SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Ayah

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 15 Juni 2016
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)

SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)


Di project baru kali ini gue bikin sesuatu bernama SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) Semacam Daily Activity gue soal Ramadhan, cuma bedanya di sajikan lewat tulisan.

Kategori Acak

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Ayah

Ramadhan, kemarin adalah tarawih pertamaku setelah sekian lama. Aku lalai karena meninggalkan teman-temanmu ketika kalian sudah datang dengan tepat waktu, maaf. Pekerjaan yang menguras tenaga mungkin tak bisa kujadikan alasan agar aku tidak merasa bersalah telah meninggalkan Tarawih. Aku ingat pertama kali ketika menginjakkan kaki di masjid ini Ramadhan, ketika umurku mulai beranjak 7 tahun, pertama kalinya Ayah mengajakku sholat Tarawih.

“Tarawih adalah cara kita menguatkan iman di bulan Ramadhan ini.” Kata Ayah waktu itu sambil perlahan memakaikanku peci dan sarung yang ia beli sepulang bekerja.

Aku terdiam menatapnya yang terus melipat sarung di bagian pinggangku. “Ayah, apa hanya dengan Tarawih saja iman kita akan menjadi kuat di bulan Ramadhan?”

Ayah terdiam menatapku dengan penuh bahagia, rupanya anaknya tumbuh dengan cukup baik. “Itu hanya salah satunya, kita bisa menguatkan iman bukan hanya lewat Tarawih saja. Pejelasan yang gampangnya, Tarawih adalah bonus yang diberikan Tuhan agar kita bisa menambah pahala di bulan yang penuh berkah ini.” Ayah tersenyum sambil berdiri dan memanggil ibu. “Bu, ayo bu nanti Ayah terlambat.”

“Iya Ayah.” Sambil setengah berteriak dari dalam kamar ibu mulai bergegas menggantungkan mukenanya. “Ayah udah siap?”

“Untuk apa?”

“Bukannya Ayah akan jadi imam tarawih malam ini?” Kata ibu memastikan Ayah tidak lupa dengan tugasnya.

“Oh iya Ayah lupa, ya sudah ayo.” Ayah memegang tanganku dan tangan ibu, kali ini berdiri seorang lelaki paling mengagumkan yang pernah ada.

Dalam bulan Ramadhan, sholat tarawih adalah bonus yang Tuhan adakan agar kita mendapatkan pahala lebih dan selalu bertakwa. – Ayah.

---

Ramadhan, aku mengingat itu, tarawih pertamaku ketika berumur 7 tahun, itu adalah kali pertama aku belajar puasa, Ramadhan. Belajar menaati semua peraturan yang kau bawa. Lucu ya, bagaimana seorang umat belajar tentang sebuah ketaatan, tentang sebuah ketakwaan. Tapi aku menyukainya, aku bahagia menjalaninya. Ah, ini seperti aku dan kamu berada pada satu titik yang paling tinggi Ramadhan, lalu kita melompat bersama dan kemudian perlahan berteriak. Bebas..

Ayah selalu menggambarkan iman adalah semacam cara agar kita terbebas, bukan bebas dari apapun yang kita suka ataupun tidak suka, tapi bebas dari apa-apa saja yang menyesatkan dan meragukan. Iman adalah tempat kita bertekuk lutut pada keadilan Tuhan, pada apa saja yang Ia tetapkan.

Ramadhan Ayah selalu bilang “Kita hidup di dunia yang Tuhan ciptakan, kita berjalan dengan kaki yang Ia ciptakan, kita bernafas dengan menghirup oksigen yang Ia sediakan. Karena semua hal yang ada di semesta ini adalah tentang diriNya, jadi kita harus menaati peraturan yang sudah Ia ciptakan di dunia ini.” Kata Ayah selepas sholat tarawih, sambil meminum kopi yang baru saja dibuatkan ibu dia mulai bercerita kembali. “Sama seperti kamu masuk sekolah baru, pasti ada peraturan dan ketaatan yang tidak boleh dilanggar, kan?”

Aku mengangguk tanda bahwa aku setuju.

“Begitupun aturan yang sudah Ia buat di semesta ini. Tak ada satupun yang boleh kita langgar, paham?”

“Paham Ayah.” Senyumku mulai mengembang.

---

Ramadhan, kali ini usiaku 18 tahun sudah, aku sudah tumbuh menjadi manusia yang barangkali bijaksana. Ramadhan, orang-orang melihatku sebagai seorang penulis, padahal aku belum pernah menerbitkan satu buku sama sekali, terakhir kali aku di mintai tolong sharing di salah satu sekolah SMP di daerah Depok untuk membahas tulis-menulis dan kreatifitas, tapi Ramadhan, aku masih benar-benar amatir. Aku menyanggupi itu dengan izin kakakku, selang 11 tahun jarak ketika tarawih pertamaku dan juga sifat manjaku. Kali ini berdiri seorang laki-laki biasa-biasa saja yang ingin lebih dalam mengakrabimu Ramadhan.

Ramadhan, Ayah meninggal ketika umurku menginjak 9 tahun, sejak saat itu tak ada imam tarawih yang baik di masjid yang bisa ku tempati, tak ada nasihat-nasihat berharga yang masuk ke kepala, tak ada lagi seruput kopi tengah malam, tak ada lagi peci dan pakaian muslim baru setiap malam takbiran. Hanya ada aku dan kamu Ramadhan.

Terima kasih, Ramadhan, kali ini kau memperlihatkan kenangan yang paling indah. Terima kasih.

Ini tarawih pertamaku, sejak kau datang tahun ini, tapi aku belum terlambat, kan? Ah, kau masih seperti dulu Ramadhan, membiarkan siapapun menerima keberkahan yang kau bawa.

Ya, masih seperti dulu.


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    BILA disuruh memilih yg paling saya suka diantara 3 tulisan 'SAHUR'mu ini Fin, maka saya paling suka yg versi ini, Ayah.

    Tiap kamu bercerita tentang sosok Ayah di tulisanmu, kesan dan rasanya selalu kuat dan tersalurkan ke pembaca. Baru kali ini saya bisa paham kenapa bisa seperti itu.
    .
    Tulisan ini bagus, Fin. Saya jarang memberi orang lain paket lengkap. Apalagi memuji. Betul begitu, Fin?