Aku Ingin Terbang

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 23 April 2016
Semesta Cinta Ibunda

Semesta Cinta Ibunda


Cerita Pendek Bersambung.... Tulisan di posting setiap minggu...

Kategori Acak

1 K Hak Cipta Terlindungi
Aku Ingin Terbang

Televisi hari itu masih sangat menyenangkan. Pada saat itu acara-acara di televisi lebih banyak kartun daripada sinetron. Dulu mungkin aku bertumbuh menjadi anak kecil yang riang karena setiap weekend akan ada serial kartun yang menemaniku. Sambil membayang kan kalau seorang yang sedang bertarung di dalam televisi itu adalah aku. Aku terus berteriak, keras, sampai mungkin memmabangunkan ibu.

Aku mengayunkan sapu yang selalu ku anggap sebagai senjata terkuatku, selalu dengan bayangkan kalau saat ini aku sedang memegang salah satu dari tujuh pedang legendaris yang pada film naruto. Hari menjadi sangat panas, matahari lebih cepat menyingsing daripada berita perkiraan cuaca, tapi aku masih mengayunkan pedangku, Sambil terus berkata “Aku akan mengalahkanmu.” Seperti itulah kehidupan bocah berumur 6 tahun, tak tahu apa-apa, lugu dan tanpa perasaan apapun bermain seenaknya smapai tidak sadar aku benar-benar membuat bangun ibu.

“Rangga.”

“Ibu.” Aku menoleh ke arahnya sambil menghentikan ayunan itu.

Ibu tersenyum padaku, wajahnya agak pucat, hari ini dia membersihkan rumah sendirian, tak ada yang bisa aku bantu. Semenjak Ayah meninggal satu tahun yang lalu, ibu menjadi orang yang siap siaga membereskan pekerjaan rumah, menjadi dua keperibadian dalam satu tubuh. Kadang aku berpikir kalau memang wanita diciptakan lemah tidak mungkin Ibu bisa menanggung semuanya sendiri.

“Kamu lagi main apa?”

“Aku?” Ibu mengangguk, perlahan aku mulai melepas sapu yang sedari tadi aku pegang lalu perlahan merunduk merasa bersalah. “Apa aku membangunkan ibu?” Nadaku pelan.

Ibu tersenyum sampai pada akhirnya dia berjalan ke arahku dan dari belakang tangan kanan yang sedari tadi ia sembunyikan muncul sebuah sapu yang lebih panjang dari milikku. “Siapa bilang? Ibu juga mau main sama kamu.” Katanya sumringah, senyumnya mengembang perlahan, menunjukan ada cahaya kecil terpancar di bagian matanya, aku melihatnya, senyum yang barangkali menjadi senyum paling indah yang pernah aku tahu.

Aku tertawa. Ibu mulai mengambil sapupu dan kami mulai bermain adu pedang, ibu mulai berteriak layaknya seorang wonder woman dalam serial kartun marvel. Aku tertawa riang hati itu, ibu masih terus tertawa dengan penuh suka cita. Hari itu mungkin terasa panas, tapi kami mulai hangat dengan cara yang kami buat sendiri, kebersamaan yang barangkali belum pernah orang lain rasakan secara langsung.

---

“Woy!”

Aku tersentak seketika, kembali pada kenyataan. “Yee reseh.” Kataku nyeleneh.

Laki-laki itu tertawa, dia adalah sahabatku, Rama. “Lagian ngelamun aja. Kamu baru sampai? Kayaknya lama di Grouningen jadi sombong banget.” Katanya sambil membanting dirinya di sofa yang satu lagi.

