Kepada Jodoh

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 07 April 2016
Kepada Jodoh

Dimas

 

Kelas masih menyisakan kekosongan yang sama, cerita-cerita soal Dosen terlambat ketika pelajaran sudah dimulai, mahasiswa yang tidak patuh pada aturan dan ketua BEM yang sok diplomatis, atap ruangan yang hampir saja roboh karena terkena air hujan, tukang kebun yang gagal menjadi sarjana, Rektor yang pergi meninggalkan kampus hanya karena tidak tahan dengan perlakuan mahasiswanya. Di ujung ruangan laki-laki itu masih menulis dengan penuh konsentrasi, dengan penuh perasaan yang dalam. Tertulis jelas di layar laptopnya.

 

Kepada Jodoh

Cinta pertama yang mungkin tak pernah bisa aku gapai

 

Dengan wajah yang di bawah rata-rata dan kacamata yang menggantung di antara sela-sela hidungnya, dia mulai kembali meneruskan tulisannya. Menjadi seorang penulis yang barangkali tak akan pernah di pandang hebat oleh sebagian orang. Dia seorang anak bungsu dari keluarga sederhana dari Surabaya, dia tinggal di sudut komplek rumah daerah Ampera. Baginya dunia menulis adalah semacam curhat yang terselubung dari dalam hati dan pikirannya.

Tiba-tiba suara keras meja di pukul terdengar dari samping nya, dia adalah sahabatnya seorang yang barangkali menjadi tempat curhat keduanya setelah laptop. “Kesel gue!.” Tatapan bocah itu nanar, seperti setengah kesal tapi setengahnya lagi sedih, seperti jurang yang tak tahu harus menjadi jurang. Berada dalam keraguan yang paling mendasar.

“Lo kenapa lagi Arya? Di tolak sama cewek mana lagi?” Kalimat itu mendadak keluar dari mulut Dimas, penulis amatir yang sedari tadi fokus terhadap laptopnya.

Mata Arya mulai berkaca, perlahan dia mulai tak kuat menahan segala kepedihan dan semua penderitaannya. “Gue nggak tahan Dim!!” Teriak Arya dengan tangisan yang cukup kencang pula, ruangan kelas menjadi gaduh dengan tangisan laki-laki berumur 20 tahun itu. Arya adalah seorang yang sangat percaya diri soal perempuan, dia selalu berusaha sekuat mungkin mendapatkan seorang pacara di usia semuda mungkin, baginya semakin lama manusia menemukan jodohnya maka akan semakin lama mereka manikah dan punya keturunan. Kunci dari keluarganya yang keturunan ningrat selalu ia pegang ‘kehormatan adalah segalanya’ semacam slogan keluarga versi Jawa.

Cinta yang masih berada di usia muda bagi Arya adalah penjembatan antara jodoh dengan dirinya sendiri, perantara dari sebuah sebab yang menghasilkan akibat yang lebih baik. Namun, cinta yang ia amati terlalu konyol, terlalu tak punya makna dan prasangka apa-apa, dia tak pernah sedikitpun tahu perempuan seperti apa, apa yang mereka suka dan bagaimana cara mereka berteman satu sama lain. Kesalahan paling fatal yang barangkali sangat banyak orang yang melupakannya.

“Sssttttt diem, jangan nangis di kelas, malu tahu nggak. Lo kan laki.” Dimas berusaha membuat suasana lebih terkendali. Setiap orang memperhatikan gerak-gerik mereka, mereka selau berjalan berdua kemana-mana, kantin, lapangan, kelas, ruang Rektor, tapi tidak dengan toilet, karena setiap orang selalu membutuhkan privasi.

“Gue nggak tahan lagi Dimas!” Tangisannya makin keras, makin terdengar, seperti suara singa yang sedang memangsa sang anak gajah di pojok jurang berbatu.

