Ayah

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 April 2016
Ayah

“AYAH!!!!” Teriakku padanya. Jauh dari gerbang rumah kami, ketika mobil sudah terpakirkan di bagasi. Pak Ujang supir kami baru saja pergi setelah memastikan mobil itu terparkir rapih.

Ayah berlari cukup kencang dari arah ruang tamu, aku masih menangis di depan gerbang dengan Pak Ujang yang mencoba untuk terus menenangkanku. Umurku masih beranjak 10 tahun, aku tak mengenal apa-apa, hanya rasa pahit dan kekecewaan yang aku rasakan. Kadang aku selalu merasa aneh pada diriku sendiri, sempat aku berpikir untuk bunuh diri, entah darimana datangnya kemauan seperti itu pada anak umur 10 tahun. Tapi Ayah selalu bilang “Bapak Setan selalu ada dimana-mana, mereka selalu ada menyerupai apapun; Hasrat, benci, dengki, iri, cinta, tulus, keinginan, teriakkan, kebaikan, keindahan, keburukan, dan apapun yang mereka bisa merasuk kedalamnya. Jadi jangan sampai kalah sama mereka.” Kata Ayah waktu itu.

“Lalu Ayah, apa hal yang tidak bisa mereka masuki? Bagaimana cara aku berlindung kalau mereka selalu ada di setiap tempat?” Tanyaku polos waktu itu.

Ayah seketika tersenyum sebentar, dia mulai mengelus rambutku berusaha agar tetap membuatku nyaman padanya. “Tuhan Satya, Tuhan.”

Aku terdiam seketika, memperhatikan senyum Ayah dengan rambut yang sudah berubah putih, wajah yang berkeriput dimana-mana, dan juga lengan yang mungkin sebentar lagi akan menjadi lemah tak bertenaga. Aku tersenyum pada Ayah seraya berkata “Aku mengerti Ayah.”

---

Ayah datang dengan sigap, perlahan dia mulai memelukku. “Dia kenapa Pak Ujang?” Tanya Ayah pada Pak Ujang, Ayah mulai terlihat panik melihat kondisiku yang mungkin memperihatinkan secara psikis.

“Anu Tuan.. Ini tadi di sekolah dia di jahili lagi sama beberapa teman-temannya, dia di anggap lemah dan nggak mampu melakukan apapun.” Singkat Pak Ujang sambil perlahan merunduk merasa bersalah. “Maafkan saya Tuan, Aden Satya tidak bisa saya jaga dengan baik.”

Ayah menatap Pak Ujang lekat, sambil sesekali menengok ke arahku, lalu dia tersenyum tipis. “Sudah Pak tidak usah minta maaf, sudah bersedia menemani Satya dan menjadi teman bermain Satya saja saya sudah banyak berterima kasih.” Jelas Ayah.

Pak Ujang terlihat tersenyum, namun dalam hatinya aku merasakan rasa bersalah itu, rasa yang mungkin tak mampu ia balas dengan apapun. Ya, hanya sebagai rasa tanggung jawab saja. Ayah mulai mengangkatku, aku masih menangis dalam pelukannya. Masih dengan seragam sekolah putih-merah, dengan topi yang terlalu longgar, sepatu kotor yang di masukkan beberapa temanku ke dalam selokan dan juga celana yang sobek karena permen karet.

“Ayo pengeran kita masuk ke dalam, bermain Playstation.”

Aku tersenyum dan mengembang.

---

Suasana hatiku seketika menjadi lebih menyenangkan, Ayah perlahan mulai berteriak layaknya orang yang habis menang taruhan besar. Dia mulai memainkan stick playstation nya dengan sangat lincah. Ada hal yang tidak pernah aku suka ketika aku bermain dengan Ayah, dia selalu menang dalam setiap permainan, entah bagaimana caranya dia masih mampu bertahan, masih bisa saja menyusul score ku. Seperti pada permainan PES (Pro Evolution Soccer) Aku sudah menang telak 3-0 namun di menit-menit terakhir semuanya berubah Ayah berhasil mengalahkanku menjadi 3-5 dan aku benar-benar merasa kalah.

