Impian dan Kebanggaan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Mei 2016
Impian dan Kebanggaan

Mah aku sudah sampai Yogyakarta dengan sempurna, walaupun cukup lama waktunya. Besok aku akan mengurus beberapa berkas untuk kemudian kuserahkan pada pihak kampus. Whatsapp pertamaku pada Mamah ketika sampai di sini. Aku tak ingin membuatnya khawatir. Entah, aku sebenarnya tidak senang ketika harus kuliah di Yogya, tapi apa boleh buat ini hanya untuk mereka. Dua orang yang sudah membesarkanku.

---

Keesokan harinya, aku mulai menyiapkan beberapa berkas untuk kemudian kuserahkan pada pihak kampus. Aku mulai bersiap berangkat, meyiapkan beberapa barang-barang yang mungkin akan gunakan ketika berada disana. Seperti yang dilakukan orang-orang Jakarta lainnya yang kuliah disini, aku menggunakan becak untuk pergi ke kampus. Ya hitung-hitung sambil menikmati suasana kota ini.

Aku suka disini, padahal baru pertama kali kesini dan baru sehari juga. Disini orangnya ramah-ramah, begitu baik, tidak mengenal kasta satu sama lain. Aku mulai memotret beberapa suasana yang menurutku mempunyai daya tarik tersendiri bagi Yogyakarta, seperti pasar-pasar yang ramai sepajang jalan Malioboro, atau tukang becak yang mengayuh becak-nya secara perlahan sambil menghibur penumpangnya. Satu hal yang kusukai dari tukang becak adalah bonus hiburan yang mereka berikan, entah kenapa atau hanya aku merasakan bahwa tukang becak secara perlahan akan lebih akrab dengan kita sepanjang perjalanan. Semacam trik untuk membuat penumpangnya nyaman bersamanya.

“Baru kesini ya Mas?” Seru tiba-tiba tukang becak yang kutahu namanya adalah Pak Wardiman. Kulitnya agak gelap, dia memakai kaos olahraga salah satu sekolah dari Yogya. Sambil menyeka keringatnya dengan handuk yang ada pada pundaknya dia tersenyum padaku.

“Iya Pak, kok tahu.” Jawabku singkat.

Dia tersenyum. “Mas, mas saya ini sudah jadi tukang becak 4 tahun. Saya tahu orang-orang yang kalau datang pertama kali ke Yogya ya, seperti masnya gini. Memotret dengan kamera, tersenyum melihat keramahan warga saat di pasar. Sudah hafal mas.”

Aku tertawa, dia masih mengayuh becaknya dengan sangat kuat. “Waduh.. Saya penumpang yang ke berapa Pak?”

“Kalau maksud mas penumpang pendatang, mungkin yang ke 105 mas. Tapi kalau penumpang yang paling Guantenggg. Ini pertama kalinya.” Katanya sambil tertawa.

Aku tertawa sambil perlahan menaruh kameraku pada tempatnya. “Ah Bapak, bisa saja.”

Kurasa aku sudah mulai akrab dengan suasana yang ada di Yogya. Kota yang menyimpan banyak sekali hal-hal indah menurutku, dulu aku pernah bermimpi liburan bersama keluarga kesini. Hanya saja selalu tidak sempat karena banyak sekali waktu yang terbuang untuk pekerjaan. Ya begitulah, kadang apa yang kita inginkan tidak selamanya bisa kita dapatkan, namun seperti sekarang, ketidaksengajaan akan mempertemukan kita pada keinginan tersebut.

---

Tak selang berapa menit kemudian, aku sampai pada kampus yang kutuju. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Suasananya cukup ramai, banyak sekali orang-orang yang hebat menurutku berada disini. Aku mulai melangkahkan langkah pertamaku di kampus ini, kampus yang barangkali banyak orang yang ingin kuliah disini. Tapi aku sangat beruntung bisa berada disini.

