SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Cinta Pertama

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 20 Juni 2016
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)

SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)


Di project baru kali ini gue bikin sesuatu bernama SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) Semacam Daily Activity gue soal Ramadhan, cuma bedanya di sajikan lewat tulisan.

Kategori Acak

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Cinta Pertama

Ramadhan, ini surat ketigaku untukmu. Ya, ketiga, dari sekian beberapa surat yang sudah kusampaikan padamu. Ramadhan, hari ini aku ingin bercerita sesuatu, yang indah dibandingkan apapun. Soal cinta dan perasaanku yang tertanam di dua lesung pipi seorang perempuan keturunan Cina – Sunda. Nama perempuan itu Aprilia Ramadhan.

Aku bertemu dengannya di gerbang-gerbang SMP, memandangnya seakan dia adalah bidadari yang tiba-tiba jatuh ke bumi, aku ingat pertama kalinya dia menyapaku Ramadhan. Ketika kami ternyata di pertemukan kembali di SMK yang sama, malam itu, di depan api unggun.

“Eh bisa nggak lo jangan berisik, sorry bukannya apa-apa cuma masalahnya gue ketua regu kelompok merah ini, kalau lo nggak bisa diem mending masuk tenda aja.” Katanya dengan cukup tegas.

Aku tak membalas apapun padanya malam itu, aku terus memperhatikannya lebih dari 1 menit ketika dia berbicara. Ahh, itulah serbuk cinta pertama yang kurasakan Ramadhan. Seperti gugusan bintang yang perlahan membuat simfoni indah di langit-langit malam. Ketika dia berjalan, seakan ribuan pasang mata memandanganya sebagai seorang Putri dari kerajaan dongeng, yang di perebutkan berbagai Ksatria yang berani sampai harus melawan para naga. Aku beruntung Ramadhan, bisa menjadi salah satu Ksatria itu.

---

Aku terus mengenalnya, terus berusaha untuk mengakrabi semua yang ada pada dirinya. Lesung pipinya yang membuatnya seribu kali lipat lebih manis ketimbang biasanya, rambut panjangnya yang terurai ketika ia berlari dengan landau, ah Ramadhan seandainya aku di perkenankan memperbudak waktu, aku selalu ingin berusaha menghentikan waktu sejenak untuk pelan-pelan melihatnya dari kejauhan.

Ramadhan, aku belum pernah jatuh cinta, tapi Aprilia dia sudah jatuh cinta dan berulang kali dan merasakan patah hati. Aku takut ketika aku melangkah untuk mendekatinya atau membuat semuanya saling terikat tak ada jaminan yang bisa membuat dia tidak patah hati karenaku. Aku takut ketika itu terjadi, dan terus berusaha untuk sebisa mungkin membatasi semuanya dengan perasaan ragu-ragu. Tapi Tuhan selalu menunjukan ke Maha RomantisanNya pada semua orang yang dia kasihi, 3 tahun aku menunggu Aprilia, dan tepat 22 April 2015 dia menerimaku sebagai kekasihnya, sebagai orang yang akan selalu membersamai dia senang dan susah. Aku tahu ini belum resmi secara agama, bahkan dalam agama tidak ada satupun ayat yang menjelaskan untuk berpacaran, semuanya hanya soal menikah. Ya, meresmikan dua manusia lewat sebuah perjanjian bernama ijab qabul. Tapi aku senang Ramadhan, senang. Karena dia tidak terlalu khawatir padaku. Tapi aku selalu merasa bersalah padanya, pada apa saja yang tidak membuatnya bahagia.

“Kenapa kamu mau nerima aku?” Kataku sambil perlahan menatap awan-awan yang bergerak secara perlahan.

Dia tertawa kecil dan perlahan menengok ke arahku. “Kenapa memangnya? Nanyanya ada-ada aja.”

“Ya mau tahu aja, emang nggak takut aku sakitin?” Dia terdiam sambil merundukkan wajahnya. “Aku masih amatir sama cinta, aku baru soal semua ini. Kamu sudah punya pengalaman dan sudah menjalin hubungan dengan beberapa orang, apa kamu nggak takut kalau aku jadi laki-laki selanjutnya yang menyakiti kamu?” Tanyaku pelan.

Dia menarik nafas, kemudian menaruh kepalanya di bahuku sambil sesekali menyeloteh tidak jelas, dia terus memandang area taman yang sejuk dengan seksama, perlahan mulutnya mulai berbicara dengan jelas. “Memang tidak ada jaminan apapun kamu bisa bikin aku bahagia, bahkan mungkin kamu bisa menyakiti aku lebih parah dari siapapun.” Aku masih menyimak apa yang dia katakan. “Tapi aku selalu percaya sama kamu, apapun itu, cinta buat aku adalah cara orang merayakan kebahagiaan. Bukan untuk membuat satu sama lain patah hati. Aku percaya sama kamu, dengan sederhana, dengan cinta yang biasa-biasa saja.”

Aku tersenyum sambil pelan-pelan bergumam Percaya. Ya, percaya, percaya, percaya…

---

Ramadhan, 1 tahun berlalu dari waktu itu, terima kasih masih mempertemukan aku dengan dia, perempuan paling manis yang pernah ku temui setelah Ibu. Terima kasih masih membuat waktu berharga antara kami berdua tidak sia-sia. Terima kasih. Ini adalah kali kedua aku dan Aprilia bertemu denganmu secara bersama-sama.

Ya, Ramadhan, aku dan dia masih disini, menjalani sisa hari-hari kami bersamamu, dengan sukacita cinta, dengan perasaan paling bahagia, lewat cara paling sederhana.

Ramadhan, terima kasih (lagi)….