Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Proses Kreatif 16 April 2016   07:33 WIB
Cinta itu Menyamankan

Arya

 

Laki-laki itu masih duduk diam di depan script acara yang berantakan, dia masih berusaha menyiasati acara-acara itu bisa berjalan dengan lancar atau tidak, banyak kendala yang perlu dia awasi. Tapi kali ini berbeda, acara-acara ini semakin membuatnya pusing setengah mati sampai-sampai serasa ingin bunuh diri, pameran antar fakultas selalu terjadi setiap tahun dan setiap tahun itu pula FIB berhasil membawa pernghargaan dan predikat yang cukup baik belakangan terakhir. Dulu tugas sebagai ketua panitia di emban oleh seorang senior yang baru saja lulus tahun ini, tapi kali ini tugas itu di ambil alih oleh orang yang paling bijaksana dan dipercaya antara yang lain, Arya. Laki-laki yang percaya bahwa segalanya ada karena usaha, dan laki-laki yang selalu gagal soal asmara, tentang 63 perempuan yang menolaknya adalah perkara yang sangat tragis, menurutnya perempuan mempunyai jalan pikiran yang aneh. Kenapa semuanya harus berada pada pimpinan bernama tampan, banyak perempuan yang menolaknya karena faktor wajah, fisik dan sebagainya.

Arya adalah laki-laki yang cerdas, dengan perawakan yang cukup tegap, wajah yang cukup halus dan dengan gaya seorang designer dia membuat beberapa perempuan terkagum sebenarnya tapi hanya sebatas kagum saja, sisanya hanyalah opini yang sama sekali tak bisa ia terjemahkan.

“Udah nggak usah terlalu di pikirin, nanti gue coba bantuin.” Tiba-tiba suara perempuan terdengar dari belakangnya.

Dia menoleh, lalu seketika tersentak. “Ina, kok lo belum pulang?” Tanyanya pelan.

Perempuan itu tertawa. “Gue habis ini bantuin Dini yang lagi ngerjain tugasnya buat besok, gue juga bingung sih kenapa dia minta bantuin gue.” Sahut Ina. “Jadi karena tadinya gue mau cek ulang keperluan kita buat acara pameran yang tinggal 2 minggu lagi, tiba-tiba gue liat lo masih nyangkut aja disini.” Jelas Ina, perempuan itu langsung mengambil kertas yang ia cari-cari sambil sesekali tersenyum pada Arya.

Ina adalah seorang mahasiswi fakultas yang sama seperti Arya hanya saja berbeda beberapa semester dari Arya, bisa dibilang Ina adalah senior dari Arya. Dia menjadi wakil Arya sebagai ketua untuk pameran antar fakultas, seorang perempuan dengan perawakan yang santai, dengan tinggi yang semampai, lalu dengan rambut yang ia cepol dengan lucu, dia selalu dibilang sebagai Sapardi Djoko Damono versi perempuan, ya dia adalah seorang penulis puisi. Sangat suka dengan menulis puisi sampai pada akhirnya dia membuat satu buku kumpulan puisi yang ia buat selama sekolah SMA dulu.

Arya masih menatap Ina lekat, dia merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah bisa jatuh cinta dengan Ina, perempuan yang selalu ada bersamanya, dalam setiap masalah yang Arya tuju sebagai ‘tempat curhat’ tidak lain tidak bukan adalah Ina, tapi tidak sama sekali Arya menyimpan perasaan yang lebih mendalam lagi ketimbang teman ‘curhat’ saja. Entah apa yang membuatnya ragu pada Ina, tapi dengan cara pandang yang kesekian Arya selalu membuang Ina dalam hitungan orang-orang yang akan dia tembak setiap bulannya. Mungkin memang cinta bukan sesuatu yang harus memaksa tangan orang lain berpegangan pada tangan kita, mungkin yang harus kita lakukan adalah memaksa diri kita untuk melepaskannya. Karena cinta yang sadar adalah tentang perasaan dua orang yang dengan sengaja tercocokkan, bukan tentang dua orang yang dengan sengaja memaksa bertahan. Ini berbeda jelas, karena pemaksaan adalah semacam kebencian yang tumbuh perlahan, tapi cocok adalah semacam manifestasi kepada ketulusan. Cinta itu masih sama, hanya memerlukan penerimaan dari setiap keraguan.

“Lo kenapa lihat gue sampai kayak gitu?” Tanya Ina tiba-tiba, dia orang yang tidak terlalu senang jika ada yang melihatnya terlalu lama, risih  aja gitu.

“Ng.. Nggak, nggak apa-apa. Cuma ini..” Arya berhenti.

“Cuma apaan?”