Aku menatap ke sekitar, orang-orang menatapku lekat, entah kenapa mungkin mereka beranggapan aku adalah orang asing yang dengan beruntung dipersilahkan masuk daerah kampus. Aku mulai mencari bagian tata usaha untuk menyerahkan beberapa berkas, dan kemudian mencari kelas. Tak seperti kubayangkan, yang aku kira setiap pendatang yang kuliah disini akan terbawa dengan sifat dan kemurahan hati orang-orang disini. Tapi pada kenyataannya aku tak menemukan itu, beberapa orang yang ku perhatikan dari jauh dan ku tebak mereka adalah pendatang memandangku dengan sinis, seperti berbicara dalam hatinya anak baru nih kayaknya. Tapi aku tak pernah memperdulikannya, ada salah seorang laki-laki yang perlaha menatapku begitu tajam, dengan wajah yang kutahu Anak Jakarta pasti. Gumamku, dan perlahan aku mulai pergi dari hadapannya. Tak enak hati aku di tatap seperti itu.

Setelah menyerahkan semua berkas yang diperlukan untuk data disini, aku mulai mencoba beradaptasi dengan suasana yang ada disini. Satu hal yang kupelajari ketika kita memasuki suatu sekolah atau kampus sebaiknya kia pergi ke kantin. Karena hanya ditempat itulah kita bisa membaur layaknya orang lama. Setelah memesan beberapa makanan aku mulai duduk di ujung kantin, sendirian. Aku mulai menyantap makananku perlahan, lalu mulai merapikan beberapa buku yang akan aku baca dikantin. Sambil mengeluarkan laptopku untuk sesegera mungkin menyelesaikan tulisan yang harus keberikan pada editor sepulangnya dari sini.

“Hey!” Teriak seorang laki-laki dari muka pintu kantin. “Siapa yang bernama Dava disini?!” Wajahnya sangat ganas, aku tak sempat berpikir bahwa Dava yang dia maksud adalah aku, dalam hatiku aku berdoa semoga bukan aku. Karena ini akan terdengar lucu, aku yang baru saja sampai kemarin siang tiba-tiba sudah mendapatkan masalah dengan orang lain. Aku tak suka mencari masalah karena pada akhirnya akan menimbulkan perasaan sakit hati pada beberapa orang.

“Siapa yang namanya Dava?!” Wajahnya lebih seram daripada hantu-hantu ada di film horor kita. Dari ujung kantin yang lainnya, seorang laki-laki mengangkat tanganya, aku bersyukur ketika dia mengangkat tanganya. Artinya bukan aku yang dia cari.

“Kamu yang namanya Dava?” Laki-laki itu bertanya dengan nada yang lebih lembut kali ini.

Laki-laki yang namanya sama denganku itu mengangguk ketakutan. “I...Iya.” Jawabnya gugup.

“Kamu anak baru?”

Wajah sang laki-laki bernama Dava itu langsung mengerenyit aneh. “Anak baru? Bukan saya anak Fakultas Hukum sudah semester 4.” Dan dari jawabanya aku sudah mulai menduga, akulah Dava yang dia cari.

Perlahan tapi ragu aku mulai mengangkat tanganku dengan gugup. Gemetaranku makin menjadi ketika tanganku sudah terangkat dan semua orang memperhatikan dengan seksama. Layaknya ada sebuah panggung besar yang perlahan ingin menunjukan akulah bintang utama malam ini. Dan sekarang aku layaknya bintang yang lainnya, gugup, gemetar ketika semua orang memperhatikan secara perlahan.

“Saya Dava yang kamu maksud.”

Laki-laki yang sedari tadi mencariku itu perlahan mulai menghampiriku dengan tatapan tajam. Dia mulai melangkah layaknya seorang Ayah yang akan memarahi anaknya. Ketika sampai tepat di hadapanku dia mulai tersenyum aneh dan perlahan menaruh tangan kananya di atas mejaku. “Dava.” Tiba-tiba raut wajahnya menjadi sangat gembira disusul dengan sebuah jabatan hangat yang terpaksa aku sanggupi.

Aku terheran-heran, dengan penuh pertanyaan aku mulai mepersilahkannya duduk. Orang-orang mulai tenang, mereka kembali pada makanannya masing-masing. “Siapa ya?”

“Saya Dino, saudara jauhmu.” Sahutnya.

