Jatuh Cinta Diam-Diam (2)

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Januari 2016
Jatuh Cinta Diam-Diam (2)

?Kamu tahu nggak apa yang lebih sakit daripada ditinggalkan seseorang yang benar-benar kau sayangi?? tanyamu.

?Mencintai tapi tak bisa untuk mengungkapkan semuaya! Itu lebih sakit daripada apapun!? lanjutmu.

Kau tahu A, kadang memang selalu menyakitkan mencintai orang dalam diam, megamuminya dalam aksara yang tak dapat tersampaikan, sampai pada akhirnya menimbulkan rasa sakit yang lebih sakit daripada apapun. Kau tahu A, hidup selalu saja mempunyai skenario terbaik, selalu ada cinta yang tumbuh lewat sebuah padangan, selalu ada cinta yang tumbuh lewat sebuah perlawanan. Namun tak pernah bisa terjelaskan oleh ribuan kata-kata dan ucapan apapun, kadang cinta selalu mempuyai titik akhir dari sebuah perjalanan.

Seperti saat ini A, aku mencintaimu, aku ingin kau mengetahuinya, tapi apa boleh buat aku tak pernah bisa mengungkapkan nya padamu. Aku takut semuanya berubah, kau yang selalu menjagaku, kau yang selalu membuatku nyaman, di bahumu aku bisa menangis sepuasnya, di hadapanmu aku bisa menjadi wanita yang apa adanya, yang tak ragu untuk berteriak, yang tak ragu untuk melompat, yang tak ragu untuk melakukan apapun hal yang menurut orang lain adalah konyol. Kau yang selalu menjadi tempat pulang keduaku setelah rumah. Aku tak mau semuanya berubah.

Aku tak mau mengatakan yang sejujurnya padamu, aku takut kau akan marah dan malah menjauh dariku, aku takut kau tak mau mengenalku (lagi) aku tak mau masa-masa ini berakhir dengan cara yang sia-sia, aku tak mau! Aku menginginkanmu, sungguh! Tapi di sisi hatiku yang lain aku merasa takut. Aku benar-benar takut.

Sesekali, aku ingin memegang erat tanganmu, mendekap keseluruhan tubuhmu, menjadikan kata aku dan kamu menjadi satu. Sesekali aku merindukan kehangatan dan rasa kasih sayang dari seorang kekasih, kadang aku merindukan semua itu, dalam kenyamananmu dalam semua hal yang membuatku bahagia bersamamu, aku ingin mengatakannya padamu. Aku mencintaimu, tapi apa boleh buat, aku takut, A, aku takut.

A, aku ingin kau tahu, aku mencitaimu dalam diamku, saat ini aku masih mencitaimu dalam diamku. Ah, bukankah cinta adalah semacam pembebasan? Tapi kenapa aku merasa tertekan dengan semua perasaan ini, padahal kau yang selalu berhasil melegakan aku, kau yang selalu berhasil membuat jantungku terpacu lebih cepat dari biasanya, kau yang selalu saja membuatku tertawa lepas, kau yang selalu membuatku menjadi diriku apa adanya. ?Jangan jadi manusia yang membohongi perasaannya sendiri, sesekali kau harus berani jujur kepada apapun? katamu. Aku masih mengingat pesanmu, tapi aku tak pernah bisa untuk melakukannya, membuat urat-urat pada lidahku untuk berkata yang sebenarnya. Setiap kali aku ingin mengucapkannya, perasaan takut selalu datang pada saat itu, Aku takut kau menghilang.

A, aku ingin terus bersamamu, aku ingin terus merajut hari bersamamu, walaupun tanpa status, tanpa ikatan sebagai seorang kekasih, aku ingin menjalani semuanya bersamamu. Aku tak bisa menemukan laki-laki lain yang sama sepertimu, sejak pertama melihatmu, kau sangat berbeda, kau semacam racun yang selalu membuatku kembali kerumah sakit hanya sekedar periksa kondisi hatiku saja. Kau yang membuatku sedemikian rupa nyaman, sampai akhirnya aku lupa pada rasa sakitku di masa lalu.

?Tenang ya, aku akan selalu sama kamu, setiap wanita berhak mendapatkan laki-laki yang bisa membuatnya melupakan rasa sakitnya, kalau aku aja udah bisa kenapa enggak?? tanyamu sambil tertawa kecil. Tentu saja, setiap wanita berhak mendapatkan itu, kurasa aku sudah mendapatkan itu. Tapi sekali lagi A, aku takut, aku takut mengungkapkan semuanya padamu, aku hanya akan memendamnya, semacam rasa sesak yang bisa membuat bahagia.

Saat ini aku masih memendamnya, mencintaimu dalam diamku, sambil mengumpulkan sebanyak mungkin keberanian. Sampai saat ini aku masih memendamnya, sampai pada saatnya aku akan perlahan mengatakannya padamu.

Yang pasti, kau harus?tetap bertanggung jawab, kau sudah membuatku sedemikian nyaman. Suatu saat nanti jangan pernah tinggalkan aku dalam sakit dan bahagiaku. Sampai pada saatnya aku akan jujur padamu.

A, aku selalu mencintamu dalam diamku, tenang saja ada saatnya sela-sela jemarimu dan jemariku menyatu.

?

Arifin Narendra Putra

Depok, 27 Januari 2016

  • view 352