Cerita Paku Dan Martil

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 Januari 2016
Cerita Paku Dan Martil

?Jangan pernah melukai hati orang lain!? Bentak Ayah.

?Kenapa Ayah? Lagipula aku hanya bercanda, aku hanya bersendagurau bersamanya Ayah, dia pasti akan mengerti? kataku.

?Dia memang pasti akan mengerti perlahan tapi semuanya tak akan hilang begitu saja, pasti akan meninggalkan sebuah bekas. Pasti suatu saat dia akan mengingatnya, rasa sakit yang tak kelihatan, yang invisible tapi lebih menyakitkan daripada tergores pisau.? Jelas Ayah.

?Bekas apa? Aku tak meninggalkan bekas apapun?? jawabku bingung.

Tiba-tiba Ayah memberikan ku satu buah martil dan sebuah paku. ?Ini psang paku ini dibalok depan itu, dengan keras, dengan emosi yang membara, dengan kekesalan yang tak bisa kau tahan. Tancapkan sekeras-kerasnya.? Kata Ayah.

Aku mengambil martil dan paku yang Ayah berikan, aku mulai berjalan ke halaman depan rumah kami, aku tak mengerti maksud Ayah kenapa aku harus melakukan hal itu, untuk apa? Padahal balok pagar halaman kami tak pernah rusak, goyang pun tidak. Lalu, untuk apa Ayah memberikanku semua ini, kenapa dia menyuruhku melakukan ini.

Aku sampai diujung pagar, aku muali memartil paku yang diberikan Ayah tadi pada balok pagar halaman kami, aku tancapkan sekeras-kerasnya, benar-benar sangat keras, mungkin tak ada pencuri yang terpikir untuk mencuri pagar kami. Aku melepaskan martilnya, sudah tertancap dengan keras, tak akan ada yang bisa mengambilnya, setidaknya mereka harus bekerja keras.

?Ayah sudah.? kataku bangga

Ayah hanya melihat hasil dari apa yang kulakukan, dia terdiam sejenak. ?Ya sudah? singakt Ayah. Padahal aku masih tak mengerti kenapa dia ingin aku melakukan ini.

---

Satu bulan kemudian, Ayah menyuruhku untuk secepatnya sampai rumah, padahal akus edang menyelesaikan masalahku dengan sahabatku. Aku sedang bertengkar hebat dengan dia, dia selalu saja tak pernah mau mengalah kepadaku, akhirnya semua umpatan dan cacian keluar dari mulutku. Kalimat-kalimat yang menyakitkan dan semua hal yang bisa membuat ia menangis dengan cepat pastinya. Sudahlah aku harus pulang.

?Ayah menyuruhku pualgn lebih cepat, lebih baik kau berpikir dulu sebelum semua yang ada di otakmu menipis!? kataku kasar.

Dia hanya terdiam.

Aku tak memperdulikannya, yang pasti aku benar-benar murka hari itu. Aku mulai memberesi barang-barangku, tas dan semua buku paket yang ada di meja belajar, aku harus segera pulang aku tak mau membuat Ayah menunggu.

Sesampainya dirumah, aku tak melihat ada Ayah diruang tamu, biasanya dia selalu membaca korang dan minum kopi siang hari seperti ini, tapi ini aneh, kemana dia?

?Bu lihat Ayah?? teriakku.

??Ayah ada di halaman belakang, dia menyuruhmu untuk menemuinya setelah pulang sekolah.? Kata ibu dari dalam dapur

Aku segera menanggalkan semua pakaianku, menaruh tas sekolahku di dalam kema seperti biasa dan menaruh sepatu pada tempatnya. Aku mulai setengah berlari menuju halam belakang, karena aku penasaran kenapa Ayah menyuruhku pulang lebih cepat dari biasanya. Jelas saja aku penasaran, ini pertama kali nya. Tiba dihalaman belakang, Ayah sedang mengamati paku yang 1 bulan lalu aku tancapkan pada balok pagar kami, dia begitu serius, padahal waktu itu dia hanya bersikap biasa saja pada apa yang ku hasilkan.

?Ayah? sapaku.