Arya mulai berpikir alasan apa yang pas, matanya masih melihat Ina, perlahan tapi pasti dia mulai berusaha agar ini berakhir disini. “Cuma sayangnya gue harus pergi dari sini.. Ya, anu, gue ada janji sama Dimas. Gue harus anter dia ketemu penerbit.” Jawab Arya. “Jadi yaudah ya, dadah.” Arya perlahan meninggalkan aula, dirinya masih bertanya-tanya. Kenapa?! Kenapa sama sekali dia tak bisa jatuh cinta dengan Ina?! Mungkin memang cinta itu bukan pemaksaan, bukan penagihan atau hanya penjemput rasa kesepian. Lebih dari itu cinta adalah semacam pelengkap bagi tertutupnya lubang sepi dalam hati itu sendiri, seperti lubang hitam yang membawa benda-benda apapun di angkasa ke dimensi yang berbeda. Mungkin benar, yang harus dia lakukan adalah menunggu agar Semesta setuju dan cinta kembali membawanya pada dimensi perasaan yang sama, yang membuatnya bahagia, dalam sepi dan dalam keramaian. Menunggu sampai cinta itu benar-benar datang lagi.

 

Dimas

 

“Kenapa memilih tempat yang seperti ini? Saya yakin anda bukan orang yang punya selera romantis seperti ini.” Perempuan itu masih memperhatikan keseluruhan restoran yang mempunyai suasana yang cukup romantis, dengan lampu yang terbuat dari lilin-lilin kecil dan meja bundar yang tidak terlalu besar, kebanyakan orang mungkin menyebutnya candy light dinner.

Wajah itu hampir saja membuat Dimas terbujur kaku, wajah yang sedari tadi ia pandangi. Dimas Selalu berusaha menahan dirinya ketika wajah itu menatap matanya lekat-lekat. Dia berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja, bagi Dimas cinta pertama adalah anugrah yang harus di nikmati dengan kenyamanan-kenyamanan yang mungkin orang lain tak akan bisa merasakannya.

“Saya rasa ini cukup aman untuk kita berdua.” Sambil tersenyum Dimas memerhatikan wajah itu lagi, perempuan yang menjadi cinta pertamanya. Dinda.

Dinda tersenyum, kali ini dia terkekeh meremehkan. “Saya tidak bermaksud meremehkan, tapi bukankah orang-orang seperti kalian, sastrawan atau bisa dibilang sebagai seniman kata. Tidak terlalu mempunyai cukup uang untuk makan ditempat seperti ini?” Di ujung kalimat Dinda kembali terkekeh.

Dimas hanya merunduk terdiam, dia merasa sedikit tersinggung dengan apa yang Dinda katakan, memang kadang orang-orang yang berkecimpung dalam dunia kepenulisan amatiran selalu mempunyai uang jajan yang tidak lebih dari apa yang dibayangkan. Dimas selalu berusaha menghitung ketika tulisannya diterbitkan untuk majalah, koran ataupun jika beruntung tulisannya bisa diterbitkan oleh pernebit dan mendapatkan sambutan yang ramah oleh khalayak ramai. Setiap tulisannya terbit dia selalu menghitung kembali, kira-kira untuk nilai sekian dia harus menulis berapa kali, dalam satu tahun dia harus menerbitkan berapa buku, dan bagaimana dia menjadi orang kaya lewat apa yang dia suka. Mungkin bagian tersulit bagi seorang penulis amatir seperti Dimas adalah tulisan yang kadang tidak masuk penilaian penerbit-penerbit pada umunya; terlalu ribet, terlalu simple, terlalu melancolis, terlalu bertele-tele, atau alasan yang penerbit berikan umunya adalah Tidak menarik.

“Mau pesan apa Mba, Mas?” Suara pelayan memecah suasana sunyi yang tidak mengenakkan.

Dinda menatap Dimas lekat. “Saya cappucino dulu aja. Dimas?” Masih dengan tatapan yang bertanya.

Dimas mencoba berpikir, dia tidak biasanya diperhatikan sebegitunya oleh perempuan. Ya, memang ini pertama kalinya dia mengajak perempuan dinner. “Coffee Latte nya satu.” Seru Dimas tergesa, pelayan itupun berlalu dari hadapan mereka berdua.

“Suka kopi juga?”

“Sedikit, untuk sekedar teman kalau lagi suntuk dan nggak ada ide buat nulis.”

Dinda tersenyum.

 

Dinda..

Aku suka ketika kau tersenyum, aku suka melihat lesung pipi itu terlihat

Aku suka ketika waktu membiarkan aku memperlambat gerakan kau tertawa

Aku suka ketika semua sendi pada wajahmu ramah pada apa saja yang indah

Aku suka, mungkin ini kesukaanku paling parah pada perempuan.

