Persimpangan Jalan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Mei 2016
Persimpangan Jalan

Aku masih berjalan mengitari kota Yogya dengan seksama, dengan kemeja yang berwarna biru  dan bermotif kotak-kotak, sepatu sneakers yang baru saja ku beli di salah satu toko di daerah Malioboro. Aku berjalan layaknya seorang turis yang sedang berwisata ke kota impian. Perlahan menyapa dengan bahasa yang ramah dan lembut, menatap keramaian dengan penuh kesenangan. Senang rasanya ketika setiap orang mampu membaur antara satu dengan yang lainnya.

Aku berhenti di persimpangan jalan raya yang menghubungkan anatara toko baju terkenal yang ada di Yogya dengan sebuah cafe elegan yang masih tutup. Jauh dari pandangan aku melihat banyak orang berjalan ke tempat kerjanya, orang-orang di Yogya selain ramah mereka lebih suka memakai sepeda ontel atau berjalan kaki. Entah, kenapa seperti itu, tapi dari sedikit yang ku tahu itu adalah cara paling efektif bersosialisasi.

Seperti senja aku memandangmu, seperti kedua belah rel kereta yang tersambung perlahan lalu menyatu, seperti kerikil-kerikil pantai yang perlahan tersapu ombak. Seperti itu semua aku berjalan tanpa sadar ke arah palung hati yang dalam, melihatmu dari balik senja yang ramah, menanti cahaya fajar untuk memulai semuanya.” Perlahan suara itu berada di belakangku, aku kenal puisi itu.

Aku menoleh perlahan sambil menebak siapa orang yang dengan sengaja membacakan puisi itu. “Kamu.” Seru ku ragu, perlahan perempuan itu tersenyum dan mulai melangkah maju. Satu demi satu langkah, jantungku mulai berdegup cukup cepat. Perlahan ketika ia mulai mendekat, tepat berada di depanku jantungku berdegup tidak karuan. Kadang cinta mempunyai tanda-tanda yang nyata, seperti degupan jantung kita menjadi sangat fluktuatif.

“Jadi tuan Hiperbola lagi jalan-jalan nih sendirian.” Dia tersenyum padaku, sambil memajukan wajahnya dan tertawa. “Masih inget saya, kan?”

“Sepertinya masih.” Kataku mantap. “Nina, kan?”

“Saya kira sudah lupa.” Dia menyodorkan sebuah kertas yang sudah agak berantakan padaku. “Ini puisi kamu keselip di tas saya waktu itu.”

Aku mulai bertanya-tanya kenapa dia mengembalikannya. Padahal puisi yang waktu itu kubuat di dalam kereta adalah untuknya. Entah dia sadar atau tidak tapi kurasa dia tidak berusaha untuk sadar. “Buat kamu aja.” Tanganku mulai mendorong tangannya, memastikan kalau puisi itu harus ia simpan.

“Serius?”

Aku mengangguk. “Lagipula saya bisa buat lagi.”

Senyumnya perlahan mengembang menjadi tawa. “Makasih ya.”

Aku mengangguk.

---

Cinta, kadang seperti sebuah goresan tinta. Kadang berliku, kadang lurus, kadang melingkar. Kadang setiap orang salah memilih pola ketika berhadapan dengan cinta, kadang pola yang harus ia ambil adalah melingkar tapi tak sengaja bertemu dengan persegi panjang. Kadang cinta akan membawa kita pada apa saja yang membedakan, ya beda. Antara rasa dengan pikiran, ketika kita jatuh cinta kita tak pernah menilai pikiran dan perasaan kita sedang berdebat atau tidak soal seseorang yang ada di depan kita. Tapi yang kita tahu hanya satu, semuanya terlihat sama indah dalam kenyataan. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, sebuah pengharapan besar pada apa saja yang membahagiakan.

Aku dan Nina berjalan bersama kali ini, mengantarnya ke kampusnya. Aku mulai memperhatikan semua tentang dia, soal senyumnya yang paling indah sedunia, soal kerudung putihnya yang perlahan tertiup angin, soal ransel berwarna hijau tosca dengan tali panggul berwarna coklat. Entah dari mana dia mendapatkan semua keindahan itu, tapi aku merasa nyaman dalam hal yang jauh berbeda. Seperti jatuh di antara rerumputan bunga-bunga indah yang sedang mekar-mekarnya.

