SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Keluarga

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 14 Juni 2016
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)

SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan)


Di project baru kali ini gue bikin sesuatu bernama SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) Semacam Daily Activity gue soal Ramadhan, cuma bedanya di sajikan lewat tulisan.

Kategori Acak

1.6 K Hak Cipta Terlindungi
SAHUR (Surat Aku Hanya Untuk Ramadhan) - Keluarga

Puasa pertama kan biasanya sama keluarga – Ibu.

Ramadhan, maafkan aku yang tidak bisa menyambut dengan suka cita hangat, dengan kemeriahan kembang api yang sangat megah. Ah, mungkin kau tak memerlukan semua itu, kau hanya membutuhkan penyambutan sederhana, semacam rasa syukur yang diam-diam ku selipkan dalam bingkai-bingkai hatiku.

Ramadhan, aku senang kau datang (lagi) untuk kesekian kalinya, menemui diriku yang belum tentu suci untuk menerima semua keberkahan yang kau bawa. Aku hanya ingin bercerita Ramadhan, menemukan teman di balik sekat-sekat ketidaksucianku pada Tuhan. Aku tertunduk ketika kau datang mengetuk pintu hatiku, seakan ada sebuah kebahagiaan datang dengan cara yang tiba-tiba dan perlahan menyebar tawa dari setiap sudut-sudut kegelisahan.

Ramadhan, ketika pertama kali kau datang aku tak sempat berkumpul bersama keluarga. Aku bergumul dengan kefanaan dunia yang barangkali menghapus diriku dari semua tawa yang pecah bersama orang-orang terdekat kita.

“Puasa pertama, kan biasanya sama keluarga.” Keluh Ibu ketika aku mulai pamit untuk bekerja.

Aku terdiam menatapnya penuh dengan penyesalan, aku tahu bagaimana rasanya meninggalkan seseorang yang ku sayang di bulan yang penuh berkah. Aku masih merenung, berusaha untuk merabamu Ramadhan, menemukan cara paling bahagia bersama mereka.

Ramadhan kalau boleh aku bercerita, adalah hal yang paling menyakitkan ketika riuh-riuh kentongan dan obor-obor kampung berkeliling, aku tidak berada disana, tidak berada bersama keluarga. Adalah hal paling menyedihkan ketika macetnya jalanan menjadi makananku setiap harinya, lampu-lampu ibu kota mulai membuat hening antara aku dan dirimu. Membuat sayup semua keriuhanmu. Aku masih menatap foto itu Ramadhan, foto ketika aku dan keluargaku menyambutmu dengan suka cita bersama, umurku yang baru memasuki 5 tahun membuatku menjadi manusia paling bahagia ketika memegang obor dengan setelan kokoh dan peci terbaik yang ku miliki. Mamah dan Kakak senantiasa tersenyum di sampingku, mereka memegangiku erat, sambil sesekali menjaga agar api yang ada pada oborku tidak mati terkena angin. Suara-suara teman seumuranku mulai riuh meneriaki dirimu.

“SELAMAT DATANG RAMADHAN!” Kata mereka sambil sesekali berbisik satu sama lain. “Nanti kita buka bersama bareng ya.” Senyumnya mulai mengembang perlahan.

Ibu dengan pelan-pelan menepuk bahuku seraya berbisik. “Puasa pertama kita masak Ayam bareng ya?” Tanya Ibu dengan lembut, aku tersenyum sambil perlahan mengeratkan peganganku padanya.

Tapi waktu tak pernah berbohong, aku sudah bertumbuh lebih cepat daripada waktu itu sendiri, semuanya berubah. Aku sudah tak memegang obor itu lagi, tak memasak Ayam bersama Mamah untuk berbuka lagi, tak menggunakan kokoh dan peci terbaik yang ku miliki, karena mungkin sekarang juga sudah tidak muat atau sudah tidak sempat. Kali ini aku memakai kemeja hitam, bercelana jeans, memakai kaca mata yang kupakai ketika sedang bekerja.

Ramadhan, ini kali kesekian yang entah keberapa kita bertemu kembali. Setiap pertemuan kita selalu saja menyisakan perubahan padaku atau padamu. Aku masih menatap foto itu Ramadhan, rasa bersalah pada waktu, kerinduan yang mendalam pada riuh suara yang menyambutmu. Aku berubah, menjadi manusia yang dengan sadar menjadi biasa-biasa saja dengan kehadiranmu. Seharusnya ini istimewa, lebih dari apapun ini tentang waktu yang berubah begitu cepat, tentang keluarga yang selalu kutinggalkan ketika akan berbuka, tentang semua itu, hal-hal yang kurindukan ketika kau datang.

Kau menyatukan cinta keluarga dari sudut yang tak pernah disangka, seperti itulah dirimu, Ramadhan. Datang dengan segala keberkahan yang kau punya. Menemuiku, manusia yang boleh jadi tidak suci tetapi Dia izinkan aku bertemu kembali denganmu.

Cinta pertama ketika umur 5 tahun...

---

Tuutttttt... Tuuuttttt... Tuuuttttt...

“Halo.”

Aku tersenyum, suara itu Ramadhan, suara yang selalu membuatku merasa tenang. “Bu aku pulang cepat kali ini, kita buka bersama ya.”

“Wah ibu akan masakin Ayamnya, kita akan makan seperti biasanya, nanti Kakak akan ibu suruh datang. Yaudah pokoknya cepat ya pulangnya, kamu yang pimpin doa buka puasa kali ini. Kan sudah besar.” Seru Ibu sumringah, lalu dengan cepat mematikan telponku.

Aku tersenyum. Ramadhan, terima kasih untuk kesempatan yang kau berikan.

Ya, hanya terima kasih.