SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Mudik

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 30 Juni 2016
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)

SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)


Di project baru kali ini gue bikin sesuatu bernama SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) Semacam Daily Activity gue soal Ramadhan, cuma bedanya di sajikan lewat tulisan.

Kategori Acak

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Mudik

Seberapa jauh kita melangkah, seberapa sering kita berlari. Manusia tetap akan kembali ke tempat dia berasal. – Ayah.

Ramadhan ini bukan surat terakhirku masih akan ada beberapa surat lainnya. Hari ini aku ingin bercerita soal persiapan keluargaku menyambut mudik.

Ramadhan, hari ini aku berangkat mudik. Aku berangkat ke Surabaya, tempat paling nyaman untuk pulang. Kau tahu Ramadhan, aku ingat dulu ketika aku masih menjadi anak kecil yang merengek kepada ibunya untuk di belikan mainan baru. Aku ingat, waktu itu Surabaya hanyalah hamparan kota bias-biasa saja. Tapi kali seakan semuanya terasa berbeda, tempat paling nyaman justru tempat ketika berangkat.

--- 2006 ---

“Ayah kita akan mudik lagi?”

Ayah tersenyum dengan wajah yang menyejukkan. “Tentu, Nenek kamu pasti mau lihat pertumbuhan kamu, lagipula menengok kampung halaman sendiri itu menyenangkan tahu.” Kata ayah tenang.

“Kenapa kita harus mudik?”

Ayah melangkah perlahan ke arahku. Dia menekuk lututnya sehingga posisi aku dan ayah sejajar. “Seberapa jauh kita melangkah, seberapa sering kita berlari. Manusia tetap akan kembali ke tempat dia berasal.” Ayah megusap kepalaku lalu melanjutkan mengemasi barang-barang untuk pergi.

Aku mulai mencoba berpikir ulang apa maksud perkataan. “Ayah apa kita wajib mudik.” Tanyaku perlahan pada ayah.

Ayah kembali menengok kepadaku dengan senyum yang masih sangat manis. “Pulang kampung atau mudik itu budaya yang baik yang bisa kita terusin, tapi inget itu nggak boleh dijadikan kewajiban.”

“Kenapa?” Tanyaku kembali.

“Karena nggak ada perintahnya, yang ada adalah perintah menyambung tali silaturrahmi. Nabi pernah bersabda : Siapa yang suka untuk diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi. (HR. Bukhari 5986 & Muslim 2557). ” Kata Ayah dengan lembut. “Maksud dari ditambah atau dipanjangkannya umur adalah bahwasanya Allah ta’ala memberikan keberkahan pada umur, menganugerahkan kekuatan pada diri, dan kejernihan pada akal orang yang menyambung tali silaturrahmi. Sehingga kehidupannya penuh dengan amalan-amalan utama yang bermanfaat bagi dirinya di dunia dan di akhirat.” Tutup Ayah

Aku mengangguk kepada ayah, dan hari itu aku belajar sesuatu, sesuatu yang cukup sederhana tapi bermakna.

---

Ramadhan, hari ini sudah 1 dekade ayah pergi meninggalkan kami semua sekeluarga. Mudik setiap tahunnya bagiku menjadi sangat sepi dan tidak ramai seperti biasa-biasanya. Ramadhan, mudik tahun ini ada tambahan keluarga dari kakakku 2 orang, ya mereka adalah keponakan-keponakanku yang sangat manis.

Ramadhan, tinggal beberapa hari lagi kau akan pergi, di sepanjang perjalanan ke kampung kita masih akan bersama sampai pada saatnya suara takbiran berkumandang di masjid-masjid, panggilan kemenangan akan dating secara perlahan, Dan Ramadhan mudik tahun ini pasti akan sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Sebab kau pergi terlalu cepat, aku ingin mengakrabimu terus, lebih dari sekedar istimewa Ramadhan.

“Fin ayo siapin barang-barang kamu, kita berangkat sekarang.”

“Iya bu.”

Ramadhan, sampai jumpa di mudik tahun depan.