menjadi pemimpin regu waktu itu, aku suka cara dia ketika berbicara di depan, terlihat lebih bijaksana, aku suka ketika rambutnya perlahan dia ikat dengan ikat rambut berwarna merah sama dengan warna syal yang dia gunakan. Aku suka ketika dia mulai berjalan, langkah-langkahnya yang mendayu, kakinya yang mirip finalis miss Indonesia, aku suka melihat semua yang ada pada dirinya. Aku memperhatikan itu, semua yang ada padanya. Aku mulai mencari tahu semua yang dia suka hanya agar aku mempunyai bahan obrolan dengannya, atau jika beruntung aku bisa terlihat lebih pintar di depannya. Menjadi pintar adalah cara seseorang membuat lawan jenis nya merasa kagum, kan?

Jatuh cinta itu indah, seindah tanaman bunga di taman-taman pinggiran kota. Mekar dan menjadi indah tepat pada waktunya, seperti itu juga cinta. Akan meledak di tempat yang tepat dan menjadi molekul kebahagiaan yang pernah terpancarkan dalam diri setiap orang. Aku percaya bahwa kadang cinta menjadi sebab dari setiap bahagia, karena sekarang aku merasakannya. Berada dititik tertinggi aku bisa mati karena terlalu bahagia. Aku selalu berpikir bagaimana cara manusia jatuh cinta, bagaimana molekul perasaan itu menyatu lalu meledak dengan kekuatan yang amat sangat dahsyat. Layaknya bom atom yang menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki. Kali ini Rana berhasil menghancurkan selalu lapisan perasaanku dan terjatuh di pelukannya. Mungkin begitu cara cinta bekerja, merobohkan pertahanan perasaan kokoh kita dan bertekuk lutut pada pesan bernama cinta.

Aneh tapi sungguh ini membahagiakan.

Ketika jam istirahat tiba dengan diam-diam aku akan menaruh surat cinta yang ku tulis untuknya di bawah kolong mejanya, walaupun tak pernah mendapatkan balasan. Tapi ini menyenangkan, membuatkan sesuatu untuk orang yang kita suka adalah kebahagian sendiri.

Waktu itu aku dan Rana bersahabat, kami mempunyai kecocokan dalam beberapa hal. Aku menyukai Bondan Prakoso, dia pun begitu. Aku menyukai membaca dan menulis bahkan bercita-cita menjadi seorang penulis nantinya, dia pun begitu tapi tidak dengan cita-citanya. Baginya menjadi penulis terlalu buang-buang waktu, dia menulis di waktu senggang tidak seperti penulis yang kadang mempunyai deadline kapan tulisan itu harus rampung.

“Daripada jadi penulis, mending kamu jadi Sutradara aja.” Katanya waktu itu.

“Kok gitu?”

“Nggak tahu, tapi aku suka liat kamu kalau lagi menyutradarai film pendek.”

Aku tersenyum. Kami bersekolah di SMK Cipta Mandiri, salah satu sekolah di daerah Depok yang berdiri dengan menawarkan pendidikan multimedia. Sebuah aset digital jaman sekarang, aku tertarik pada perfilman tapi hanya sekedar hobi, menulis adalah membuat identitasku menjadi lebih jelas.

Aku masih terduduk di kelas Rana, sambil terus memperhatikan Rana yang berada di bangkunya. Enam puluh detik sudah aku memperhatikannya, dia membaca surat yang kutaruh di kolong mejanya. Perlahan dia membacanya, dengan perasaan lembut, lembut, lembut, sangat lembut. Membuat aku menjadi lebih tidak fokus pada teman-teman yang lain, seperti sebuah lensa kamera DSLR, mataku lebih memfokuskan pada Rana dan membuat blur teman-teman yang lain.

Ah seandainya aku bisa memperdaya waktu, aku ingin sejenak saja menghentikannya untuk sekedar melihat tingkah lucu nya membaca surat dariku. Aku ingin melihatnya, ekspresi kaget itu, dan juga semuanya. Hal-hal yang membuatku semakin menyukainya lebih dari apapun yang pernah ada.

