Takdir Yang Tak Pernah Kuinginkan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 April 2016
Takdir Yang Tak Pernah Kuinginkan

Pagi hari yang nyaman, suasana sekolah yang asik dengan meja kayu yang bersahabat, buku-buku pelajaran yang mengesankan. Dan semua hal yang indah. Kamu bagian dari semua itu.

Kadang aku selalu berpikir bahwa takdir mempertemukan kita karena kemungkinan-kemungkinan yang ada, aku selalu berpikir bahwa kita ditakdirkan untuk bersama-sama mereka sebuah masa depan, sebuah cinta yang paling mengerti. Namun, semuanya salah tak ada satupun pernyataanku yang benar soal cinta dan pertemuan, sekarang aku benar-benar yakin kita dipertemukan karena suatu alasan. Alasan itu tak bisa kujabarkan, mungkin alasan seperti itu sudah ada sejak beribu-ribu tahun lalu ketika Tuhan mencatat semua jalan kehidupan manusia, dan kita bertemu karena memang sudah ditakdirkan untuk bertemu. Untuk sekedar mengerti dan tahu, kita jatuh cinta.

---

“Bar, tolongin aku dong.” Pintamu secara tiba-tiba.

“Minta tolong apa Le?”

Kau tersenyum sebelum mengatakan apa yang bisa kubantu. “Bantu aku buat deket sama Rian.” Katamu.

Siang itu, dikelas yang sunyi dan sepi aku seperti di hantam ribuan balok kayu tepat pada dadaku, seakan ada rasa sakit yang tertahan ketika kau mengucapkan semua itu. “Rian mana?” tanyaku pura-pura, agar kau tak membaca gelagat patah hatiku.

“Itu loh Bar ade kelas baru kita, kemarin kan aku jadi pembina OSIS kamu pasti tahu itu kan? Nah aku lihat dia, ganteng banget Bar, mau ya Bar? Kamu kan sahabat aku” katamu.

Sahabat, iya kau mulai menganggapku sahabat semenjak kelas satu SMA, ketika kita masih SMP bertemu di taman kau tak benar-benar datang untukku, kan? Kau hanya ingin mengetahui seperti apa aku Le, sayangnya hari itu aku berpura-pura bahagia bisa berkenalan denganmu di taman waktu itu. “Iya aku akan bantu kamu, apa yang harus aku lakuin?”

“Hmmm...” kau mulai berpikir, sepertinya memang kita tak bisa bersama sebagai sepasang kekasih. “Tolong cari tahu apa yang Rian suka, dari mulai makananya, hobbynya masa lalunya dia. Pokoknya semuanya deh.” Kau begitu antusias untuk melakukan semua ini Le.

Aku mengangguk lemas. “Yeay, makasih ya Bar, aku ke kantin dulu ya.” Katamu riang. “Mau ikut?”

“Nggak usah Le, aku disini aja.” Sahutku.

Kau berjalan menjauh dari hadapanku, dengan sumringah kau berlari-lari kecil sambil menyanyikan lagu Could It Be, lagu itu lagu yang paling sering kau nyanyikan ketika kau sedang bahagia. Sementara aku disini, duduk bersimpuh pada kenyataan bahwa kau tidak akan pernah bisa bersama denganmu.

Aku percaya cinta adalah semacam penawar kesedihan, tapi kadang justru dia adalah sebab dari semua kesedihan. Dan saat ini aku merasakannya Le, kesedihan yang tak pernah kau tahu, cinta yang gagal pada perasaan. Tak bisa saling memiliki menurutku adalah jarak yang paling menyedihkan, jarak yang tak pernah bisa menyatu, jarak yang hanya dapat terpandang dan tak dapat kusentuh. Mungkin itu jarak sebenarnya, jarak yang paling membuat sakit hati.

Sejenak aku mulai berpikir untuk pergi, hanya untuk menghibur diri mungkin hati ini butuh pelampiasan pada kenyataan, pada takdir yang kurang adil dan pada semua perasaan yang tak bisa kutolak padamu. Aku tahu tak seharusnya aku mempunyai perasaan seperti ini padamu, aku tahu kita hanya bertatap muka nantinya dari jalan yang berbeda, menatap senja lewat air mata dan melihat surya dengan tatapan yang tak bisa aku jabarkan pada satu atau dua kalimat. Keadaan ini begitu kurang ajar menurutku, keadaan yang membuatku berpikir bahwa takdir tak pernah adil dan cinta adalah bukan penyempurna dari apapun.

Analea, ini pertama kalinya aku tak percaya pada takdir, pertama kalinya aku menjadi hamba yang durhaka pada Penciptanya, menjadi bagian dari kemunafikan perasaan. Dan sesak pada hati, adalah penyakit baruku Le.