Semenjak hari itu aku terus bertaruh pada Ayah, tidak pernah mau kalah dari dia. Aku ingin seketika menang disaat-saat terakhir dari dia, aku ingin membuat dia terdiam kerena kekalahannya. Kadang aku tidak suka tertawanya ketika dia menertawakanku anaknya kalah darinya. Ini tidak adil kadang jika dimenit-menit terakhir dia kalah dia selalu bilang. “Inget malin kundang.”

“Kok gitu Yah? Lagipula kan Malin Kundang durhaka sama Ibu nya, memang kalau durhaka sama Ayahnya jadi batu juga?”

“Ya kan sama-sama orang tua.” Sahut Ayah. “Tapi paling bedanya kalau Malin di kutuk sama Ayahnya, dia akan jadi batu akik.” Ayah tertawa di ujung kalimatnya.

Aku tertawa, tawa yang barangkali melegakan hatiku dari semua teman-teman yang paling menjengkelkan di sekolah tadi pagi. “Ayah kenapa bisa menang terus?”

Ayah tersenyum. Seketika dari dapur Ibu membawa lauk pauk makanan malam ini. “Makanannya siap!” Teriak Ibu, ya seperti Ibu rumah tangga lainnya.

“Ayo kita makan dulu.” Ayah mulai beranjak perlahan.

“Eh Ayah tunggu kenapa bisa menang terus? Tadi pertanyaanku nggak di jawab.”

“Memang penting banget buat kamu?”

Aku mengangguk.

“Nanti akan Ayah jawab selesai makan.”

---

Langit masih menyisakan bintang yang terang, gugusan yang membawa kenyamanan. Bulan masih berada pada fungsi yang sama, dan aku tahu Tuhan belum murka. Waktu menjadi super sekali lambat dari apa yang ku bayangkan, ternyata kadang waktu bisa menjadi sangat fluktuatif dan lebih munafik dari yang kubayangkan. Kadang dia menjadi lamban dan kadang lebih cepat dari pada jarum itu sendiri.

“Hidup itu seperti rasi bintang orion.” Tiba-tiba Ayah mulai membuka percakapan, aku dan Ayah menikmati taman belakang rumah ketika selesai makan malam.

“Aku nggak ngerti.”

Ayah tersenyum. “Kamu tahu para petani dulu akan dengan sengaja melihat rasi ini sebagai suatu keberkahan. Kenapa? Karena pada saat rasi bintang ini membentuk simbol yang sekarang disebut ‘orion’ seketika mereka akan mulai bercocok tanam, dan memulai semuanya dengan rasa syukur pada alam. Artinya apa yang mereka tanam akan panen besar. Dan rasi bintang ini selalu disebut 'pemburu'”

“Aku nggak pernah denger cerita seperti itu.” Sahutku singkat pada Ayah. “Tapi rasi bintang itu bagus, indah.” Lanjutku sambil menunjuk ke arah langit.

Ayah tersenyum, memperhatikanku dari atas sampai bawah, dan dia mulai menepuk pundakku perlahan. “Satya.” Panggil Ayah.

Aku menoleh perlahan. “Iya?”

“Suatu saat nanti, gugusan bintang itu akan hilang dan mungkin akan jarang nampak. Nantinya akan banyak yang berubah dari mulai iklim, langit, peradaban manusia, sistem tata surya, waktu kita berdua pun akan semakin kurang. Jadilah orang yang paham sama perasaanmu sendiri, hargai siapapun yang menolong kamu, jangan benci siapapun yang menjahili kamu. Karena biasanya teman paling setia adalah mereka yang menjahili kita habis-habisan.” Jelas Ayah pelan.

“Kok begitu Yah?”

“Pak Ujang pernah jahil sama Ayah waktu sekolah.”

