Selamat Datang Masa Lalu

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 28 Juli 2016
Selamat Datang Masa Lalu

Ini aku, berada di ruang tamu yang ramai dengan sahut tawa riang keluargaku. Mereka bersorak layaknya orang yang baru menang pertaruhan besar kemarin malam, ruangan ini cukup luas untuk beberapa orang yang datang dan membuat sesak ruangan, tapi entah kenapa malam ini aku merasa sesak di tempat yang lega. Ada sedikit celah pada hati dan pikiranku seakan-akan semuanya tertutup pelan-pelan, membuat jalan buntu di rongga-rongga perasaan dan pikiranku.

Ini seperti berada di suatu ruangan tanpa celah, tanpa jedela ataupun tanpa pintu. Tak bisa keluar dan terisolasi di dalamnya dengan tidak nyaman. Penjara diri sendiri. Aku selalu suka menyebut setiap sesak sebagai penjara, karena bagiku ini sama dengan bunuh diri. Selalu ada perasaan ataupun pikiran yang pada kenyataannya tidak sengaja terselip lalu membuat kita membenci mati-matian hari ini, kenyataan ini lalu perlahan berbisik. “AKU BENCI DENGAN SEMUA INI, AKU MENYESAL!” Aku merasakannya, serangan tiba-tiba dari balik jeruji bayangan bernama masa lalu. Aku memasangnya, bom bunuh diri. Bom yang secara tidak sadar kupasang untuk membuatku hilang kenyataan, terkenang dan perlahan di tertawakan. Menjadi manusia paling bodoh yang mengorbankan sesuatu untuk hal yang tidak begitu jelas, tidak begitu tahu akhir akan seperti apa. Aku hanya bergerak, lalu perlahan menghitung waktu sampai bom ini meledak tepat pada tempatnya.

Aku selalu suka pemahaman soal bagaimana kita harus melihat masa depan agar semuanya gemilang dan baik-baik saja nantinya, tidak ada kekhawatiran sama sekali. Tapi aku tidak pernah suka bagian ini, soal kekhawatiran, bukankah setiap orang tidak akan pernah tahu bagaimana semuanya akan berakhir. Seperti pada sebuah perlombaan marathon, dari sekian banyaknya lautan manusia yang mendaftarkan dirinya untuk ikut berlari dan saling menunjukan kebolehannya. Setiap dari mereka berpikir dengan jernih “aku akan sampai di garis finish dan menang, semuanya akan baik-baik saja.”

Baik-baik saja? Mungkin harus aku ulang kata-kata itu berulang kali dalam pikiranku, mungkin itu bukan kata yang tepat menggambarkan masa depan tapi kata yang tepat untuk menggambarkan masa kini. Tidak ada masa depan yang baik-baik saja, selalu ada kekhawatiran soal calon istri yang tidak bisa memasak dan mendidik anak dengan baik, selalu ada kekhawatiran soal hutang-hutang yang belum terbayarkan, selalu ada kekhawatiran calon mertua yang setiap hari menyambut dengan penuh suka cita lalu bertanya dengan lengkung senyum yang manis. “Kita siapin tanggal pernikahannya ya?”, selalu ada kekhawatiran-kekhawatiran itu. Manusia diciptakan untuk selalu resah, selalu bertanya dan gelisah, disitu kita akan tahu kemana kita akan menuju dan di stasiun mana kita akan berhenti untuk sejenak beristirahat.

Ruangan ramai ini semakin riuh ketika Kakakku dengan anak laki-lakinya memainkan sebuah game di phone tablet miliknya. “Aku menang Pak!” Teriak keponakanku itu yang selalu kupanggil Arsyad. Wajahnya membuat semua orang di ruangan mencubitnya lalu berkata dia lucu, imut, dan dengan penuh syukur ibu selalu berdoa agar dia menjadi anak yang soleh dan bisa menjadi manfaat bagi orang banyak.

Aku masih duduk dengan handphone di tangan kananku, masih dengan nama mantan pacarku Rana.

“Yang mau nikah besok kok diam saja.” Teriak ibu kepadaku dari jaraknya yang lumayan jauh dari tempatku duduk.

“Iya nih kok diam saja, bukannya seneng.” Sahut yang lainnya dengan memandang wajah satu sama lain.

“Aku nggak nyangka aja akan menikah besok.” Sahutku sambil tersenyum.