Mencintai secara sadar.

 

“Saya selalu ingin tahu satu hal dari manusia.” Jelas Dimas ketika pesanan yang mereka pesan datang perlahan.

“Apa?”

“Bagaimana rasanya jatuh cinta?”

Dinda terdiam sejenak, wajahnya berubah menjadi merenung, sedih dengan pertanyaan semacam itu, tiba-tiba rasa sakit itu muncul lagi ke permukaan. Perasaan itu datang lagi ke permukaan, rasa patah hati yang ingin dia lupakan. “Tidak buruk.” Singkat Dinda. “Tapi mungkin rasanya sama seperti ketika berada di kandang Tarantula, kita menjadi si jangkrik yang akan menjadi umpannya. Mungkin menit pertama menuju satu jam pertama semuanya baik-baik saja, kita nyaman dengan kondisi pada kotak kandang itu, berasumsi segalanya ternyata lebih nyaman dari apa yang kita duga. Namun, perlahan tapi pasti kita adalah sasaran patah hati selanjutnya, kita adalah makanan dari setiap kenyaman yang ada. Seperti cerdik tapi bodoh, seperti pintar tapi tidak tahu harus berbuat apa. Semuanya seperti kembali lagi ke awal. Cinta itu nyaman, indah dan menyejukkan, tapi perlahan semua itu berubah menjadi rasa patah hati pada apa saja,  titik balik dari kenyamanan itu sendiri.” Lanjut Dinda dengan perasaan yang entah bagaimana dia menjawabnya.

Dimas tertawa keras, seluruh restoran menjadi gaduh karena tawanya yang cukup keras. “Anda ini lucu.” Masih dengan tawa yang sama.

“Lucu?” Dinda menaikkan kedua alisnya, mengkonfirmasi perkataan Dimas.

“Kita bukan Tarantula, kita manusia, diciptakan dengan kenyamanannya sendiri. Ibu saya selalu bilang sesuatu pada saya. ‘Tempat baru akan selalu membuat siapapun betah, karena pada dasarnya itu adalah BARU. Berbeda dengan tempat  yang nyaman, karena pada dasarnya itu adalah NYAMAN.’ Itu kata ibu saya.” Tawa Dimas berhenti di ujung kalimatnya. “Lagipula apa salahnya bertahan pada satu hati. Ya kalau mungkin anda menganggap anda adalah Tarantula, anda selalu butuh kandang baru untuk sehat, kan? Bukan kandang yang nyaman.” Lanjut Dimas.

“Lalu maksud anda?”

“Cinta itu menyamankan bukan membaharui.” Dinda terdiam beberapa saat, seketika perkataan Dimas masuk ke dalam pikiran dan perasaannya. “Mungkin memang seperti berada pada kandang Tarantula yang anda sebutkan, nyaman di awal tapi menyakitkan di akhir. Tapi selalu ada makna dibalik setiap patah hati, kan?”

Dinda memiringkan sedikit lehernya, perlahan dia mulai mengerti maksud Dimas. “Pengorbanan?”

Dimas tersenyum. “Penulis favorite saya Fahd Pahdepie pernah berkata pada salah satu bukunya ‘mungkin cinta adalah serangkaian proses perjalanan panjang pada waktu, melewati sebab akibat dan berbagai kemungkinan takdir yang ada’ mungkin yang ia maksud adalah semacam pengorbanan. Pada apapun yang akhirnya membahagiakan.” Dimas tersenyum pada ujung kalimatnya.

Dinda tersenyum lugu. Dimas tahu ada senyum tulus disitu, ada bidadari yang saat ini memancarkan cahaya padanya. Cahaya yang barangkali menjadi tenaga awal bertumbuhnya perasaan indah yang sedang ia bangun, perasaan yang membuat semua sendi-sendi di otaknya menjadi bahagia dan positif. Mungkin ini yang disebut nyaman, kebahagiaan secara diam-diam pada hati yang perlahan berbunga. Sampai ada akhirnya perasaan itu terus datang, terus datang pada hati Dimas, datang lagi, sampai pada akhirnya tumbuh menjadi perasaan yang abadi.

 

Cinta itu menyamankan bukan membaharui

 

“Saya suka penjelasan anda.” Dinda tersenyum tipis.

Dimas terdiam.

Dan kali ini, duduk sepasang manusia yang saling jatuh cinta yang boleh jadi tidak saling mengetahui tapi punya inti yang sama. Menyamankan satu sama lain.

 

Karya : Arifin Narendra Putra