Dimas panik, laki-laki itu berusaha sekuat mungkin memutar otaknya agar semuanya bisa lebih terkendali. “Iya oke, oke gue paham, tapi nggak harus nangis depan orang banyak juga Arya. Lagian ini cewek keberapa sih yang nolak lo? Jangan bilang yang ke-53?” Seru Dimas tenang.

Arya menatap mata Dimas lekat-lekat, mereka berpandang-pandangan dalam jangka waktu yang cukup panjang, 10 menit – 20 menit – 50 menit – 60 menit. Lebi dari satu jam mereka terus berpandangan, dengan tangisan yang sudah berhenti dan berubah menjadi cegukan. “Enak aja lo!” Nada Arya mulai naik. “Gue nggak se-jones itu kali Dim, ini yang ke-63.” Sahutnya sambil terus menunjuk wajah Dimas dengan jari telunjuknya.

Dimas terdiam, merasa semua yang ada pada diri Arya semakin aneh dari hari ke hari. Obsesinya untuk mendapatkan perempuan kuliahan yang masih mudah di pengaruhi dan bisa di ajak nongkrong di taman pinggiran kota telah membuat semua yang ada pada Arya berubah 180 derajat lebih serius. “Lo kayaknya kebanyakan baca majalah gadis deh, otak lo sekarang rada kurang sinkron.” Celoteh Dimas dengan santai. “Lo nggak bisa tenang sedikit ya, gue aja nggak pernah punya niatan buat cari cewek, mikirin pusing naskah gue iya.” Lanjut Dimas.

“Itu karena lo nggak pernah jatuh cinta sama cewek Dim.”

“Maksudnya apaan?!” Nada Dimas berbalik meninggi.

Arya melirik perlahan. “Iyalah, pacar lo kan setiap hari laptop doangan, malam minggu sama laptop, malam senin sama laptop, semuanya serba sama laptop. Kalau misalnya barang elektronik di dunia ini digunakan untuk membuat manusia jatuh cinta, lo udah sampai di stadium 4 kali Dim. Tinggal nunggu vonis dokter aja kapan otak lo akan berhenti bekerja karena keseringan duduk depan laptop.” Sahut Arya sinis.

Dimas terdiam beberapa saat, memang sejak Ayahnya meninggal dia tidak pernah tumbuh menjadi laki-laki yang benar-benar laki, dia hanya menjadi sebagian dari Ibunya. Selera kepada perempuan pun ia selalu urungkan, dia pintar dalam menulis semua hal yang ada disekitarnya tapi tak pernah berani membuat satupun surat cinta atau puisi untuk seorang perempuan di kelas. Kali ini benar-benar, perasaan Dimas terseok-seok oleh roda waktu, pertanyaan-pertanyaan soal semua hal yang kurang adil padanya kembali bertandangan, kembali menghantuinya. Cinta dari kenangan yang hilang.

---

“Ayah akan ajarkan kamu menerbangkan layang-layang.” Seru laki-laki paruh baya itu dengan senyum tipis yang mengembang kemudian di wajahnya.

“Kita akan mulai dari mana Ayah?” Bocah kecil itu mulai penasaran, dia mulai membuat sang Ayah kerepotan untuk menjawab setiap pertanyaannya. Angin mulai berhembus cukup kencang, sore hari adalah waktu yang paling tepat untuk bisa membuat sebuah layangan terbang dengan cukup tinggi.

“Kita akan mulai dari...” Laki-laki itu masih berpikir. “Mencari arah angin.” Jawab laki-laki itu sekenanya.

“Huh?” Bocah kecil itu memiringkan kepalanya perlahan.

Laki-laki itu tersenyum kemudian mengembang perlahan.

---

“Woyy!” Teriak Arya tepat di telinga kiri Dimas.