Aku tersentak. “Ja.. Jadi Pak Ujang itu dulu teman SMA Ayah?” Ayah mengangguk dan mulai berjalan ke arahku.

“Dan lihat sekarang Pak Ujang selalu nemenin Ayah, kan? Apalagi dia selalu jagain kamu dengan baik, pengganti Ayah.” Ayah mulai mengelus kepalaku. “Ayah selalu percaya kalau manusia hanya terlahir dari dua bentuk sifat; baik dan jahat, sisanya adalah semacam hasrat pada apa saja yang menggoda, dan dari situlah menjelma ‘Bapak Setan’ secara diam-diam. Mungkin nanti, ketika Ayah sudah mulai tidak kuat nemenin kamu seperti ini atau ketika kamu menikah, banyak manusia yang tergoda sama apa saja yang membuat mereka bahagia dalam jangka waktu sebentar. Dan lupa sama bahagia jangka panjangnya, sampai akhirat maksud Ayah.”

Ayah terdiam beberapa saat, dan menarik nafas pelan.

“Satya, mungkin saat ini banyak orang yang nggak suka sama kamu, banyak orang yang perlahan mau kamu keluar dari sekolah, banyak yang jahilin kamu. Mungkin banyak orang yang nggak suka kamu ada dikelas mereka. Mungkin banyak, lebih dari satu, lima, sepuluh atau ratusan bahkan ribuan. Maafkanlah mereka, karena sekedar memaafkan adalah cara agar gugusan bintang di hati kamu bisa membuat simbolnya sendiri.”

“Tapi Ayah aku nggak bisa kayak gitu, mereka udah keterlaluan.” Mataku mulai berkaca.

Ayah terdiam dan perlahan berjalan masuk ke dalam rumah. “Kamu tahu nggak apa yang laki-laki seusia Ayah lakukan kalau punya masalah yang sama seperti kamu?”

Aku memiringkan kepalaku.

“Dewasa.” Ayah kemudian beranjak masuk.

Aku terdiam, entah aku belum mengerti maksud Ayah, aku masih memandangi punggungnya. Laki-laki yang selama ini selalu menjadi tameng terkuat bagiku, menjadi api unggun paling hangat yang pernah ku tahu dan selalu menjad teman bermain paling mengasyikkan untukku. Aku mengejarnya sambil tersenyum, dan memberhentikannya. “Ayah tunggu, aku nggak ngerti maksud Ayah tadi.” Dia hanya tersenyum padaku. “Tapi Ayah belum jawab pertanyaanku sewaktu sebelum makan malam, kepana Ayah bisa menang terus? Kadang aku mau mengalahkan Ayah, masa aku kalah terus.”

Ayah tersenyum. “Karena Ayah pecundang Satya.. Dan kamu lebih pecundang daripada Ayah.” Dia tertawa dan beranjak pergi.

Aku aneh mendengar ucapan Ayah, aku benar-benar tak mengerti. Di buku-buku novel ataupun ketika aku bermain, pecundang adalah mereka yang terbaring di tanah dan tidak punya apa-apa dan tidak pantas di hormati. Kalau Ayah pecundang kenapa dia bisa membeli rumah di komplek mewah seperti ini, kalau aku pecundang kenapa aku bisa bersekolah di SD luar negeri seperti ini. “Maksudnya pa Yah?!” Teriakku dari bawah.

“Itu artinya kamu nggak mau kalah.”

Aku terdiam dengan jawaban itu. “Ibu.”

Ibu tersenyum. “Begitulah Ayahmu, pecundang terbaik, tapi saat ini saat umurnya menua dia memiliki pecundang yang lebih terbaik dari yang terbaik.” Perlahan ibu memegang tanganku. “Jangan mau kalah Satya.”

