Ke(sadar)an

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 April 2016
Ke(sadar)an

Kemarin saya berjalan ke sebuah cafe di daerah Kemang, perlahan saya duduk di bagian bangku paling ujung dari cafe tersebut. Tiba-tiba seorang pelayan tiba di depan saya dengan membawa sebuah menu.

“Mau pesan apa Mas?”

Coffee Latte­-nya satu aja.”

“Ada lagi?”

“Itu dulu aja.”

Saya mulai membuka laptop dan mulai membuat konsep untuk sebuah project Karya dengan beberapa teman-teman SMK. Sampai di tampilan awal Adobe Premiere, terdengar tangisan anak kecil dari luar cafe, tepatnya di parkiran cafe yang sedang saya datangi. Anak itu menangis cukup keras.

“KAMU JANGAN TERLALU MANJAIN ANAK MAH! KALAU TERLALU DIMANJAIN DIA AKAN JADI MELUNJAK.” Laki-laki yang saya duga sebagai ayahnya itu berteriak cukup keras.

Dengan jeritan yang jauh lebih keras, kemudian sang ibu menenangkan anak kecil itu, laki-laki itu kemudian pergi setelah memarahi istri dan anaknya (mungkin), di bagian kanan wajahnya terlihat bekas luka tamparan dan pukulan seseorang. Entah dari siapa, sang ibu membawa anak itu masuk ke dalam cafe, dari kejauhan saya melihat sang ibu berusaha membuat tertawa sang anak kecil itu dengan menampilkan wajah-wajah jelek dan konyol nya agar sang buah hatinya terhibur. Sampai di akhir ekspresi wajah sang ibu yang ketiga, sang anak benar-benar tertawa riang, tangisannya berhenti dengan candaan ibunya.

“Ini mas Coffee Latte­-nya.” Kata sang pelayan seketika datang di depan saya.

Karena penasaran saya akhirnya bertanya. “Anak itu tadi kenapa nangis ya?”

Sang pelayan melihat anak kecil itu lekat-lekat, kemudian menoleh ke arah saya. “Oh itu.” Jawabnya santai. “Tadi dia di pukul beberapa kali sama Ayahnya.”

Saya tersentak. “Loh kenapa?”  

“Katanya sih si anak ingin makan di tempat ini, tapi karena sang ayah sedang buru-buru, dia berusaha agar anaknya tidak terlalu di manja katanya.”

“Padahal Cuma minta makan aja kok sampai segitunya ya?” Tanya saya.

“Iya mas, orang tua memang begitu. Sebagian orang tua berusaha mengajarkan hemat sama anaknya tapi dengan cara yang salah, mengajarkan belajar yang benar tapi dengan cara yang salah juga. Ampun deh mas, zaman semakin lama semakin chaos.” Setelah mengatakan itu sang pelayan pamit pada saya untuk kembali bekerja.

Saya berpikir dan kembali melihat anak itu lekat-lekat, masih dengan tawa yang sang ibu buat dengan nyaman.

---

Mungkin ini hal yang harus kita perhatikan, saya setuju dengan perkataan pelayan cafe tadi, memang kadang kita sebagai orang tua berusaha memberikan dan mengajarkan yang terbaik bagi anak, hanya saja caranya yang salah. Mungkin tidak dengan cara keras tapi dengan cara yang lembut dan halus, saya selalu percaya anak-anak lebih suka menagkap apa yang dia lihat daripada apa yang dia dengar, jadi ketika sang ayah atau siapapun marah-marah ataupun kasar kepada seseorang atau pada anak itu sendiri, anak itu akan meniru apa yang dilakukan sang ayah, kan? Bukankah sikap orang tua yang seperti itu adalah tentang penyampaian yang salah? Kadang yang menurut kita baik belum tentu menurut orang lain baik, kan? Seperti jika kita mengajarkan anak memukul orang lain, tidak menutup kemungkinan dia akan tumbuh dengan merendahkan orang lain juga, kan? Atau yang lebih parah lagi, korban pukulan orang tua adalah anak itu sendiri, mungkin mereka akan tumbuh dengan trauma yang cukup berat, kan?

Bisa dibilang, anak-anak job deskription mereka adalah bermain, menangkap hal-hal sekitar yang akan membuat mereka bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau hal sekitar mereka saja sudah buruk dan tidak patut, lalu bagaimana cara mereka belajar?

Mungkin itu pertanyaan yang harus kita renungkan sebagai orang tua : Mungkin kita mengajarkan hal-hal yang baik dan benar  pada anak, tapi apakah caranya juga baik dan benar?

Mungkin ketika saya menuliskan ini, atau laki-laki yang memukul anaknya waktu itu melihat tulisan ini dan berbicara “Saya punya cara didik saya sendiri, dia anak saya dan saya bisa mendidiknya dengan baik. Nggak usah sok tahu.

Benar, saya belum menikah bahkan masih berumur 18 tahun, tapi saya pernah menjadi anak-anak, tapi perbedaannya mungkin saya tumbuh dengan kelembutan orang tua. Saya tidak tahu apa-apa soal mendidik anak, tapi bukankah setiap pengajaran harus dilakukan dengan tata cara yang baik dan benar? Seperti “ini Budi, Budi pergi kepasar.” Tidak mungkin menjadi “Budi kepasar, ini pergi Budi.” Seperti itu juga, kadang mungkin kita mengajarkan hal yang baik tapi dengan cara yang salah. Mungkin...