“Emang hari ini ada kelas apa?” Tanyaku tiba-tiba.

Dia menoleh, sambil mulai berpikir dengan menyentuh dagunya memakai jari telunjuk. “Nggak ada sih, saya cuma mau meminjam beberapa buku untuk kemudian saya pelajari.”

“Untuk apa?”

“Agar saya bisa jadikan bahan untuk mengajar.”

Aku tersentak perlahan aku berhenti tiba-tiba. “Mengajar? Kamu guru?”

Dia mengangguk dengan lembut. Ah seperti ada ribuan bunga mawar jatuh ke kepala, melihat seorang paling cantik yang pernah ada. “Iya, saya mengajar matematika.”

Aku diam-diam tersenyum lugu, sambil memperhatikan wajahnya yang ayu dan tertabrak sinar matahari. Dia mulai mengambil handphonenya dan perlahan menekan beberapa tombol. Aku suka ketika dia melakukan apapun, seperti ada badai kebahagiaan yang datang dan menerpa seluruh lapisan tubuhku, dengan angin yang segar dan semua hal yang indah. Aku bersintesis dengan cinta, menjadi manusia paling bahagia.

“Kamu yakin mau menemani saya sampai kampus?”

“Sampai tempat kamu mengajar juga tidak apa-apa sih, saya lagi kosong hari ini. Jadi mau mengisi waktu dengan jalan-jalan sehat di sekitaran kota Yogya.”

Dia tersenyum. “Mau ikut ke alun-alun nanti malam?”

Aku menoleh dan tersenyum. “Boleh.”

---

Hidup kadang bisa menjadi begitu kurang ajar dari dari sebelumnya, nasib buruk selalu datang lebih banyak dari yang paling sedikit. Kadang bergantian namun kadang semuanya hanya bisa membisu dalam balutan kata yang tertahan, dari rasa yang selalu ingin di ungkapkan. Selalu ada perasaan yang menjenguk untuk selalu kita kenang, akan selalu ada rasa yang tertinggal dari palung hati yang paling dalam, menunggu untuk di katakan. Akan selalu ada perasaan paling asing saat kita sedang tertawa dan membeku bersama waktu  dan merekam setiap kejadian lalu perlahan menjadi bagian dari peristiwa yang kita buat.

Bagiku, cinta adalah semacam cara agar kita bisa menerka perasaan masing-masing. Terkadang yang tidak terlihat justru lebih bisa memaknai perasaan lebih dari apapun. Cinta adalah semacam peristiwa kebetulan yang telah Tuhan berikan kepada para hambaNya. Seperti rasa pertanggung jawaban pada hati, seperti perasaan paling fana yang pernah ada didunia. Seperti itulah kita memaknai semuanya, semacam pengalih perhatian pada apa saja yang menyedihkan, pada apa saja yang meburukkan. Pada apa saja yang membahagiakan.

Aku masih memandang halaman kampus itu, masih melihat keragu-raguan dari jurang keprihatinan. Suasana begitu ramai sehingga suara burung saja sulit untuk ku dengar. Perlahan aku mengintip dari kejauhan perpustakaan kampus Nina, seperti perpustakaan pada umumnya banyak sekali buku-buku bersejarah yang sangat tua. Aku menemukan beberapa buku-buku yang sangat bagus, seperti buku lawas yang di tulis oleh Chairil Anwar. Sebuah kumpulan puisi. Dulu aku suka membaca beberapa buku-buku lawas hanya karena senang ketika menemukan pemikiran orang-orang terdahulu tertanam pada sebuah tulisan yang bisa di baca ulang. Sewaktu kecil aku suka membaca buku-buku filsafat yang membahas tetang sejarah manusia diciptakan, kemudian zaman perlahan semakin berbeda aku mulai membaca novel dan beberapa artikel yang juga tidak kalah baik ilmu yang mereka berikan. Novel pertamaku yang kubaca adalah Seribu Malam Untuk Muhammad yang ditulis oleh Fahd Pahdepie. Aku suka gaya bercerita penulis yang satu ini, dia begitu mengalir bagai air yang perlahan membawa pada ketenangan. Bagaimana cara dia mengisahkan perjalanan Muhammad Rasulullah semasa ia hidup. Dari situlah aku mulai menyukai sastra dan berkembang untuk menjadi seorang penulis yang nantinya bisa membuat gagasan yang lebih baru untuk kemudian di sebarkan.

