Cerita Ibu Soal Ayah

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 03 Mei 2016
Semesta Cinta Ibunda

Semesta Cinta Ibunda


Cerita Pendek Bersambung.... Tulisan di posting setiap minggu...

Kategori Acak

1 K Hak Cipta Terlindungi
Cerita Ibu Soal Ayah

Hujan turun cukup deras malam ini, selepas pemakaman Ayah siang tadi. Ibu terus menangis sepanjang hari, saudara-saudara yang berdatangan dari jauh mencoba dengan sebisa mungkin membuat keadaan jauh lebih tenang. Kakak laki-lakiku masih mengaji di kamarnya sendiri. “Mengaji adalah cara kita untuk berdoa pada Tuhan.” Aku masih teringat kata-kata itu, kakak ku berkata hal itu ketika umurku masih sepuluh tahun.

Suasana rumah agak tegang, sambaran petir di langit-langit membuat orang-orang semakin takut dengan kejadian ini. Ada yang bersikap biasa-biasa saja, ada yang berdoa memohon pertolongan, ada yang menutup kupingnya. Entah, aku tak mengerti, hujan turun lebih deras dan lebih dahsyat justru ketika jasad Ayah sudah di semayamkan. Aku selalu percaya ketika hujan turun disaat seperti ini artinya langit juga menangis karena Ayah pergi. Aku selalu percaya itu, kadang aku menganggap hujan teman, menganggap hujan sebagai rintikan-rintikan kegelisahan dan harapan. Aku suka hujan, dia menghapus jejak-jejak masa lalu dan mengganti dengan yang baru. Aku selalu tenang ketika hujan datang, entah kenapa. Tapi aku merasa cukup sejuk dengan semua itu, angin yang perlahan melandai ke arah jemari-jemari ku, rintikan yang perlahan jatuh ke kepalaku, petir yang menyambar indah bagai kilatan kembang api di akhir tahun.

Ibu masih menangis di pojok ruangan dengan beberapa sanak saudara, aku tidak menangis? Bukan, bukan aku tidak sedih Ayah tiba-tiba begitu saja pergi, aku sedih, tapi dalam hal yang berbeda. Usiaku masih 11 tahun, aku belum pernah ditinggalkan orang yang paling berharga dalam hidupku. Dan ini adalah pertama kalinya aku di tinggalkan seperti ini. Waktu mulai berjalan perlahan, detik jam berputar lebih cepat daripada tetes air mata yang jatuh ke lantai, hujan perlahan berhenti. Mengalir di antara atap-atap rumah, perlahan turun ke bawah. Menjalin hubungan dengan tanah dan tanaman, ciptaan Tuhan yang lainnya. Kakak masih mengaji di kamarnya, entah sudah berapa ayat yang ia baca sampai selarut ini, aku menatap diriku dalam cermin di kamar. Aku tak bisa melakukan apa-apa, aku masih membaca iqra, aku belum terlalu fasih membaca al-qur’an. Aku hanya berdoa dalam bahasa indonesia. “Tuhan, lindungi keluargaku dari malapetaka dan apapun hal yang nantinya akan membuat kami menangis letih setiap hari. Lapangkan perasaan ibuku, bebaskan Ayahku dari setiap kesalahannya selama di dunia, aku tahu manusia harus mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka lakukan semasa hidup di dunia. Tapi setidaknya, ringankan kesalahannya.” Aku tersenyum sambil menurunkan kedua tanganku.

“Rangga.” Pintu di ketuk dengan pelan. Suara ibu berada disisi lain pintu kamarku.

Aku membuka pintu sambil merapikan wajahku yang berantakan.

“Kamu belum tidur?”

Aku menggeleng.

Ibu tersenyum, meski aku tahu senyumnya tidak sepenuhnya tersenyum. Wajahnya berantakan, kerudugnya tidak dirapikan. Matanya lebam, aku tahu banyak air mata yang ia keluarkan hari ini. Banyak kesedihan yang ia lampiaskan kali ini, bagaimana tidak? Laki-laki yang paling ia cintai seumur hidupnya telah pergi dan tak kembali lagi. Barangkali akan kembali, tapi lewat mimpi.

Ibu memegang kepalaku, perlahan dia mengelusnya dengan lembut. “Kamu nggak sedih, kan?”

Aku tidak berani menjawab pertanyaan ibu, kalau boleh jujur. Aku sedih, bukan main, kehilangan seorang laki-laki yang telah menjadi panutan seumur hidup. “Aku..”

“Kamu nggak boleh sedih.” Sahut ibu tiba-tiba.

Aku memiringkan kepalaku. “Hmm”

Ibu tersenyum. “Mau denger cerita ibu soal Ayah?”

Aku mengangguk. Aku paham, kadang orang tua juga membutuhkan pendengar yang baik bukan?

---

“Dulu.. Ayah itu laki-laki yang pertama kalinya membuat ibu yakin kalau hidup itu mudah atau sulitnya tergantung bagaimana cara pandang kita.”

“Kok gitu bu?”