Dimas hampir saja memukul Arya, dia kembali ke kelas, memory-memorynya soal masa lalu kembali dia hentikan dan secara cepat sadar bahwa kali ini dia berada pada lingkaran realitas yang mungkin akan terus berkembang dari zaman ke zaman, tapi dia tak pernah bisa memungkiri semuanya ketika semua waktu yang ia gunakan untuk melihat peradaban zaman, dialah penikmat zaman itu sendiri. Ketika masa lalu memuai menjadi sekumpulan kenangan yang barangkali menyesakkan sekaligus akan selalu diingat, semuanya menjadi seakan seribu kali lebih lambat dari apa yang kita rasakan. Daun-daun yang jatuh, air yang mengalir deras, batu yang diam, debu yang tertiup angin sampai ke padang pasir, kerajaan yang runtuh, semuanya. Waktu adalah penanda kepunahan manusia dalam skala yang tersembunyi. Manusia selalu berada pada skala yang sama tapi tak pernah sadar bahwa semuanya telah berjalan dengan perlahan.

Dimas menutup laptopnya, mengakhiri paragraf terakhir pada bab pertama tulisannya. Sebelum beranjak dan berlalu dia memegang pundak Arya dan mulai membuat Arya yakin akan satu hal. “Arya, yang bisa kita andelin buat orang-orang yang wajahnya pas-pasan kayak kita Cuma satu; membuat satu garis kesuksesan yang kita buat sendiri, dari sudut pandang manapun cewek akan selalu melihat cowok yang mapan daripada mereka yang tampan. Tampan bukan segalanya, tapi mapan adalah jalan membuka ketampanan.” Setelah mengucapkan itu berlalulah sang penulis amatiran itu dan pergi entah kemana.

Sementara Arya masih diam, di bangku kelas-kelas yang sunyi dengan meja kayu yang sudah rentan dan sebentar lagi mungkin akan hancur. Masih berpikir dan memutar otaknya kembali, berusaha menemukan kejelasan pada dirinya sendiri; Dimas benar. Gumamnya.

 

Kepada Jodoh, aku ingin merabamu sekali saja.

Dengan tangan yang boleh jadi berlumuran najis.

Kotoran-kotoran yang barangkali harus disucikan di wadah berisi air jernih.

Kepada Jodoh, masih kah kau menatapku sendirian.

Tanpa berkepihakan, tanpa raga seorang perempuan, cinta itu sudah lama mati.

Semenjak hati ini menjadi crystal dari sebuah perkara kehidupan.

Kepada Jodoh, inilah aku.

Laki-laki paling bodoh yang akan dipertemukan denganmu.

 

Dimas masih berjalan layaknya orang bijak lainnya. Seperti itulah dia, orang berprestasi yang belum pernah mengenal cinta.

 

Dinda

 

Cafe itu masih membuka celah bagi masuknya cahaya senja, manik-manik yang tergantung di pintu mulai membawa emosional perasaan ke dalam puncak paling parah ditambah dengan lagu dari MLTR yang melantun begitu syahdu, seperti dentuman patah hati yang kebanyakan di teriakkan orang-orang.

Perempuan itu masih duduk manis memandang keluar jendela, masih dengan kopi pahit yang kepahitannya melebihi masalah rumit kehidupan, langit sore memberikan kesejukan baginya. Menanti seorang yang mungkin bisa membuat hatinya lupa akan perasaan-perasaan sakit hati dari orang yang ia cinta dari masa lalu. Mungkin ini yang sering di lakukan orang-orang yang sedang patah hati, memesan sebuah kopi pahit yang membuat semua hormon yang ada pada tubuhnya bereaksi seakan semuanya akan berakhir pada detik pertama, cinta masih menumbuhkan rasa pahit yang sama bagi Dinda, yang mungkin lebih pahit dari kopi yang sedang ia seruput.  Mungkin benar perkataan pepatah lama patah hati terhebat bukanlah terjadi ketika kita meninggalkan seseorang perlahan dan bergantian, tapi adalah ketika orang-orang yang kita sayang pergi satu persatu dan bergantian. Seperti itu pula perasaan Dinda, jangankan memegang tangannya untuk sebentar, ingin bertegur sapa saja sudah susah, tempat yang dulu membuatnya nyaman bukanlah tempat yang ia kenal lagi saat ini.