Saudara yang lain tertawa, ada beberapa yang menyimpulkan aku malu-malu kucing, takut di ledekin dan berbagai macam celotehan mereka yang tak ingin aku dengar. Aku memandang ibu, dia tersenyum sambil memanggilku dengan tangannya melambai. Aku mengangguk menuruti apa yang ibu mau, aku duduk di samping ibu yang malam itu mengenakan gamis yang kubelikan beberapa bulan yang lalu. Aku senang ketika ibu memakainya, seakan semua yang sudah aku lalukan dihargai, tapi orang tua memang selalu begitu, selalu tak ingin anaknya kecewa.

“Kamu kenapa?” Kurasa ibu tahu apa yang sedang ku gundahkan belakangan ini.

Aku tersenyum, memberikan ibu kode bahwa semuanya baik-baik saja. Ibu memegang pundakku dengan lembut sambil mengusap punggungku beberapa kali. “Kamu nggak bisa bohong sama ibu, kenapa?”

Bagiku naluri seorang ibu begitu kuat pada anaknya, seberapa keraspun seorang anak menjauh, ibu akan datang pelan dan bertanya ‘kamu kenapa?’. Bagiku dia adalah ibu sekaligus ayah yang baik. Dia adalah motivator dan teman curhatku setiap malam, semenjak kepergian ayah beberapa tahun yang lalu aku tinggal berdua hanya dengan ibu. Kakak laki-lakiku jauh berada di Surabaya waktu itu. Malam ini seperti biasanya, aku bercerita soal ibu soal kegundahanku.

“Aku kepikiran Rana bu.” Kataku lembut.

Ibu kembali lagi tersenyum. “Untuk apa?”

“Bukan untuk apa-apa dan tidak ada maksud apa-apa. Entah kenapa dadaku sesak malam ini dan nama Rana terus terngiang dalam pikiranku.”

“Satya.” Ibu mulai mendekat padaku. “Esok kamu akan memulai sesuatu yang baru dengan orang yang baru. Esok kamu akan berjabat tangan  penghulu dengan menyebut nama orang yang berbeda, bukan orang yang kamu pikirkan malam ini.” Aku menunduk mendengar ucapan ibu.

“Tapi...”

“Masa lalu memang diciptakan untuk menjadi pelajaran, bukan dijadikan beban.” Sahut ibu memotong perkataanku seketika. “Karena itu Tuhan menciptakan pembatas antara masa lalu dan masa depan, masa kini. Tuhan menciptakan masa kini agar kita lebih banyak belajar dalam meramu resep untuk masa depan, kalau dalam sekolah masa lalu adalah awal kamu berada di bangku kelas 1 SMA. Masa kini adalah kamu yang ada di bangku kelas 2 SMA, sebelum naik ke kelas 3 SMA kamu pasti sudah mempersiapkan semuanya  di tempat kedua, UN adalah hal paling berat di bangku kelas 3. Di kehidupan nyata ibu menyebutnya kegelisahan.” Ibu mulai menghelas nafas dan melihat keseliling ruang tamu.

“Kegelisahan adalah cara manusia menghadapi masa depan.” Tutup ibu lalu dia mengecup keningku dan beranjak ke depan televisi dan menonton bersama film yang sedang di putar.

Aku masih terdiam, termangu dengan masa depan yang tidak jelas, samar-samar. Hanya ada kilatan putih yang perlahan menyambar dan membangunkanku dari bayangan masa depan akan baik-baik saja.

Rana, masa lalu yang paling kubenci, sekaligus patah hati terhebatku. Lucu, melihat bagimana ingatan masa lalu membuat kita berhenti sejenak di persimpangan jalan dan memilih mundur kebelakang untuk sejenak merasakan sensasi rewind yang luar biasa. Aku merasakannya malam ini, gambar demi gambar, adegan demi adegan. Aku merasakannya, sesak luar biasa soal Rana. Soal masa lalu yang perlahan pergi tepat ketika buku pertamaku terbit. Dia suka bernyanyi untukku, menyanyikan lagu-lagu bahagia di depanku sambil tertawa menari di taman dekat rumahnya.

Rana, seorang perempuan yang kuperhatikan secara diam-diam. Seorang perempuan yang menarik hatiku sampai ke atas awan lalu perlahan menjatuhkanku dan terhempasnya aku menjadi partikel kecil di semesta. Tidak berarti apa-apa.

Lucu, bagaimana cara masa lalu memainkan semua perasaanku. Mengenang, cara mengingat yang paling buruk sepanjang sejarah hidup manusia. Aku benci itu.