Aku tersenyum, sambil perlahan memperhatikan Rama yang sedari tadi membuat ruangan ini menjadi tidak sepi lagi. Aku kembali melihat buku album itu, aku mengebet nya secara perlahan tapi pasti. Aku melihat kenangan-kenangan itu muncul lagi seperti senjata yang sedang berada di ujung pelatuknya. Aku membayangkannya sekali lagi, keterpisahan pada jarak, antara aku dan juga orang-orang yang aku sayang. Kadang mungkin cara paling baik untuk menyesali semua hal yang paling buruk adalah dengan melihat hal buruk itu lagi, lalu perlahan memperbaikinya dengan cara kita sendiri. Setiap orang pasti tumbuh dengan pola pikir dan problem solving nya sendiri-sendiri, tak ada satupun manusia yang terlahir dengan menjadi orang lain. Ketika manusia bertumbuh perlahan, mereka akan berubah menjadi tua, menjadi sangat tidak bertenaga dan perlahan akan lupa pada apa saja yang membahagiakan. Mungkin itu yang selalu coba kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, meninggal dengan cara yang benar.

“Kamu udah berapa tahun deh di Grouningen?”

“Cuma 4 tahun Ram. Seru sih disana, orang-orangnya ramah, tapi tetap aja nggak nyaman.” Kataku sambil perlahan membuka halaman terakhir album kenangan keluarga.

“4 tahun ya...”

“Kenapa?”

“Lama juga ya.”

Aku terdiam, bagian terakhir halaman album kenangan itu adalah ketika Ibu mengangkatku di sebuah teras rumah dan perlahan membuatkan sayap seorang superman hari itu. Ternyata waktu merekamnya dengan baik, dengan cara yang tidak manusia, dengan perputaran yang mungkin membuat semuanya 180 kali lebih beda dengan dulu.

---

“Cara tebangnya bagaimana?” Tanyaku polos.

Ibu tersenyum dengan cahaya yang masih berbinar di matanya, perlahan tapi pasti dia mulai memeragakan cara terbang seorang superman padaku. “Lihat Ibu, kedua tangan kamu memegang ujung sayapnya, lalau perlahan kamu angkat sayapnya sampai setengah badan di belakang kamu. Setelah itu kamu harus siap ambil ancang-ancang agar nantinya ketika mau terbang tidak terperosok ataupun terjatuh.” Jelas Ibu. “Setelah itu, teriak AKU TERBANG!” Ibu berlari dengan tawa yang berada di ujungnya.

Aku tersenyum pada ibu, melihat tingkah lucu ibu yang perlahan membuatku tertawa kecil. “Aku mau bu” Kataku sambil tersenyum dan meregangkan kedua tanganku padanya.

“Oke ayo kita mulai.” Sahutnya. “Kamu harus ikutin aba-aba Ibu ya.”

Aku mengangguk.

“Satu, dua, tiga. AKU TERBANG!” Teriak kami berdua memecahkan suasana sore itu, entah tapi ada kelegaan yang datang seketika waktu bersama menjelma menjadi memory paling tidak terlupakan bagiku. Ketika pertama kalinya aku menerpa wajahku dengan kesejukan yang ia miliki, perlahan burung-burung yang berimigrasi terbang melintasi kepala kami. Matahari menjadi sangat orange dan sangat indah, langit-langit mulai memperluas jaraknya pada awan, bumi masih berpihak pada tumbuhan. Dan aku masih disini menjadi manusia paling beruntung yang terbang dengan orang yang palinng berharga.

“Kita terbang lagi?” Tanya ibu.

“He’eh.”

AKU TERBANG!

Dan beginilah, cinta dari kenangan masa kecil.

---

“Kamu mau kemana?” Tanya Rama, aku mulai menutup buku itu dan beranjak pergi.

“Mau tidur.” Kataku singkat.

Dan mungkin beginilah rasanya seorang manusia yang rindu kesejukan angin sore hari, kenangan pada apa saja yang menyenangkan. Berada pada ambang perbatasan antara takut, senang, dan sedih. Ya, seperti inilah, rasanya terbang, menjadi manusia bebas. Seperti seharusnya.

“Bu, aku mau jadi superman nanti.”

“Kenapa?”

“Biar bisa terbang.”

Aku tersenyum.

Ibu tersenyum dan perlahan... Mengembang

  • view 363