---

“Tadi aku dapet surat cinta lagi tahu.” Kata Rana sepulang sekolah. Kami selalu mempunyai kebiasaan unik ketika bel sekolah di bunyikan, kami selalu mampir ke kantin sekolah untuk menceritakan kejadian harian masing-masing dari kami lalu menertawakannya atau yang lebih sering adalah mempertanyakannya. Kenapa bisa-bisanya kami mengalami kejadian itu.

“Wajar dong Ran, kamu kan cantik dan populer di sini.”

“Bukan masalah itu, masalahnya adalah penulisnya selalu sama.”

Aku tersentak ketika Rana mengucapkan itu, perlahan minuman yang baru saja akan ku teguk ku taruh kembali di meja kantin. “Kamu tahu siapa orangnya?” Nadaku mulai panik.

“Kok kamu panik gitu?” Sahutnya sambil terus memperhatikan gerak-gerikku.

“Eh.. Enggak, enggak apa-apa, aku cuma nanya aja kamu tahu atau nggak orangnya itu siapa. Nggak ada maksud apa-apa kok.” Jawabku sekenanya.

“Beneran?” Tanyanya sambil mulai mencondongkan wajahnya ke arahku, matanya menyipit. Seakan-akan membaca tanda-tanda kebohongan dalam diriku.

Aku mengangguk. Hal yang paling tidak bisa kita lakukan ketika sedang jatuh cinta adalah mengungkapkan semua perasaan kita langsung padanya, membuat diri kita tersiksa dengan segudang pertanyaan suka atau tidak ya dia sama aku? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang kadang menyulitkanku untuk jujur dengan Rana. Dengan posisi dia adalah sahabatku juga, aku dengar beberapa cerita ibu bahwa kadang bersahabat adalah kisah cinta yang secara tidak langsung sudah terjadi. Cinta bagi ibu adalah ikatan, yang membuat kita beberapa persen menjadi lebih berarti daripada sebelum kita mempunyai ikatan. Ibu selalu bilang, ketika persahabatan sudah menjadi cinta itu akan lekat selama-lamanya, menjadi abadi meski kalian terpisah jauh.

Aku tahu arah pembiacaraan ibu, sebagai anak manusia yang masih menginjak remaja pemikiranku terlalu dangkal memaknai sebuah ikatan dan cinta. Bukankah lebih baik kalau dia menjadi pacarku saja? Gumamku, bagiku menjadi sahabat sebenarnya buang-buang waktu.

“Kamu belum jawab pertanyaan aku.” Kataku sesampainya kami di gerbang sekolah.

Rana menengok kepadaku selapas ia membenarkan dasi abu-abunya. “Yang mana?”

“Kamu tahu siapa pengirim surat cinta itu?” Tanyaku sekali lagi.

Dia tampak berpikir, sambil mengigit bibir bagian bawahnya. Ah, aku selalu suka ketika dia mulai bertingkah seperti itu. “Aku nggak tahu, yang aku tahu cuma dia adalah orang yang sama yang mengirimiku surat beberapa waktu yang lalu. Di kolong mejaku juga.”

“Lalu?”

“Ya aku nggak bisa menebak siapa dia, tapi dari gaya tulisannya sama persis. Aku rasa siswa sekolah sini juga.”

Itu aku!. Teriakku dalam batin, hal yang paling aku suka soal cinta dalah guncangan hebat yang berada tepat di jantungku. Perlahan dia akan mulai berdebar dengan cukup cepat, di depan Rana aku tidak bisa apa-apa selain menyimpan itu semua secara diam-diam.

“Aku nggak tahu orangnya, karena dia nggak tinggalin apapun di surat itu. Ada namanya juga nggak.”

“Rana!” Teriak seorang laki-laki tiba-tiba, berbadan agak gemuk dari seberang jalan menaiki motor gedenya.

Rana melambaikan tangan sambil berteriak dengan sumringah. “Papah!” Dia lalu menghentikan lambaiannya dan pamit kepadaku. Hari itu aku berpisah dengan Rana, pulang kerumah masing-masing. Dia menyimpan surat cinta yang kuselipkan di kolong mejanya, entah dia membacanya dengan senang atau menjadi tidak senang. Tapi bagiku, aku senang bukan main, walaupun masih ada batu yang mengganjal perasaanku, batu besar yang belum bisa kusingkirkan. Sebuah pernyataan perasaan.