Mata Dinda mulai melirik ke seluruh ruangan, didapatinya seorang laki-laki berkacamata menggunakan kemeja hitam bergaris sedang fokus dengan setumpukan tugas kuliahnya. Mata Dinda masih memperhatikan laki-laki itu dari kejauhan, perlahan tapi pasti nafasnya mulai memburu, seperti di serang badai serotonin yang perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya, dia menjadi sangat tidak karuan, traumanya soal laki-laki adalah hal yang paling tidak bisa ia singkirkan dalam pikirannya. Cinta itu indah, tapi tak semuanya akan menjadi indah karena cinta, Dinda seorang mahasiswi yang percaya bahwa perasaan paling lapang dari seseorang adalah ketika dia mencintai tanpa meminta cinta yang sama kembali, hanya berusaha selalu ada. Dalam sekat-sekat kemarahan dan juga keegoisan, dalam dekapan kemahsyuran, cinta itu sama bentuknya seperti pusat tata surya, panas dan menyakitkan tapi menghangatkan.

“Boleh saya duduk disini?” Perlahan suara itu mulai menyadarkan lamunan Dinda.

Dinda masih terdiam, laki-laki yang baru saja ia perhatikan seketika menghampirinya tanpa sadar. Membuat nafasnya makin memburu dan degup jantung menjadi sangat cepat.

“Hallo.” Laki-laki itu melambaikan tangannya pada wajah Dinda.

“Ya”

Laki-laki itu duduk perlahan, masih dengan kacamata yang menggantung dekat dengan hidungnya. “Anda kuliah disini juga?”

“Maksudnya disini?”

“Universitas Indonesia” Jelas laki-laki itu. “Dimas, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya dan Bahasa.” Lanjutnya dengan senyum yang tipis di ujung bibir.

“Dinda, Mahasiswi Fakultas Kedokteran.”

 

Pengeran pernahkah kau berpihak pada udara.

Melepas sejenak keharuan angin pada debu dan pasir.

Menatap indah kedua mata sang putri dengan tatapan penuh kasih.

Cinta yang lama terpendam karena keterpisahan pada jarak.

Pangeran, cinta itu buta, sama seperti manusia tanpa Tuhan.

Tak ada yang benar-benar nyata kecuali doa

 

“Bagaimana rasanya menjadi seorang dokter?” Dimas mulai berusaha mencairkan suasana.

Kembali degup jantung Dinda mulai memacu lebih cepat, ini berbeda seperti yang di alami pasien-pasiennya. Ini semacam serangan jantung yang sudah biasa, tapi masih terasa rahasia, serangan yang barangkali membuyarkan semua pemikiran dan sekat-sekat kebebasan. Lepas, terbang layaknya burung yang menikmati malam-malam panjang dengan melihat seisi kota. Matahari mulai tergelincir di ujung khatulistiwa, sementara Dimas masih berusaha membuka pembicaraan dengan perempuan yang baru saja dia kenal. Dengan wajah yang masih canggung dan aneh, Dinda berusaha membenarkan posisi duduknya, kali ini dia paham, serangan badai serotonin dan juga jantung ini adalah semacam pertanda; jatuh cinta untuk kesekian kalinya.

Bagaimana bisa laki-laki yang bahkan baru ia kenal di cafe seberang kampus ini begitu dengan mudah menarik perhatiannya, membuat seisi organ tubunya gemetaran tak berhenti. Membuat udara sekelilingnya lembab dengan keringat dingin yang banjir. Dinda mulai berusaha bersikap biasa-biasa saja, dia mulai berusaha terlihat baik-baik saja.

“Ya begitulah.” Jawab Dinda singkat. “Anda sendiri seperti apa? Menjadi mahasiswa yang terlalu kreatif.”

“Maksudnya?”

Dinda mulai menyenderkan diriya pada bangku cafe. “Saya tahu anda, mahasiswa paling berprestasi dari FIB. Ya, memang menjadi sangat fenomenal itu mempunyai banyak keuntungan, dikenal banyak orang, menjadi orang yang paling di kejar-kejar, pasti cukup kerepotan.” Dinda mulai berhenti di bagian terakhir.

