Pulang

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 22 April 2016
Semesta Cinta Ibunda

Semesta Cinta Ibunda


Cerita Pendek Bersambung.... Tulisan di posting setiap minggu...

Kategori Acak

956 Hak Cipta Terlindungi
Pulang

Hari itu hujan turun perlahan, laju mobil taksi yang kutumpangi masih terus berjalan dengan kecepatan 60 km/jam di jalan dago. Bandung hari ini menjadi kota yang paling sunyi. semenjak musim hujan datang pada awal bulan November. Tak ada satupun orang yang keluar rumah ketika malam hari. Kata supir taksi yang mobilnya sedang kutumpangi.

Ini pertama kalinya lagi aku menginjak kota ini, setelah beberapa bulan lalu aku lulus dari salah satu kampus di Grouningen, Belanda. Ya, aku masuk fakultas seni. Kembali bergumul dengan tulisan-tulisan lagi. Sejak keluar dari salah satu Pesantren di daerah bogor beberapa tahun lalu, aku mulai menyukai menulis di blog-blog pribadiku. Aku membuatnya hanya untuk keisengan belaka. Untuk sekedar tahu bagaimana tulisanku berkembang setelah beberapa tahun terakhir di Pesantren aku tak menulis lagi.

Aku menatap ke arah keluar, pak supir yang namanya tak kuketahui itu terus mengendalikan kemudi mobilnya dengan lincah sampai akhirnya kami berhenti di persimpangan jalan. Karena lampu lalu-lintas yang mendadak menjadi warna merah. Jalanan kota bandung masih sama, basah akibat hujan yang tak berhenti sejak tadi pagi, kali ini aku melihat seorang Ayah yang membonceng anaknya dengan sebuah jas hujan plastik. Ia melindungi anaknya tapi dirinya sendiri tak ia lindungi dengan cukup ketat. Ah, begitulah pengorbanan seorang Ayah, kadang ia selalu berusaha melindungi kita dengan rasa gemetar yang masih berada di ujung lidah.

Lampu lalu-lintas mulai berubah menjadi hijau, seketika sang Ayah yang sedari tadi kuperhatikan mulai memutar keras-keras gagang gas motornya. Sepertinya dia terburu-buru. Dan aku masih berada dalam mobil taksi yang perlahan membawaku ke sebuah perumahan Capitol Dago Valley namanya, ya sesuai namanya perumahan ini terletak di jalan Dago. Perlahan pak supir memandangi perumahan tempatku tinggal, mungkin dia terkejut dengan perumahan seperti ini.

“Den rumahnya beneran disini?”

“Iya pak, hanya saja bukan rumah saya. Ini rumah Ayah saya, dia seorang sutradara.”

“Mending bagus pisan Den.”

Seketika aku tersipu malu dengan pujiannya. “Biasa aja pak.” Kataku selepas dia berbicara. “Pak persimpangan itu belok kanan.” Lanjuku sambil menunjukan arah ke kanan dengan jari telunjukku padanya.

Dia mengangguk perlahan, mengkonfirmasi perkataanku. “Yang mana rumahnya Den.” Dia melihatku dari kaca tengah mobil taksinya.

“Yang itu pak.” Aku menunjuk rumah dengan cat dinding berwarna hijau tosca, perlahan dia mengangguk.

Aku berhenti di depan pintu pagar rumahku, seketika aku memandangi keseluruhan rumah ini. Banyak yang berubah, aku melihat ke arah pojok teras rumah memandanginya perlahan. Aku ingat ketika itu ibu pernah susah payah menyuapiku, dia mengejarku layaknya anak yang tak bisa diam dengan kakinya.

---

“Rangga makan dulu, Ibu udah capek ngejar kamu terus.”

“Bu, ayolah aku belum mau makan, lihat di luar.” Aku menunjuk kearah teman-teman kecilku yang sedang asik bermain diluar rumah. “Mereka dibebaskan untuk bermain keluar rumah. Sedangkan aku, menginjak teras saja seminggu sekali.” Kataku cemberut.

Ibu menghela napas panjang, seketika dia perlahan mulai menghampiriku. “Kamu bukannya nggak boleh main diluar rumah. Kamu tuh masi kecil.” Sambil menyubit pipiku Ibu mulai memanjakanku.

Aku cemberut. “Tapi bu...”

“Enggak.” Ibu memotong perkataanku. “Sekarang kamu makan dulu, setelah itu kita mengaji bareng Ayah ya.” Entah perasaan seperti apa yang menjalar ke tubuhku hari ini. Tapi ibu sekali dengan senyumnya mampu membuatku lupa akan keadaan yang membosankan.

Aku mengangguk terpaksa. Bu mungkin ini perasaan paling nyaman yang pernah kurasakan selama dekat dengan seorang wanita. Ya benar, belum ada satupun wanita yang mampu membuatku sebahagia ini ketika kecil. Ayah selalu saja sibuk dengan urusan kantornya yang terlalu memusingkan buatku. Dan cinta-mu lebih dari apapun mempunyai perkara lainnya bagi suasana hatiku.

