SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Panti Asuhan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 02 Juli 2016
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)

SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)


Di project baru kali ini gue bikin sesuatu bernama SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) Semacam Daily Activity gue soal Ramadhan, cuma bedanya di sajikan lewat tulisan.

Kategori Acak

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Panti Asuhan

Puasa itu memperkuat iman kita, selain memperkuat iman lewat puasa kita ajarkan untuk menahan lapar dan dahaga tujuannya hanya agar kita tahu rasanya menjadi orang-orang yang kekurangan. Selain dua hal itu puasa memberikan banyak pelajaran lebih. – Bapak Haji Muhammad (Pemilik Panti Asuhan, SDIT, SMPIT Miftahul Ulum Cinere – Depok)

 

Ramadhan, 10 tahun lalu ketika masih berada di bangku SD, aku tinggal di sebuah panti asuhan dekat dengan rumah. Ibu selalu menyuruhku kesana setiap malam minggu untuk melakukan khataman Qur’an rutin. Bertadarus dari magrib hinggan tengah malam, dan shubuh dilanjutkan dengan menghafal beberapa hadist. Aku merasa malu pada awalnya ketika aku berada di kalangan orang-orang yang fasih membaca Al-Qur’an, bahkan anak-anak yang seumuran denganku waktu itu sudah khatam sebanyak 3 kali. Dan aku? Ah Ramadhan kalau memang ada predikat orang yang mendurhakai dirinya sendiri, kurasa akulah orang itu.

“Kamu dari mana?” Tanya salah seorang laki-laki bernama Bayu.

“Aku?” Dia mengangguk mengiyakan pertanyaanku. “Aku dari sini Cinere, deket kok dari panti asuhan ini.”

Dia mengangguk sambil memajukan bibirnya. “Oh iya iya.” Katanya sambil tersenyum kecil. “Kok bisa sampai sini?”

“Bapak Haji Muhammad itu guru aku di Madrasah Ibtidaiyah. Dia yang mengajakku ke sini sampai pada akhirnya ternyata ibuku juga setuju dan jadilah aku sampai di sini.” Aku mulai menunjuk Bapak Haji Muhammad dari kejauhan, perlahan tapi pasti aku mulai menarik nafas dan membuangnya. “Aku malu sebenarnya.”

Wajah Bayu perlahan berubah menjadi penuh tanya padaku. “Malu?”

“Iya malu, kalian udah lancar membaca Al-Qur’an, sedangkan aku masih terbata-bata. Seakan-akan hanya aku yang tidak berguna.”

Bayu tersenyum dengan lembut sambil menepuk pundakku berulang kali. “Fin, manusia diciptakan memang untuk merasa malu, malu pada Sang Pencipta. Allah SWT. Kita wajib merasa malu, karena memang kita hanya secuil bagian dari apa yang sudah Allah ciptakan, kita hanya butiran debu yang boleh jadi suatu saat nanti tertiup angin dan pergi terbang entah kemana. Kita semua hanya manusia biasa, bedanya anak-anak disini lebih fasih membaca Al-Qur’an karena memang kami sering membacanya berulang-ulang kali. Seperti kita mengulang pelajaran 1+1=2 berulang kali, pada akhirnya jadi mudah, kan?” Aku mengangguk setuju. “Seperti itu juga kami yang ada disini. Nanti kamu pasti bisa kok, ini hanya soal membiasakan saja.”

Aku tersenyum pada Bayu, ya aku menemukan teman yang barangkali membuat diriku lebih percaya diri daripada biasanya. Membuat diriku jauh lebih beruntung daripada biasanya. Ah, betapa enak orang yang menjalani kehidupan dengan keberuntungan-keberuntungan mereka, tapi bukankah lebih nikmat orang yang memang terlahir untuk beruntung? Aku tak pernah peduli yang terpenting, aku sedang beruntung. Bertemu teman yang barangkali membuat semuanya jauh lebih baik.

---

Beberapa bulan berlalu sampai pada akhirnya selama 1 bulan penuh selama Ramadhan waktu itu aku menginap disana sampai malam takbiran. Aku ingin lebih mengenal iman daripada apapun, dan juga mengakrabimu lebih Ramadhan.

“Puasa itu memperkuat iman kita, selain memperkuat iman lewat puasa kita ajarkan untuk menahan lapar dan dahaga tujuannya hanya agar kita tahu rasanya menjadi orang-orang yang kekurangan. Selain dua hal itu puasa memberikan banyak pelajaran lebih.” Seru Bapak Haji Muhammad ketika semuanya berkumpul di Musholla kecil di dalam komplek Panti.

“Pak Haji, apa hanya dengan puasa saja iman kita akan kuat?” Kata salah seorang anak perempuan di pojok Musholla.

Pak Haji Muhammad tersenyum sambil terus memperhatika keseluruhan ruangan, dia mulai merapikan peci nya. “Tidak juga, iman itu layaknya sebuah pernikahan. Kanan dan kirinya harus kuat, jika disebelah kanan kita sudah ada sholat, berbuat baik, berdzikir, bersedakah, dan membantu yang kurang mampu. Maka, di sebelah kiri harus ada puasa, zakat, dan lainnya. Jadi diantara kedua kepalan ini harus sama sama kuat.” Katanya sambil mengepal kedua tangannya lalu menggoyangkannya ke atas dan ke bawah. “Jangan seperti orang yang tersesat, yang imannya angin-anginan. Numpang lewat saja.”

Perlahan Musholla malam itu menjadi sangat nyaman dan sejuk, seakan ada sebuah angin yang perlahan merasuk ke dalam qalbu untuk kemudian di hembuskan dengan perasaan kasih sayang dan cinta. Ah, ini mungkin berkah Ramadhan.

---

Ramadhan, sudah 10 tahun yang lalu waktu mengubah semuanya. Aku sudah tumbuh besar saat ini. Tak ada lagi ceramah selepas magrib lagi, tak ada pukulan sapu yang membangunkan aku sahur, tak ada lagi makan bersama dengan daun pisang yang memanjang, tak ada lagi Bayu yang pelan-pelan menguatkan dari belakang. Ya, tak ada lagi Ramadhan, semuanya hampir saja hilang. Tapi Ramadhan, semuanya seperti sama saja, ketika kamu berada disini. Bersamaku.

“Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam.”

“Pak Haji apa kabar?”

“Ya Allah, ane sampai pangling. Ente udah gede aja Fin.”

Aku tersenyum.

Begitulah Ramadhan, kadang waktu selalu merubah semuanya. Merubah cara pandang kita, merubah peran kita, megubah pola pikir kita, mengubah sebagian dari semuanya. Tapi satu yang tidak berubah. Keberadaanmu Ramadhan.