Dimas tersenyum. “Tidak seperti yang anda bayangkan, digantungkan oleh satu fakultas dan membawa nama baik mereka adalah beban paling berat yang mungkin kalau anda yang merasakannya tak akan mungkin bisa menahannya terlalu lama.” Dimas mengaduk ice coffee yang ia pesan beberapa menit yang lalu. “Saya bukan parasit yang memakan rumah tempat tinggalnya sendiri, saya hanya berusaha bercerita, membuat semuanya jauh lebih baik. Dan membuat yang lain baik-baik saja.” Lanjutnya.

“Saya tidak berani menyebutkannya, tapi dalam tatanan bahasa selalu mempunyai tingkatan dalam setiap kalimat. Selalu ada kalimat dengan sebutan berbeda dengan arti yang sama. Berarti bisa dibilang anda disini sebagai; ‘Budak’ pada tingkatan kasar, dan ‘alat’ dengan tingkatan yang lebih halus.”

Dimas tertawa. “Bisa dibilang begitu. Tapi ini cukup menyenangkan, saya sedang memperjuangkan kebebasan saya sebagai budak kalau begitu.”

Dinda tersenyum pada laki-laki itu, kali ini senyum yang berbeda, senyum yang menyimpan rahasia. Tentang patah hati yang sembuh seketika, tentang perasaan ingin berada pada titik tertinggi ketika hancur lebur bersama waktu. Menjadi debu, pertikel, kemudian menghilang tanpa jejak. Layakya gugusan bintang yang perlahan membuat simfoni yang saling terhubung antara langit, bumi, dan tata surya. Perlahan membuat dimensi yang manusia sebut sebagai cinta, dan angkasa menyebutnya sebagai  lubang hitam.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Tulisan yang asyik sekali untuk dinikmati. Alur yang runut, penggambaran ekspresi dan tingkah polah tokoh-tokoh utama yang pas, lalu pemilihan karakter beserta pola pikir masing-masing yang sesuai membuat romansa sederhana ini memiliki daya pikat tersendiri. Belum lagi paragraf terakhir tulisan ini yang sarat perumpamaan dan metafora bagus membuat kita mau membaca sampai akhir sebab ingin menikmati keindahan karya ini. Ide karya ini tak rumit sebenarnya. Tentang dua sahabat yang bergelut dengan asmara mereka masing-masing; Arya dan Dimas. Lalu cerita pun banyak terfokus pada Dimas, si pujangga kata yang masih awam urusan asmara, bertemu dengan Dinda, yang sedang patah hati. Si mahasiswa pendiam yang amatir perihal cinta bertemu dengan mahasiswi yang sedang terluka. Keduanya pun saling menemukan.

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    hai Pak Arifin, ini tanggal 12.
    selamat ulang tahun yaa buat mbaa April
    *gatau yang keberapa

  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    Ini yang kelima kalinya saya baca tulisan ini.
    Tulisannya emang keren.

    Paling suka pas Dinda bilang, ?Saya tidak berani menyebutkannya, tapi dalam tatanan bahasa selalu mempunyai tingkatan dalam setiap kalimat. Selalu ada kalimat dengan sebutan berbeda dengan arti yang sama. Berarti bisa dibilang anda disini sebagai; ?Budak? pada tingkatan kasar, dan ?alat? dengan tingkatan yang lebih halus.?

  • Tamam Bashori
    Tamam Bashori
    1 tahun yang lalu.
    keren bang. emang jodoh gampang2 sulit dapetinnya. kadang udah deket, malah kabur. kadang g pernah ketemu eeeh tau2 jadi jodoh. semuanya penuh rahasia.
    tetep semangat untuk berkarya !

  • imam budiman
    imam budiman
    1 tahun yang lalu.
    Semoga kita memang berjodoh. Eeak. Keren!