Ibu menoleh ke arahku. “Iya, seperti saat ini. Mungkin kamu kehilangan laki-laki yang paling berharga dalam hidup kamu, dan ibu kehilangan seorang pemimpin perang yang paling bijaksana sepanjang masa. Tapi ini semua tergantung bagaimana cara pandang kita memaknai kematian dan takdir, kan? Kadang kita harus ikhlas melepas setiap orang berharga yang pergi dan tak kembali, kadang kita harus yakin, seperti semua hal yang ada di seluruh dunia, selalu bahagia dibalik setiap kesedihan. Selalu ada hati yang baru, di balik patahnya.” Ibu menatap langit-langit kamar dengan penuh pemaknaan.

“Ayahmu membangun rumah ini secara pelan-pelan, mulai menabung dengan gajinya yang tidak seberapa. Kadang ibu berpikir, betapa susahnya Ayahmu menghadapi ibu yang seperti ini.” Air mata mulai kembali jatuh dari mata ibunda.

“Ibu, bukankah masih ada aku disini? Tenang saja, aku akan menjadi pengganti Ayah.” Aku mengusap sebagian air mata ibu secara perlahan. “Lihat aku, aku anak yang kuat. Kalau suatu saat nanti ada orang yang akan menyakiti ibu, aku akan menjadi pelindung baja paling depan.” Aku tertawa, ibu megusap air matanya, dan mulai tersenyum. “Ibu, apa ayah hebat?”

“Ayahmu?” Aku mengangguk. Ibu mulai menarik nafasnya, dan perlahan mengeluarkannya. “Ayahmu itu orang paling hebat sedunia. Dia selalu.. Apa ya? Dia selalu membuat ibu layaknya wanita paling bahagia sedunia. Dia selalu bilang sama ibu ‘aku memang laki-laki sederhana yang tak punya apa-apa, aku memang bukan orang paling hebat layaknya orang-orang hebat lainnya. Tapi aku paham, aku sudah meminangmu dengan tanggung jawab’ Dulu bahkan, Ayahmu pernah membuatkan puisi untuk ibu.”

Aku tersenyum, terus memperhatikan ibu bercerita. Dia benar-benar lega dengan apa yang dia utarakan. “Ayah juga pernah menitipkan sesuatu hal buat kamu.” Aku tersentak. Ibu menoleh ke arahku sambil tersenyum aneh. Aku tak bisa menangkap apa maksudnya.

“Apa itu?”

“Kata Ayah; zaman dimana manusia lupa pada penciptanya akan datang, zaman dimana yang berbeda akan dihakimi, dan yang sama akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa, zaman dimana agama hanya menjadi pelengkap identitas semata. Suatu saat ketika zaman itu tiba, perjuangan anak-anak kita bukanlah lagi pada sekitarnya, bukanlah lagi pada sanak saudaranya. Tapi pada dirinya sendiri.

Aku tersenyum mendengar ucapan itu. Entah tapi aku selalu suka ketika mendengar cerita soal Ayah dari ibu. Karena bagiku, tak ada laki-laki lainnya lagi yang membuatku layaknya sebagai pahlawan. “Tapi apa maksudnya yang sama akan mendapatkan hal yang luar biasa?” Tanyaku pada ibu.

“Maksudnya.. Suatu saat nanti, manusia hanya akan ikut-ikutan, pendiriannya tidak tetap. Melihat orang lain melakukan ini dia ikut, melihat orang lain mempunyai ini memaksakan mengikuti. Apalagi suatu saat ketika orang-orang sedang tidak ingat bagaimana semesta ini sudah di atur oleh dzat yang maha kuat dan berkuasa. Disitu iman seseorang hanya lewat aja.” Ibu tersenyum sambil mengusap kepalaku lagi. “Inget ya, yang bisa kamu lakukan hanya satu ; tanggung jawab sama diri kamu sendiri.”

Perlahan ibu beranjak dari tempatnya lalu pergi lagi ke ruang tamu, wajahnya mulai berseri kali ini. Tidak ada lagi kesedihan dari matanya, entah padahal kejadian itu baru tadi pagi. Apa mungkin iya sebuah keikhlasan datang secepat toperdo? Aku tidak pernah tahu seperti itu caranya bekerja. Tapi ada sesuatu yang terjawab, ada sesuatu yang terlepaskan, ada sesuatu yang baru saja dimulai.

---

“Kenapa dari tadi kamu ngelamun aja deh?” Perempuan itu tiba-tiba menanyakanku.

“Ini kok semua makanannya aneh-aneh semua ya?”

“iya ya, aku juga ngerasa begitu. Wajah kamu jelek ya kalau lagi bingung” Dia tertawa di ujung kalimatnya.

“Kamu tuh ya kebiasaan, di ajak ngomong serius malah bercanda.”

Dia masih tertawa. Rambutnya perlahan tertiup angin dengan perlahan, tangannya memegang handponenya dengan cukup kuat, wajahnya kembali berseri di sekitar tawanya. “Ibu kamu gimana?” Tanyanya tiba-tiba.

“Aku belum dapat info lagi soal itu, yang aku tahu. Ibu sekarang tinggal di Surabaya.”

“Kenapa nggak kamu samperin?”

“Aku nunggu kakak aku dulu, dia besok baru akan pulang kuliah dari Sydney.”

Dia tersenyum.

Aku tersenyum.

“Aku harus ketemu ibu.”