Pergi Tanpa Kembali

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 20 April 2016
Pergi Tanpa Kembali

Kamar itu terasa sedikit sesak, dengan komputer yang masih menyala di ruangan kerjanya, dia maish memandangi album foto itu. Album foto yang mungkin sudah sangat jarang ia tidak lihat setelah sekian lama. Waktu seakan menjadi seribu kali lebih cepat, namun begitu melamban ketika kenangan mulai merangka lagi bahagia-bahagia masa lalu. Tentang layang-layang yang lupa ia terbangkan, tentang sepeda yang dengan sengaja ia jatuhkan, tentang catur yang dengan sengaja ia hamburkan ke lantai, tentang taruhan sepak bola siapa yang akan mencetak angka terlebih dahulu antara Madrid dan Barcelona. Tentang semua itu, dan tentang Ayah yang tersenyum di halaman depan album kenangan.

“Dimas kamu belum tidur?” Ucap seorang perempuan paruh baya tepat di muka pintu kamar Dimas.

“Belum Mah.” Jawab Dimas lemas.

Wanita itu menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan, langkahnya mulai beranjak masuk ke dalam kamar. Dia mulai mengintip apa yang sedang Dimas lakukan dengan komputer yang masih menyala. “Kamu kenapa baca album kenangan tapi komputernya masih dinyalakan.”

Dimas terdiam memerhatikan wanita paruh baya itu berbicara.

Wanita itu menatap Dimas lekat. “Ada apa?”

“Papah nggak ninggalin apa-apa buat Dimas?” Kata itu mulai terucap dari mulut Dimas dengan lemas.

“Ninggalin?”

“Iya semacam pesan atau apapun gitu, seperti mainan kah? Atau surat kah? Atau apapun yang mungkin bisa buat Dimas pegang sampai kapanpun. Kadang Dimas ngerasa aneh sama diri Dimas sendiri, kadang juga Dimas ngerasa iri sama Arya dan juga Dinda..”

“Tunggu.. Dinda?” Belum selesai Dimas menyelesaikan kalimatnya wanita itu memotongnya cepat.

“Iya Mah Dinda, perempuan yang Dimas kenal di cafe seberang kampus.”

“Pacar kamu ya?” Wanita itu tertawa keras.

“Mah apasih, tadi kan lagi nggak bahas si Dinda. Kita kan lagi bahas Papah.” Dimas langsung mengelak cepat agar percakapan soal Dinda tidak diteruskan.

Wanita itu terdiam, perlahan dia meraih kursi yang ada di depannya, dia mulai duduk perlahan bersebelahan dengan Dimas. “Oke gini, karena kamu udah mulai deket sama perempuan, mamah akan kasih satu pesen Papah yang dia kasih buat mamah. Mungkin seharusnya pesan ini mamah kasih pas kamu akan menikah tapi karena umur kamu juga sudah 22 Tahun, mungkin akan menjadi bahan pertimbangan kamu agar nilai ipk kamu lebih bagus lagi.”

Dimas memperhatikan.

Wanita itu tersenyum perlahan.

---

15 tahun yang lalu

 

Langit senja masih menyisakan kebuntuan diujung khatulistiwa, percakapan sederhana terjalin lewat teh hangat di depan teras Rumah. Cinta masih menunjukan keabadiannya, tentang sepasang manusia yang berjodoh karena kebetulan.

Anak laki-laki itu masih berlari memegang benag layangannya. Masih dengan perasaan senang luar biasa, permainan trend kala itu adalah layangan dan juga petak umpet permainan yang barang kali paling banyak di gemari daripada yang lainnya.

“Suatu saat nanti dia akan tumbuh lebih baik dari Papah.” Seru laki-laki paruh baya yang sedang asik duduk di teras depan rumah.

“Kok gitu?”

“Setiap generasi ataupun manusia akan jauh bertumbuh lebih hebat daripada pendahulunya Mah. Seperti guru kungfu yang perlahan akan menua dan meninggal, semua jurusnya diwariskan pada muridnya, bahkan bisa jadi muridnya menjadi legenda yang lebih hebat daripada gurunya.” Jelas laki-laki itu. “Dimas, perlahan akan tumbuh menjadi orang yang berbeda dari Papah, tapi akan mewarisi beberapa bagian dari Papah.”

“Apa yang bisa di warisi dari Papah? Paling juga asam urat.”

Laki-laki itu tertawa. “Mamah kalau bicara kadang bener.” Tawanya makin keras. “Banyak yang akan dia warisi dari Papah, tapi dia sendiri yang menentukan mau memakai nya atau tidak.”

“Pokoknya Dimas harus jadi panutan keluarga.” Sahut wanita itu.