Aku menatap wajah ibu, aku melihatnya, mata yang berkaca dan semua kegembiraan itu. Aku menatap tangga yang baru saja Ayah naiki, dengan jejak sepatu yang masih berada disana, dengan perasaan paling bahagia yang pernah kurasakan. Sekarang aku belajar sesuatu, pecundang selalu berhasil menang di setiap pertandingan ataupun pertaruhan kesuksesan, bukan karena mereka beruntung atau karena mereka di kasihani dengan yang berani. Tapi karena mereka tidak pernah mau kalah, mereka selalu punya rasa penasaran kenapa orang-orang berani selalu bisa menang, seperti sekarang aku yang memperhatikan Ayah kenapa bisa mempunyai rumah mewah di bilangan Jakarta Selatan. Padahal ibu selalu bercerita Ayah adalah korban pembullyan sewaktu SMA, tapi saat ini dia menjadi seorang pemilik perusahaan desain di Depok. Mungkin benar, pecundang adalah mereka yang tidak mau kalah dan berusaha memberikan yang terbaik versi diri mereka sendiri. “Ayah aku mengerti sekarang.”

---

“Sudah ziarahnya Den?” Pak Ujang tiba-tiba membangunkan lamunanku. “Mau berangkat sekarang Den? Udah sore soalnya”

Aku menengok ke Pak Ujang. “Su.. Sudah Pak.” Jawabku singkat. “Me.. Memang ini jam berapa Pak?” Tanyaku sambil perlahan mengusap air mataku.

“Sudah jam 2 siang Aden, takut telat, berangkat sekarang aja hayuk.”

“Oke kita berangkat sekarang aja Pak, kemana ya hari ini aku lupa?” Tanyaku mengkofirmasi.

“Hari ini Aden akan tanda tangan buku Aden sekaligus talkshow di Mantraman. Bapak sudah bilang sih sama Ibu, Aden pulang agak maleman.” Katanya pelan.

Aku mulai beranjak pergi, Ayah, meninggalkanmu dalam kesendirian malam, dalam dinginnya angin, aku belajar sesuatu darimu Ayah. Terima kasih untuk tameng itu. Ayah mungkin benar katamu, aku lebih pecundang dibandingkan dirimu.

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Tulisan yang sangat menyentuh mengenai kedekatan dan cinta antara ayah dan anak lelakinya. Alur yang jelas, deskripsi beberapa kejadian disajikan cukup emosional. Banyak filosofi kehidupan yang bisa kita ambil dari kisah ini. Cerita ini mengangkat tema penting tentang kunci kesuksesan yang dialami langsung oleh sang ayah dan ia wariskan dan tunjukkan langsung ke Satya, putranya. Pesan menarik dari karya ini adalah mengajarkan bagaimana tidak membenci orang yang pernah meledek kita, sebab siapa tahu mereka justru suatu saat akan selalu berada di samping kita. Pesan sang ayah pun menjadi tali pengikat batin luar biasa bagi Satya, yang sama seperti ayahnya, kini sukses sebagai penulis dengan menerapkan jurus tidak mau kalah.

  • Tee 
    Tee 
    1 tahun yang lalu.
    aku pernah dengar istilah 'pecundang' yg tidak mau kalah di movie anime. Cuma mau tanya apa terinspirasi dari situ.? tapi lepas dari itu cerita ini di bawakan lebih pada kehidupan nyata. Keren.

    • Lihat 2 Respon

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Hebat adik kecil yang satu ini ....
    Saya sampai nangis antara sedih dan terharu baca ceritanya, jadi kangen Ayah T-T

  • Isti Arbaniah
    Isti Arbaniah
    1 tahun yang lalu.
    Dari kecil saya sering mendapat pujian n kemudahan hidup tp itu membuat sikap pantang menyerahnya jadi kurang. Gmn menumbuhkan sikap "pecundang" yg positif di atas?

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Arifin Narendra Putra, selalu bisa membuatku 'terpaksa' melahap cerpennya. Cara bercerita dan ceritanya sendiri yg memang populer... Bravo Fin