SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Teman

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 27 Juni 2016
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)

SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)


Di project baru kali ini gue bikin sesuatu bernama SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) Semacam Daily Activity gue soal Ramadhan, cuma bedanya di sajikan lewat tulisan.

Kategori Acak

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Teman

Berteman adalah menjadikan diri kita menjadi sepenuhnya manusia, lewat cara yang paling sederhana tapi membuat bahagia. – Arifin Narendra Putra

Ramadhan, apa kabar lagi?

Ini surat ke empatku untukmu, maaf baru sempat menuliskannya lagi. Sebentar lagi kau akan segera pergi, kan? Sebentar lagi, bagaimana tidak. THR sudah berada di titik paling bahagia seorang pegawai, toko-toko baju dan peralatan rumah tangga sudah banyak dikunjungi, pusat-pusat perbelanjaan dan perdagangan menjadi pusat perhatian. Semua orang bersuka cita karena berhasil menjalani 30 hari paling istimewa dengan dirimu, Ramadhan. Tapi aku tidak ingin merasa kehilanganmu, aku belum sepenuhnya bertakwa, pada apa-apa saja yang Dia kehendaki, pada apa-apa saja yang Dia tetapkan. Ketika hafalan ayat-ayat al-qur’an belum sampai di penghujung, kau sudah ingin pergi lagi meninggalkanku.

Tapi ini menjadi tradisi yang unik ketika kau akan pergi banyak orang yang akan bersuka cita dengan melakukan beberapa kegiatan yang dipersiapkan untuk hari raya. Disaat semua orang sedang berada di tempat-tempat umum, aku iseng Ramadhan, aku iseng kembali lagi ke sekolah, ya rumah keduaku yang bebas ku tinggali kapan saja.

Tak banyak yang berubah disana Ramadhan, tata letak ruangan itu, meja-meja kayu itu, papan tulis yang penuh dengan gambar-gambar manga yang dibuat adik kelasku. Ah, Ramadhan dulu pertama kalinya aku melakukan Pesantren Kilat di sini, sejenak menjadi hamba yang dengan sangat sabar bertakwa pada Tuhan.

Aku berjalan melipir ke tangga dengan perlahan aku mulai membuka lagi memory-memory soal sekolah dulu, Ramadhan, sekolah ini adalah saksi bisu ketika aku dan Aprilia bertemu, ketika aku dan teman-temanku bertemu dan berteriak bersama-sama dari atap gedung sekolah “KAMI ADALAH SANG PEMIMPI, DARI TEMPAT KAMI BERDIRI, MASA DEPAN AKAN KAMI TAKLUKAN!” Ya, seperti itu kira-kira, teriakkan sebagian teman-temanku dan juga aku dengan sangat optimis menaklukan masa depan.

Tapi sekarang mereka hilang, aku masih menatap kembali keseluruhan meja kelas. Ramadhan, aneh ya, teman-teman yang dulu nya bertumbuh bersama ketika SMK perlahan menjadi saling tidak mengenal satu sama lain, seperti mereka membuat dinding pembatas antara masa depan dan masa lalu, dan pada akhirnya selalu saja masa lalu yang ditakdirkan untuk di lupakan, kan?

“Kita tumbuh menjadi teman, menjalani semuanya sebagai sahabat, terjatuh layaknya saudara.” Kata salah seorang temanku waktu itu ketika semua acara wisudaku berjalan baik-baik saja, pelepasan dan perpisahan selalu saja menyakitkan, ada derai air mata disana, selalu saja ada kata yang terkunci dari balik prasangka tidak baik-baik saja bahwa kita akan bertemu lagi atau tidak, atau kita masih berteman kan?

---

Ramadhan, darimana asal muasal solidaritas terjalin? Bukankah mereka selalu saja merasuk ke dalam golongan-golongan dan pondasi yang kuat berdiri? Ramadhan, darimana muasal pertemanan tercipta di dunia ini? Aku masih tak mengerti Ramadhan, benar-benar tak mengerti. Layaknya seorang penulis yang kehabisan kata dan perlahan bunuh diri dengan kata-katanya sendiri. Ah, masa lalu selalu saja seperti itu, membuka lagi kenangan-kenangan indah yang hangat.

“Dari mana?” Kata Ibu selepas aku mengunjugi sekolah.

“Habis dari sekolah Bu.”

“Ngapain?”

Aku terdiam, sambil berjalan ke rak buku dan mengambil buku tahunan sekolahku. “Yah, mengenang.” Aku mulai melempar tubuhku ke atas sofa.

Ibu perlahan terdiam dan mulai berjalan ke arahku. “Nih bantu ibu buat bukaan, kamu emang mau buka puasa pakai air putih aja.” Sambil menyodorkan beberapa bahan-bahan masakan padaku.

Aku mengangguk sambil menaruh buku tahunan itu. Ramadhan, teman, barangkali adalah semacam tempat paling nyaman ketika semua hal yang meragukan datang, teman adalah sekumpulan orang yang membuat sejuk bagian terdalam hati kita dengan cara yang tak biasa. Ramadhan, teman barangkali adalah mereka yang datang dan pergi untuk tidak berkhianat.

Teman yang tidak berkhianat? Aku tahu jawabannya. Itu kamu Ramadhan. Ya, teman dari semua kegeliasahanku, kaulah temanku, lebih dari apapun. Kau tempatku bercerita, Ramadhan.

Kita tumbuh menjadi teman, menjalani semuanya sebagai sahabat, terjatuh layaknya saudara. – Salah seorang teman di pojok kelas.