Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 5 Juli 2016   00:17 WIB
Punggung Yang Menjauh

Apakah aku harus menyerah disini? Ketika kulihat punggungmu perlahan berbalik menjauh?

Ketika serangkaian perjalanan telah mencapai akhir dari perjalanan itu sendiri, kita selalu punya ruang untuk menatap kebelakang, melihat apa yang sudah kita tinggalkan. Dan perlahan aku mulai menyadari, ada perasaan asing yang masuk kedalam hatiku, semacam perasaan takut kehilangan. Aku selalu ingin menjadi alasanmu untuk kembali, sejauh apapun kamu melangkah.

Kau berjalan perlahan, setengah berlari, kau mulai memikirkan tentang kejanggalan-kejanggalan soal cinta yang tak pernah adil pada perasaan, soal hidup yang tak adil pada kenyataan. Kau mulai berjalan mundur, melihat semua tawa yang tersisa dalam ingatanmu yang paling dalam, dalam lautan perasaan bimbang kau memutuskan untuk pergi tanpa pesan. Malam itu bulan bersinar cukup terang, dalam situasi seperti ini selalu menyimpan ribuan rahasia perasaan; perpisahan, pertemuan, ketulusan dan apapun itu. Datanglah sekali lagi dan ucapkan apapun, sebab perpisahan tanpa kata-kata sungguh lebih menyakitkan dari apapun. Kau pasti mengerti dan mengetahui itu.

Perlahan kau semakin berjalan jauh, jarak kita sudah semakin tak bisa disatukan, dengan badan yang hampir tidak bisa menahan semua pertanyaan yang menumpuk pada satu gudang senjata bernama otak, kau pergi tanpa pesan. Dalam dekapan, dalam terang bulan aku tak pernah melihatmu lagi, tak pernah mendengar kabar soal dirimu lagi. Aku masih mengingat kata-katamu. “Cinta itu semacam cara agar manusia bisa hidup lebih bahagia” Lalu untuk apa Tuhan menciptakan rasa cinta yang begitu dalam kalau pada akhirnya Dia membuat skenario yang sedemikian jauh dari harapan? Pada kenyataanya aku tak pernah menginginkan ini, bisakah kita mengulanginya sekali lagi? Aku hanya berharap mampu kembali dan memperbaiki semua kebodohanku. Hanya itu.

Apakah aku harus menyerah disini? Ketika kulihat punggungmu perlahan berbalik menjauh? Sampai disini, biarkan aku membisu menahan rasa yang entah mengapa semakin membunuhku.

---

Sejenak pikiranku kembali pada masa pertama kali kita berbicara serius soal cinta, bukan soal aku yang pasti, ini soal orang lain, ya laki-laki lain. Di situ pertama kalinya aku menjadi manusia paling menyedihkan, aku tak pernah bisa membantahnya, sambil terus tersenyum padamu, mendegarkan setiap curhatanmu pada pria yang sedang kau taksir, memanipulasi keadaan seolah semuanya baik-baik saja. Namun, yang sebenarnya seperti ada ribuan tombak yang menghujam jantungku, seakan dia berhenti berdetak, berhenti ya berhenti dari semua kesempatan. Ah, aku tahu aku tak pernah pantas

Karya : Arifin Narendra Putra