Jodoh adalah takdir yang disengaja

Pertemuan yang sudah tercatat

Dan bahagia yang sudah terlihat

---

Jodoh kadang bagiku adalah sebuah takdir yang Tuhan sengajakan agar kita bertemu dalam frekwensi yang sama untuk mencintai satu sama lain. Kita bukan Adam dan Hawa, tentu saja bukan, kita tak pernah tahu apakah kita berjodoh atau tidak? Apakah kita terlahir untuk dipertemukan? Apakah kita akan terpisah? Atau akan bersama menjadi bagian dari takdir yang disengaja itu?. Adam dan Hawa tak punya pilihan lain selain berjuang untuk kembali bertemu di bukit kasih sayang, mereka sudah ditakdirkan bersama semenjak tinggal disurga. Tapi kita, kita masih mereka-reka yang benar dan mencari-cari yang salah.

Le, ketika bertemu denganmu ketika masih berada di bangku SMP kukira kita akan bersama dalam menghadapi semuanya, tapi Tuhan kembali menguji kita lagi, kau diperkenankan untuk tak memilihku hari itu dan aku diperkenankan agar tak berani berkata bahwa aku benar-benar mencintaimu lebih dari apapun. Cinta mungkin punya tuan untuk pulang, tapi sakit hati tidak pernah punya cara untuk tak datang.

---

Kantin terasa sepi hari ini, tak ramai seperti biasa terang saja sekolahku sedang mewakili kota Depok untuk mengikuti perlombaan iklan nasional. Beberapa tim yang diutus Kepala Sekolah menjadikan kantin seperti ruangan kosong yang cukup luas.

“Akbar!” Kau Teriak dari balikku. Aku kenal suara ini, suara seseorang yang paling pintar soal Agama dan mungkin menjadi siswi paling keren di sekolahku. Ya, itu kau Analea.

“Hai.. Kamu tumben ke kantin sendirian?” tanyaku padamu.

“Teman-temanku ikut ke Balai Kartini semua, nggak ada yang tersisa dikelas.” Katamu sambil cemberut. pada kenyataannya kau mempunyai pengetahuan yang barangkali orang lain ingin menjadi dirimu Le. “Aku pesan makanan dulu ya.” Lanjutmu.

“Iya.” Ujarku.

Kurasa kau punya hal yang lebih baik dari pada siswi yang lain; Keingintahuan pada pengetahuan. Sulit memang tapi itu kenyataanya, aku selalu kagum padamu Le, kau menjadi siswi dengan predikat terbaik se-kota Depok tahun lalu, dan sekarang kau sedang dipersiapkan untuk lomba LKS antar provinsi, bukankah keren.

“Kamu masih suka nulis cerpen?” tanyamu tiba-tiba.

“Eh.. Hmm, masih kok, aku masih suka buat cerpen.” Timpalku ragu, ya semenjak kejadian tiga bulan yang lalu diruang kelas bersamamu Le, semenjak kau mengucapkan sesuatu yang cukup menyesakkan untukku aku mulai kehilangan selera menulis lagi.

“Kapan-kapan aku boleh ya baca tulisan kamu?”

Aku tersedak mendengar ucapanmu, minuman yang kuminum kumuntahkan kembali. Terang saja, selama ini tak ada yang pernah berminat melihat tulisan milikku yang membosankan itu. “A.. apa?” tanyaku gelagapan.

“Kamu kenapa sih?” sambil tersenyum kau mulai berusaha membuat semuanya menjadi lucu. “Aku ulang ya, aku boleh nggak baca tulisan kamu kapan-kapan?”

Aku terdiam sejenak, memikirkan kata apa yang harus ku ucapkan. “Hmm... Tapi anak-anak bilang tulisanku itu..”

“Kan itu anak-anak yang bilang, aku kan belum bilang apa-apa Bar, liat aja belum.” kau memotong perkataanku.

“Boleh.”

“Pasti seru nih, jadi kapan kamu mau nunjukin ke aku?” tanyamu.

“Kalau sudah jadi.”

“Yah, aku butuh kepastian kali Bar, kamu mah dasar.” Ujarmu.

“Analea!” Teriak seorang laki-laki dari kejauhan.

Kamu menoleh ke arah lelaki itu, ya Rian. “Hei... Tunggu ya sebentar.” Sahutmu padanya. “Bar, aku pergi dulu ya, Rian udah jemput.”

Aku mengangguk.

Hari itu aku bahagia melihatmu tertawa bersama Rian, dia memang adik kelas kita tapi kau mencitainya Le, aku tak bisa memaksakan semuanya harus berjalan sesuai dengan kehendakku aku akan membiarkannya berjalan dengan baik dan bahagia tentunya.

--- 2 bulan yang lalu ---

Analea, Aku sudah melakukan apa yang kamu mau, aku sudah menyelidiki Rian sampai ke dasar. Dia anak pindahan dari SMA 6, dia salah satu murid yang cukup dikagumi dikalangan wanita, dia mungkin mempunyai banyak penggemar yang sangat suka terhadap sifatnya itu.

