Rindu Yang Membawa Pulang

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 24 April 2016
Rindu Yang Membawa Pulang

Perempuan itu masih duduk di hadapan monitor laptopnya. Perlahan menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Matanya masih awas dengan keadaan sekitar, cafe itu terasa nyaman dengan meja bundar berwarna coklat kebanyakan. Jari manis itu masih mengetik manuskrip untuk tugas akhir kuliahnya, perasaan hati-hati selalu ia utamakan ketika tugas selalu datang di saat yang tidak tepat. Coffee latte menemani disaat cuaca makin terasa panas di siang hari. Dan lagi, tuan putri sedang menyusun kembali puri yang akan ia tempati.

Waktu bergerak lebih cepat daripada ketika sang Ibu Dokter sedang mengetik, dia layaknya calon dokter kebanyakan, dan seperti mahasiswi tingkat semester akhir yang sedang sibuk-sibuknya dengan skripsi dan lain-lain. Hatinya sedang kacau, memang, soal cinta yang tiba-tiba datang disaat hatinya ingin tertutup. Mengunci semua pintu rapat-rapat agar tidak ada satupun orang yang masuk ke dalamnya. Tapi seperti yang lainnya, perempuan yang gampang sekali jatuh cinta pada apa saja yang membuatnya semakin nyaman, dan Dimas adalah orang yang bisa membuatnya seperti itu. Wajahnya berpikir sejenak, dia melepas penat dengan bersenderan pada bangku cafe yang sedang ia duduki. “Aku belum pernah menemukan laki-laki seperti dia setelah Rama.” Serunya perlahan sambil melihat ke arah langit-langit.

Kali ini pikirannya melayang ke bagian paling indah memorynya. Tentang pertemuan di cafe seberang kampus, makan malam romantis dan hanya berdua saja, perdebatan antara siapa yang paling sering mengalami patah hati terhebat. Waktu memang selalu fana, tapi kenyataan berada pada titik kefanaan itu sendiri, bayangannya kembali lagi kepada sudut-sudut cafe. Pikirannya kembali lagi pada monitor laptop yang sedang berada di depannya. Masih ada 150 halaman yang harus dia kerjakan sampai semuanya benar-benar selesai.

 

Pangeran kau tahu, kadang aku rindu

Rindu pada apa saja yang menyamankan

Kadang aku berpikir takdir Tuhan itu lucu

Membuat kita menjadi manusia yang ragu pada dirinya sendiri

Labil pada yang sedang ia pegang sebagai prinsip

Entah mungkin aku yang berlebihan atau memang benar

Rindu selalu berhasil membawaku pulang

Ketempat yang barangkali kau juga berada disana.

 

“Aku rasa, aku benar-benar merindukannya. Agak sulit memang, tapi aku harus pindah, kan?” Katanya seraya membenarkan posisi duduknya.

Dia mulai melanjutkan tugasnya sebagai seorang mahasiswi semester akhir, berharap kali ini tidak terjadi apa-apa dan semuanya baik-baik saja. Perasaan itu memang ada, tapi tanggung jawabnya juga harus selesai tepat akhir bulan ini.

Aneh, terkadang perasaan itu menjalar layaknya tanaman merambat yang membuat sebagian orang kerepotan merawatnya. Namun terkadang justru perasaan seperti itulah yang kembali membawa kita ingin kembali ketempat yang sama dengan kenyamanan yang sama, keadaan yang sama, walau dengan orang yang berbeda. Kadang memang seperti itu semuanya berjalan.

  • Sore ini aku jemput ya. Di stasiun UI...

Sms itu terasa menyejukkan bagi seorang Dinda, perempuan patah hati yang menemukan cinta kembali.

  • Iya

Balasnya pada Dimas.

Cepat atau lambat rindu akan kembali membawanya pulang, tuan putri yang tersesat di tengah hutan.

 


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Karya bagus... ^_

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Bagus..
    Intinya rindu..
    Kalau lagi rindu, kata dihati pun sulit dijelaskan..

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    Ada typonya loh...
    Alur ceritanya sepertinya berbeda dari yg sebelumnya ya. Terlalu di buat dengan buru-buru, tulisannya halus dan mengena jadi gampang di baca ketebak akan sampai mana sepertinya tulisan ini akan segera tamat, pembaca jadi cepat bosan. Intinya sih sama seperti jawabannya mas Dinan idem :nyantai aza .....

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan Fin sangat dipengaruhi Dee... Bener gak Fin?
    Tapi penyampaian alur Fin lebih membumi dan mudah dimengerti. Dengan tema 'khasnya' yg disukai orang kebanyakan, membuatnya 'tenar' dgn cepat dan tentu saja telah terbentuk 'lingkaran pembacanya' (CEO, aku pinjam 'bahasamu yah...) dengan sendirinya.

    Mungkin Fin selalu 'terburu-buru' dalam memposting karya jadi dalam setiap tulisannya pasti ada typo (disemua karyanya yg kubaca ada typo...makanya saya memakai kata 'pasti').

    Saran: nyantai az Fin..'elus-elus' lagi sebelum diposting, jgn sampe ada 'debu kecil'. Jika bisa dibersihkan knp gak? Paya lebih halus dan bersih...
    *_*

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    menyekat (sekat) atau menyeka (seka)?
    dua makna berbeda.