Dulu banyak hal yang aku percaya soal ilmu, ketika melihat tumpukan buku-buku yang sebanyak ini aku ingat ketika kecil aku pernah bilang hal konyol pada guru bahasa indonesiaku “Ibu, membaca itu adalah cara kita menemukan keberuntungan.” Kataku dengan polosnya.

“Kenapa seperti itu?”

Aku menggeleng dengan ragu. “Aku tidak tahu, aku hanya yakin dengan perkataanku.” Aku malu setengah mati, tapi guru bahasa indonesiaku mulai mendekat perlahan sambil memegang kepalaku dan tersenyum manis dengan tatapan ramah sederhana.

“Kamu tidak perlu tahu hari ini, nanti akan paham dengan sendirinya.” Senyumnya kali ini mengembang menjadi tawa yang menyenangkan. Aku tersenyum padanya.

Soal keberuntungan aku teringat perkataan temanku Kristiyanti “Beberapa orang memang terlahir untuk menjadi beruntung, namun betapa berwarnanya hidup seseorang yang dilahirkan sebagai orang yang beruntung.” Aku tertegun ketika dia mengatakan itu, dia menatap langit-langit dengan keteguhan hati yang paling dalam. Dengan sandaran keyakinan pada dirinya dia bertahan pada keberuntungan yang entah akan berpihak padanya atau tidak. Namun kadang seperti itulah semuanya berjalan, keberuntungan yang barangkali membawa kita pada lubang-lubang kebaikan. Aku masih melihat Nina berdiri memilih beberapa buku yang akan ia pinjam, mungkin seperti ini juga yang disebut sebagai keberuntungan. Semacam persetujuan Semesta pada pertemuan dua orang yang belum tentu bisa bersama satu sama lain. Tapi aku yakin, kali ini beruntung hanya soal bagaimana takdir membersamai kita dalam hal-hal yang terbilang baik. Ya, seperti itulah caranya berkerja.

---

“Gimana makananya?” Tanya Nina dengan ramah padaku.

Aku masih menyuap nasi kucing yang baru saja akan kulahap untuk yang ketiga kalinya. “Enak.” Kataku tersenyum padanya. Aku menatapnya dengan penuh perngahrapan bahwa dia juga mempunyai perasaan yang sama padaku. Malam semakin dingin, alun-alun kota Yogya semakin ramai setiap detiknya menuju tengah malam, dan para pemusik jalanan semakin ramai menyanyikan lagu-lagu ciptaan nya untuk kemudian mereka persembahkan pada penonton jalanan.

“Saya suka bagaimana cara mereka bernyanyi.” Katanya dengan penuh kebahagiaan. “Mereka mandiri, tidak bergantung pada label manapun dan pada perusahaan rekaman manapun. Suara mereka juga unik, kadang suara mereka menjadi lebih bagus dari pada penyanyi-penyanyi yang ada di televisi. Mereka memecah suasana malam sehingga meramaikannya.”

Aku tertawa kecil. “Mau ikutan?” Dia menggeleng. Perlahan aku mulai menaikkan satu alisku. “Saya sih yakin kamu takut di ejek karena nggak bisa nari.”

Wajahnya berubah menjadi sangat kesal padaku. “Enak aja kalau ngomong.” Nadanya meninggi perlahan. “Kita buktiin, ayo.” Serunya sambil menarikku yang masih tersenyum karena tingkahnya yang tidak karuan anehnya itu.

Sang pemusik jalanan itu perlahan mulai melantunkan lagu Melly Goeslow Ada Apa Dengan Cinta dengan instrument yang lebih cepat, perlahan aku menari bersama Nina, malam menjadi begitu indah ketika perasaan yang tak karuan mulai masuk perlahan menuju perasaan yang paling dalam. Aku merasakannya, bintang-bintang menemani kami menari, Nina tertawa dengan riang, aku mulai tersenyum melihatnya. Kerudungnya mulai tertiup-tiup angin malam, sambil sesekali menyeka keringatnya yang kadang mulai mengair dari atas kepalanya. Mungkin ini yang namanya keberuntungan, sebuah pertemuan kembali di persimpangan jalan.