“Saudara? Saya tidak pernah punya saudara di Yogya, saya rasa kamu salah orang.” Aku mulai harus beranjak pergi agar semuanya tak tambah runyam.

“Tunggu..tunggu.” Dia menarik tanganku ketika aku akan pergi. “Dengarkan dulu penjelasan saya.” Wajahnya berubah menjadi serius, aku mulai berusaha untuk menghargai perkataannya. Jelas saja, kita hidup di negara demokrasi dengan dasar membiarkan setiap orang bisa mengemukakan pendapatnya, kan? Akan menjadi warga negara yang tidak tahu aturan aku jika menghalanginya berbicara.

“Saya ini anak dari Adiknya Ayahmu.” Jelasnya perlahan

“Om Hengki? Kamu Dino yang waktu itu sering naik tangga terus jatuh terguling-guling kebawah itu?” Kataku sambil memastikan dia benar-benar saudaraku.

“Iya. Sepertinya yang kamu ingat hanya bagian paling buruknya saja.” Wajahnya mulai datar.

Aku tertawa cukup keras, dan kembali aku menjadi perhatian banyak orang. “Kamu Din, kenapa jadi gini sih? Rambut ikal, tampilan seperti orang kantor yang gagal. Kebentur kepalamu hari ini?”

“Oh baru ketemu kamu sudah menghina saya ya?”

Aku berhenti tertawa. “Maaf.. Maaf saya tidak bermaksud seperti itu.”

“Sudahlah tidak apa-apa, nanti setelah pulang dari sini kamu ikut saya ya, Ayahmu menitipkan kamu sama ayah saya, kamu akan tinggal dirumah saya.”

Aku mengangguk perlahan, dan dia mulai tersenyum aneh kembali. Aku tak pernah bisa menebak senyumnya sejak awal, perlahan dia beranjak dan meninggalkan rempah roti yang berantakan di mejaku. Aku mulai fokus kembali pada tulisanku, dan bukankah menarik hidup yang tidak pasti? Aku pernah membaca sebuah tulisan penulis favoriteku Fahd Pahdepie dia bilang  jangan pernah menebak apa yang terjadi besok, karena jika kita tahu apa yang terjadi besok hidup menjadi tidak menarik lagi. Mungkin seperti itu yang aku rasakan kali ini, pertama kali datang ke Yogya bertemu dengan perempuan cantik bernama Nina, walaupun mungkin membutuhkan waktu lama untuk mencari keberadaannya, dan bodohnya aku tak bertanya dimana dia kuliah. Kedua aku bertemu saudara jauh yang dulu sering aku bully habis-habisan, dia adalah teman sekaligus sahabat yang sangat berarti bagiku dan dia sekaligus orang yang men­­-delete semua tulisanku ketika akan aku berikan pada penerbit. Yah waktu memang seperti itu, membawa pada jalan-jalan yang tak pernah kita duga, membawa pada pertemuan-pertemuan yang tak pernah kita sangka. Lucu, tapi kurasa cukup untuk menjadi pegangan hidup. Jangan menebak apa yang terjadi hari esok Kata Fahd lagi.

---

Pikiranku mengambang ke awan-awan

Melihat keseluruhan diriku dari ketinggian

Aku melihat banyak orang buta akan kebenaran

Hidup dalam kegelisahan, aku masih merana

Mencari yang tiada, bertemu dengan yang fana

Cinta.... Cinta... Cinta

Seperti butiran embun aku menyebutkannya

Tak perlu wadah barangkali, hanya sebatas... Kesediaan pada diri

Putri, selalu ada mata disetiap sudut angkasa

Selalu ada ular yang melilit dari tanah yang lapang

Kau akan terjebak, dalam kemashyuran, tapi kau akan bebas seperti elang.

“Ini kamu yang menuliskannya?”