?Hey, Ayah bisa minta tolong?? tanya Ayah padaku.

?Bisa apapun, tapi sebelumnya aku ingin cerita. Aku sedang bertengkar dengan Edgar.?

?Oh ya, kenapa? Apa dia menjailimu?? tanya Ayah.

?Tidak Yah, dia tak pernah pengertian jadi sahabat, dia selalu saja ingin menang sendiri, selalu saja ingin jadi yang paling depan, dia tak pernah memberikanku kesempatan untuk maju, dia perusak Yah, dia perusak!? kataku dengan penuh emosi.

?Apa yang kamu lakukan?? Pertanyaan Ayah menyetakk emosi ku yang sedang berada pada ujung lidahku.

?Aku memaki dia, aku meluapkan semua emosiku padanya, agar dia jera! Agar dia tak seenaknya sendiri!? bentakku, kali ini lebih keras daripada sebelumnya.

Ayah terdiam, dia memperhatikanku dari atas sampai bawah, lalu mengambil sesuatu dari dalam gudang. ?Ini tolong cabut pakunya ya.? Sambil menyodorkan satu buah penjepit padaku, dia menyuruhku untuk mencabut paku yang satu bulan lalu aku tancapkan. Untuk apa?

?Iya Ayah.? Kataku.

Aku mulai mecabutnya, ternyata pakunya menancap jauh kedalam sehingga susah aku mencabutnya dengan tanga biasa. Aku mencabutnya dengan tenaga yang berlipat, denagn segala rasa kesal aku berusaha mencabutnya, masih tetap bertahan si paku, tapi pada akhirnya 15 menit kemudian pakunya tercabut.?????

?Ini Ayah, untuk apa pakunya?? tanyaku bingung.

Ayah mengambil pakunya dari tanganku, dia melemparnya dan menjauhkan paku itu jauh dari rumahku, dengan tenaga yang cukup keras Ayah melemparnya. Aku bingung bukan main, kenapa Ayah malah membuang pakunya padahal dia yang menyuruhku untuk mencabutnya. Ayah kemudia duduk dihadapanku, dia mulai membenahi posisi duduknya.

?Mahesa? Dia mulai mebuka percakapan. ?Coba lihat lubang yang membekas di baloknya, apa ada yang berubah?? tanya Ayah.

Aku menggeleng.

?Nah, seperti itulah rasanya sakit dan perih? Aku terdiam tak mengerti maksud uncapan Ayah. ?Ketika kau dengan sengaja menancapkan paku itu ke sebuah balok dengan penuh emosi, dengan kesal dan tanpa sabar, dia akan benar-benar menancap sampai ke akar. Akan sangat dalam lubangnya.? Lanjut Ayah.

Aku masih belum mengerti maksud Ayah.

?Sama seperti ketika kau menghina temanmu, sahabatmu, atau kekasihmu. Hinaan itu akan menjadi semacam paku yang sedang menusuk dengan kedalaman yang luar biasa, dengan rasa sakit hati yang sangat amat mendalam. Percuma, jika kau hanya meminta maaf dan mencabut pakunya, lubangnya tetap akan membekas, lubangnya masih akan tetap ada. Dia akan menjadi serbuk kenangan pahit bahwa dulu pernah ada satu paku yang menancap di hatinya. Katika kau mencabutnyapun dan membuangnya jauh-jauh hanya supaya semuanya terlupakan, itu tak akan berguna. Lubangnya tetap akan membakas.? Jelas Ayah.

?Lalu apa yang harus aku lakukan?? tanya ku

Ayah tediam sejenak. ?Berpikirlah sebelum berbicara, berusahalah untuk menghormati orang sekitarmu, jangan pernah menyakiti perasaan mereka. Jangan memberikan luka yang cukup dalam, berusahalah jadi obat pembahagia bagi siapapun.? Jelas Ayah sambil tersenyum padaku. ?Kau mengerti??

?Mengerti Ayah?

?Jangan pernah menyakiti orang lain? kata Ayah.

?

Depok, 27 Januari 2016

Muhammad Arifin Adi Saputra

  • view 203