Soal makanan kesukaannya, dia sangat suka ayam bakar. Mamahnya bilang dia pernah menghabiskan ayam bakar sampai 2 porsi, dia suka bermain basket, dia pernah ikut pertandingan basket antar sekolah. Dia mempunyai tempat favorite di daerah bilangan Jakarta selatan, sebuah taman dengan air mancur di tengahnya. Dia pernah mempunyai kekasih dan hanya bertahan lima bulan saja Le, Ayahnya adalah seorang guru honorer di sekolah nya yang dulu dan ibunya adalah seorang Editor Aksara di salah satu penerbit di Jakarta.

Itu informasi yang kudapat dari semua yang ku tahu soal dia, kuharap ini bisa membatumu Le. Maaf, aku tak bisa datang kerumahmu hari ini, ada urusan yang cukup penting, karena itu aku mengirimnya lewat sms ini. Sukses ya Le.

Ya, aku tak pernah menuliskan sms itu dengan ikhlas Le.

---

“Makasih ya Bar.” Katamu sambil membuka kembali lembaran-lembaran puisi Sapardi Djoko Damono, kau selalu suka membaca puisi beliau seperti Hujan Di Bulan Juni, Aku Ingin Mencintaimu dan beberapa puisi yang sering kau bacakan buatku. Ya, hanya sekedar untuk menilaimu saja, puisi itu tak benar-benar kau tunjukkan untukku.

“Buat?” Kataku, aku masih fokus dengan buku pedoman pembuatan 3D Animasi.

“Buat semuanya.. Makasih karena udah bantu aku buat deket sama Rian.” Kau tersenyum.

Aku tersenyum. “Sama-sama.” Singkatku, Le, aku tak pernah berusaha untuk memaksamu bersamaku. Aku hanya ingin semuanya berjalan apa adanya, dengan perasaan bahagiamu bersama Rian, dengan perasaan patah hatiku padamu, aku hanya membiarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya karena aku tahu, Le, waktu tak akan pernah berkhianat pada takdir. Aku masih bisa menunggumu, masih dengan senyum yang perlahan mulai pudar, dengan wajah yang perlahan mulai kendur, dan dengan rasa yang tak pernah kuungkapkan padamu.

“Sebagai ucapan terima kasih aku, kita ke cafe tempat biasa yuk? Aku yang bayar... Hehehe.” Ajakmu.

Aku menggeleng, dengan wajah tidak bersemangat. “Nggak usah Le, aku udah makan masih kenyang sama makan siang yang tadi.”

“Udahlah ayo, kamu kebiasaan selalu jawab ‘Nggak’ terus.” Kau mulai memaksa, kau menarikku dengan paksa. Buku panduanku masih tertinggal di meja kantin, Novel Hujan Bulan Juni berada pada lengan kirimu.

“Le lepasin aku.” Kau tak merespon perkataanku. “Le, Lepas!!” bentakku.

Langkahmu mulai berhenti, peganganmu mulai kendur, wajahmu mulai menatap padaku. Aku tahu maksud tatapan itu, semacam rasa tak percaya bahwa aku menjadi seperti ini. “Aku masih kenyang, udah ya aku harus masuk kelas.” Aku meninggalkanmu, aku tak mau merasa sakit hati lagi Le, aku harus menjaga jarak denganmu, seberapa kalipun terpangkasnya jarak tetap saja kau akan berjalan di jalan yang berbeda denganku. Aku tahu tak seharusnya aku seperti ini sama kamu, tapi aku harus terbiasa Le.

Aku benar-benar menjadi laki-laki paling bodoh sedunia, sebab aku tak pernah bisa mengungkapkan semuanya. Perasaan rindu yang terbelenggu, rasa sakit yang membekas, dan cinta yang tak bisa tersampaikan. Seandainya cinta benar-benar sesederhana aksara, mungkin tak ada lagi ruang pembatas untukku menyatakan semuanya. Aku tahu diri Le.

“A.. Aku ada bimbel hari ini, jadi nggak bisa nemenin kamu.” Alasnaku padamu.

Kau terdiam, tak percaya aku begitu marah padamu, entah karena apa dan untuk apa. Tapi Le, aku terlalu mencintaimu, karena itu aku tak ingin melihatmu bersalah karena menolak perasaanku. “Sampai ketemu lagi ya.” Tutupku.

Kadang satu hal yang paling aku ketahui soal cinta adalah, tidak boleh melihat orang yang paling kucintai merasa bersalah dengan keputusannya. Kau harus bahagia Le, bagaimanapun caranya, dan entah dengan apa. Yang pasti aku merasakan tawamu di sela tangismu, menemukan bahagiamu di sela sedihmu. Teruslah seperti itu, aku ingin kau tahu bahwa cinta yang benar adalah cinta yang tak memerlukan apa-apa untuk bisa dicintai. Kau hanya perlu menunjukannya Le, betapa indahnya dirimu di depan semua orang.

Aku percaya mendung tak pernah setiap hari

Aku setia, terus setia menunggu cerah esok hari