Aku mengangguk perlahan, sembari mengambil barang-barang dari becak yang aku dan Dino tumpangi. Aku sampai di tempat Om Hengki, adik dari Ayahku. Tempatnya cukup nyaman, tenang, asri dan juga punya berbagai macam kesenian dari Yogya. Semacam patung, pahatan, batik, dan berbagai macam kesenian lainnya. Dulu Ayahku pernah bercerita Om Hengki adalah seorang seniman yang hebat, lewat gagasannya membuat suatu komunitas seni di kota Yogya dia menjadi terkenal layaknya artis yang sedang naik daun. Perlahan aku melangkahkan kakiku masuk, suasana makin sangat tenang ketika suara burung-burung perliharaan Om Hengki menyambutku dengan lembut. Di sudut rumah ada seorang ibu paruh baya sedang membuat batik, mungkin pegawai dari Om Hengki.

Dino masih terus membaca beberapa puisi yang telah kutulis di buku catatan kecil, semacam diary. Dia masih serius dengan puisiku, sampai-sampai lupa bahwa aku sedang menunggunya di muka pintu. Langit mulai membuka luas kepada siang, sinar matahari terik layaknya di padang pasir. Mungkin suhu temperature panas di Yogya agak meningkat ketika aku datang, sepertinya begitu. Aku menarik Dino untuk masuk, aku berjalan layaknya seorang pengawal yang mengawal majikannya. Aku mulai tersenyum kepada beberapa orang yang menyapaku ramah. Di muka pintu yang lainnya, seorang laki-laki paruh baya sedang berdiri menungguku sambil tersenyum. Om Hengki gumamku.

“Gimana perjalanannya?” Sapanya ramah.

Aku tersenyum sambil menaruh barang-baranga lalu bersalaman dengannya. “Lumayan Om, agak capek memang tapi seru.” Kataku sambil mengangkat kedua jari jempolku.

Om Hengki mempersilahkanku masuk, kami duduk melingkar di ruang tamu. Makanan dan beberapa hidangan telah disediakan untuk menyambut kedatanganku, aku tak pernah memintanya tapi ini kebiasaan orang-orang sini. Setiap ada tamu yang datang, makanan sudah siap sedia jauh sebelum tamu itu datang.

“Pah, udah tahu kalau Dava ini pinter nulis puisi?” Seru Dino tiba-tiba.

Om Hengki tersentak. “Oh ya? Bagus itu, sama-sama seniman kita, Cuma berbeda bidang.” Dia tertawa di akhir kalimatnya.

Aku menimpali tawanya dengan wajah biasa saja, aku berusaha agar sesopan mungkin berada di dekatnya. Keluarga Ayah selalu menerapkan sistem kekeratonan dalam keluarga, walaupun bukan dari keluarga keraton tapi sopan santun dan tata krama adalah nilai penting dalam sebuah hubungan antar manusia. Aku ingat ketika umurku masih sepuluh tahu perlahan Ayah membisikkan. “Bersikap baik pada sesama itu wajib Dava.” Kata Ayah perlahan. “Dunia ini sempit, jika kita melakukan perbuatan yang tidak baik, semua itu akan menyebar dengan cukup cepat. Dan yang rugi kita sebagai pelakunya. Menjadi baik memang tidak menguntungkan di dunia, mungkin kebaikan kita hanya di bilang cari muka atau tidak tulus. Tapi di akhirat kelak, Tuhan menyiapkan balasan yang setimpal bagi orang-orang yang mau berbuat baik.” Tutup Ayah ketika senja menyingsing cukup runcing.

“Kalau Dino ini berbeda dari Mas Dava. Dia ini nakal kadang suka bolos kuliahnya. Banyak dosen yang melapor ke Om, katanya Dino ini nilai nya selalu jelek. Selalu absen, ampun Om ini menasihati dia.” Seru Om Hengki sambil menunjuk wajah Dino yang murung seketika. Aku tersenyum halus.

Aku tahu rasanya dibandingkan, aku tahu rasanya menjadi orang yang paling sering di bertahu kekuranganya pada orang lain. Aku tahu rasanya tertekan, mungkin apa yang dirasakan Dino dulu pernah aku rasakan, menjadi nomor dua, menjadi ejekan karena nilai ujian tidak lebih bagus dari kakak. Ya, begitulah rasanya dibandingkan, padahal seharusnya orang tua sadar bahwa setiap manusia diciptakan berbeda. Menjadi sukses atau cerdas bukan dengan mengikuti jejak beberapa orang yang sudah lebih dulu sukses, kan? Jalan mereka jelas berbeda dengan kita, yang bisa kita lakukan adalah membuat jalan yang berbeda dengan mereka. Jalan yang barangkali hanya kita dan Tuhan yang tahu kemana tujuan jalan ini membawa kita. Semacam Kata Hati.