Ibu, kau mempunyai perasaan yang lapang pada hati, dan semua rasa cinta pada rasa yang tak pernah bisa ku reka akan jadi seperti apa. Mungkin sebagian hal diciptakan tanpa alasan-alasan yang jelas, yang pasti tanpa alasan apapun dan tanpa kejelasan apapun. Aku bahagia, Bu.

---

“Den, Den.”

“Oh, i..iya pak.” Lamunanku terganggu karena suara pak supir taksi itu. Aku mulai mengambil uang dari sakuku, aku mengeluarkan uan seratus ribuan satu lembar dan menyodorkan padanya. “Ini pak, ambil saja kembaliannya.”

Dia tersenyum perlahan. “Makasih Den.” Setelah mengucapkan itu, dia pergi perlahan. Memacu kembali mobilnya dengan tekad mencari uang, untuk sekedar memenuhi kebutuhan keluarga.

 

Aku mulai membuka gerbang itu lagi, gerbang yang sejak dulu pernah kutinggalkan untuk sekedar pergi mencari ilmu ke Belanda. Apa kabarmu Bu? Setelah aku sampai di Belanda kita hilang kontak sampai pada akhirnya tak ada komunikasi antara kita berdua. Bu aku tak benar-benar berusaha untuk menghindar darimu tapi keadaan memaksaku untuk melupakanmu sejenak. Ah, jadi anak macam apa aku yang berusaha melupakan malaikatnya sendiri. Sejak kapan aku menjadi pembangkang yang hancur karena sebuah kekesalan remaja.

Perlahan ruang tamu mulai berubah sedikit demi sedikit, foto-foto ketika aku masih kecil, ketika aku di wisuda ketika lulus SD menjad foto terbaik yang terpampang jelas di dinding berwarna putih itu. Seketika aku kembali mengingat-ngingat semua hal indah yang pernah kau ajarkan padaku Bu, mungkin banyak orang yang mempertanyakan sikap kekanak-kanakanku soal dirimu, ya sejak SD aku tak pernah bisa jauh darimu tapi ketika seudah masuk masa remajaku yang membebaskan sebagian perasaanku, aku menjadi pemberontak yang entah harus marah pada siapa. Entah, tapi sejak saat itu aku mulai membencimu dengan berbagai macam alasan yang tak masuk akal; Penghambat masa remaja, orang tua yang tidak mengerti perasaan anaknya, dan berbagai macam alasan lainnya. Yang menjadi sebab kekesalanku padamu.

“Permisi, Aden Rangga ya?” seorang wanita tiba-tiba mengagetkanku dengan handuk basah berada pada bahu kirinya.

“Iya.” Sahutku. “Bibi...”

“Bi Endah, perkenalkan.” Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku dia sudah memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. “Saya pembantu baru disini Den.”

“Bi Sarah kemana?” tanyaku, ya Bi Sarah adalah pembantu yang merawatku sejak kecil, namun semenjak aku pergi ke Grouningen aku sudah tak bertemu dengannya lagi.

“Bi Sarah pulang kampung, belum kembali lagi kesini.” Ujarnya. “Tas nya mau dibawain kekamar Den?”

“Nggak usah Bi, biar saya aja nanti. Saya masih mau duduk sebentar disini.”

“Saya akan ambilkan minum Den.”

Aku mengangguk padanya. Aku mulai duduk pada sofa panjang yang di beli Ayah dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Di bagian rak-rak buku, aku menemukan album foto sejak aku masih kecil. Ibu sengaja membuatkannya untukku agar aku tak pernah lupa untuk mengingat setiap peristiwa ketika aku kecil, oh ibu mungkin kau adalah orang pertama yang mengajarkanku apa artinya sebuah kenyamanan, sebuah pernghargaan pada waktu. Dan cinta tak pernah padam.

Di bagian depan album foto itu, aku menemukan foto ketika aku masih berada dirumah sakit, itu adalah masa ketika aku baru saja turun ke dunia ini. Ya, aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Ibu, kau adalah malaikat pertamaku di dunia ini, yang menjadi madrasah pertama bagiku. Ya, kau adalah bagian dari semua kebahagiaan yang kau berikan padaku. Dan cintamu adalah penyempurnanya.

Dan sekali lagi aku pulang ke tempat paling nyaman...

 


  • Yudhie Noer
    Yudhie Noer
    8 bulan yang lalu.
    Kawan.
    Boleh tanya. Kalau buat project yang kayak gini, cara masukin karyanya dimana ya?
    Aku buat project cuma covernya doang tanpa panduan masukan isinya.

  • Syifa Ghifari
    Syifa Ghifari
    1 tahun yang lalu.
    Aaah sayang nih kalo ga dilanjutkan. Kabar Ibunya belum terbacaa????

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    Pulang adalah salah satu judul novel Tere Liye.
    termasuk novel yang mengalami naik cetak ulang yang cepat pasca dirilis.
    isi novel tersebut salah satunya membahas tentang 'shadow economy'.
    seru, menarik, dan banyak pelajaran yang bisa diambil.
    bisa didapat di Gramed dengan harga 65rb.
    aaaargh, kok nyepam lagi


    tapi tulisan Pulang-mu ini udah aku baca sampai tuntas, Arifin.
    keren (7)

    • Lihat 8 Respon