Laki-laki itu tertawa sekali lagi, kali ini lebih kencang. “Apa yang harus anak itu lakukan untuk jadi panutan keluarga? Atau panutan adik-adiknya? Kamu ada-ada aja.” Laki-laki itu tertawa makin keras. “Mah, mengajarkan attitude yang baik pada keluarga, atau mengajarkan adik-adiknya agar lebih berprestasi dari sang kakak itu bukan tugas seorang anak. Aku setuju kalau misalnya Dimas nanti punya adik dan dia harus membuat adiknya termotivasi, tapi dengan cara yang orang tua ajarkan.”

“Maksudnya?”

“Orang tua yang harus berperan besar dalam termotivasinya anak-anak, kalau anak pertama yang harus menjadi penyebab besar agar anak kedua termotivasi seperti yang pertama, lama kelamaan mereka akan bertengkar masalah siapa yang paling berprestasi, kan? Akhirnya di pertengahan ketika semua itu terjadi akan muncul perkataan yang kurang baik pada anak seperti ‘lihat kakak kamu dia udah jadi insinyur’ atau ‘lihat adik kamu udah jadi penulis hebat’ atau apapun yang sifatnya membadingkan. Memotivasi itu kewajiban orang tua, bukan anak. Mendidik itu kewajiban yang tua bukan yang muda. Sama seperti di sekolah misalnya, guru yang mengajarkan muridnya kan? Bukan murid yang mengajarkan gurunya?” Laki-laki itu terdiam beberapa saat. “Suatu saat nanti Dimas akan tumbuh dengan kepribadiannya sendiri, dengan caranya sendiri, masa depannya adalah tanggung jawabnya sendiri sebagai manusia. Tapi sebagai anak dia masih tanggung jawab kita untuk mendidiknya agar tidak salah arah, beberapa tahun dari sekarang peradaban dan pola pikir manusia akan jauh lebih berbeda Mah, itu yang harus kita jaga agar Dimas tidak masuk ke tempat yang bermasalah.” Tutup laki-laki itu sambil perlahan menyeruput teh hangatnya.

Wanita itu terdiam. Matanya masih melihat Dimas yang asik bermain, padahal waktu sudah hampir petang.

“Aku boleh nitip pesan buat Dimas?”

Wanita itu tersentak. “Pesan?”

“Iya, dokter bilang kan umurku sudah tinggal 1 tahun lagi, sekiranya aku sekarat nanti, tolong bilang ini sama Dimas ketika dia akan menikah nanti ataupun tumbuh dewasa.” Laki-laki itu memandangi sang wanita lekat. “Dim, perlahan kamu akan tumbuh dengan kepribadian orang lain, ya setiap orang tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Mereka selalu tumbuh dengan kepribadian orang yang mereka kagumi, tapi kamu jangan seperti itu, berusahalah jadi diri sendiri yang malu meniru orang lain. Menjadikan mereka motivasi mungkin bolah tapi jangan sekali-kali menjadi seperti mereka. Dimas, ada saatnya kamu akan menikah, jaga istirmu dengan baik, ingat bertanggun jawab bukan hanya ketika kau mengijab kabulkan dia, wanita yang kau cintai tapi juga bertanggung jawab itu adalah kesadaran penuh bahwa kau akan mengajaknya ke dalam penderitaan dan kebahagiaanmu juga. Tapi Dimas, laki-laki yang bertanggung jawab tidak akan pernah ingin membuat wanita yang ia cinta menderita, kan?Jaga dirimu, perlahan hidup akan membawamu pada bahagia yang sebenarnya. Oh ya, Tuhan masih tetap bekerja, jadi tenang saja. Gitu Mah.”

Mata wanita itu berkaca, perlahan dia memukul suaminya. “Nggak ada yang lebih panjang lagi Pah.” Tak lama dia menangis.

Laki-laki itu tersenyum. “Udah sampein aja.”

---

Dimas terdiam, matanya berkaca perlahan.

“Sudahlah kamu tidur ya.” Wanita itu mencium kening Dimas dan beranjak pergi perlahan.

Dimas masih memandangi langkah wanita paruh baya itu, perlahan mondar-mandir memandangi album foto yang ada pada tangannya. Seketika perasaan itu muncul lagi, perasaan yang mungkin tak bisa ia jabarkan dengan kalimat macam apapun di dunia ini, kalimat yang barangkali menghentikan semua perjalanan waktu pada jarak, pada rindu dan apapun yang menyesakkan. “Aku rindu Pah.”

Seperti itulah semuanya berjalan, hidup kadang bukan tentang orang-orang yang pergi dan kembali lagi. Tapi perlahan ada orang yang memang ditakdirkan untuk kemudian pergi dan tak kembali.