---

Kata hati adalah semacam pembeda jalan bagi manusia, kadang kata hati membawa kita ke imajinasi paling tinggi lalu meleburkannya dengan perasaan paling bahagia yang pernah ada. Kata hati adalah tempat dimana kita bisa bahagia menjalani tanpa mengucapkan satupun alasan kenapa kita memilihnya. Semacam Light in the shadows. Seperti itu, seperti memasuki cahaya dalam bayangan, menari bersama cahaya, menggenggam sebutir harapan. Perlahan meniadakan cahaya itu dan merasakan bayangan kita bergerak tanpa arah. Seperti itulah juga kata hati, meniadakan kepaksaan untuk menyeringai tanpa alasan yang jelas.

“Ini kamarmu.” Kata Dino sambil perlahan membuka pintu kamar tamu yang sudah disiapkan untukku. “Disini kamu bebas mau melakukan apapun, asal jangan melakukan kejahatan, itu dilarang.” Dia tertawa.

Aku tertawa. Aneh padahal kamu baru bertemu tapi sudah mempunyai keakraban yang jauh lebih dekat. Layaknya seorang anak kembar yang meperebutkan mainannya, perlahan aku terdiam dan menatap Dino lekat. Dia mulai keheranan dengan tatapanku, aku melangkah perlahan mendekatik dirinya sambil menaikkan kedua alisku. “Kamu tidak sakit hati?”

“Saya? Sakit hati? Pada apa?”

“Ya, pada Ayahmu. Saya tahu rasanya dibanding-bandingkan, anak pertama lebih cerdas lah, atau anak tetangga lebih berprestasi. Ya kalimat-kalimat semacam itu yang saya pernah dengar ketika orang tua sedang berusaha membandingkan.”

“Kamu terlalu berlebihan Dava, Ayah saya hanya berusaha untuk membuat saya termotivasi saja.”

“Dengan apa? Membandingkan anaknya dengan orang lain?” Nada bicaraku mulai agak meninggi. “Lagipula saya tahu kamu tidak berniat masuk kuliah ekonomi, kan?”

Dia tersenyum perlahan. “Memang tidak.”

“Nah saya tidak salah bukan?”

Dia menoleh ke arahku sambil berdiri. “Memang kamu tidak salah, hanya buat saya kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Kita bisa melakukan apapun yang kita suka. Tapi soal pendidikan adalah semacam menifestasi kebanggaan kita pada orang tua.” Dia mulai menarik nafasnya pelan lalu mengeluarkannya. “Dulu sewaktu SMA, saya melihat ibu dan ayah menangis melihat saya lulus dengan nilai terbaik. Dan dari situ saya percaya bahwa kadang manifestasi kita pada kebanggan mereka hanya satu.”

Aku mulai menaikkan alisku.

“Melihat kita anaknya lulus dengan nilai sempurna. Itu yang saya pegang.” Dia tersenyum. Lalu melihat seisi ruangan. “Ada lagi yang bisa saya bantu?”

Aku menggeleng. “Kalau begitu, saya pamit ya.”

Dia beranjak pergi, dan aku masih disini. Berdiam diri karena kalimat yang baru saja keluar dari mulut seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi. Yang menjalani semua keseharian kuliahnya dengan keterpaksaan. Manifestasi pada kebanggaan? Tapi apa benar-benar harus dengan berkorban impian. Aku masih memikirkan hal itu berulang kali. Mungkin Dino benar tentang kebanggaan orang tua terletak ketika melihat anaknya lulus dengan nilai yang sempurna, tapi bukankah akan sangat konyol jika harus membuang impian?

Aku merebahkan diriku pada kasur, menatap langit-langit kamar. Masih dengan pertanyaan itu, masih dengan semua hal itu. Aku masih menebaknya, siapa yang sebenarnya yang mempunyai kehendak atas impian dan rasa kebanggaan?

Mungkin hanya Tuhan.