Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 31 Maret 2016   18:05 WIB
Pengarang Masa Depan

?

Aprilia, saat aku berbicara padamu ingin menjadi seorang penulis. Aku tak sungguh-sungguh mengucapkannya padamu, aku tak tahu apa yang harus aku tulis dan bagaimana akhir cerita itu sendiri.

Aku pernah berusaha menulis untuk kemudian kuberikan padamu. Tapi tak ada satupun tulisanku yang berhasil kutulis sampai ceritanya berakhir. Selalu ada perasaan malas ketika berada ditengah-tengah, jalan ceritanya berubah secara tiba-tiba dan aku mulai menulis cerita yang baru lagi. Seperti itu seterusnya, aku tak tahu bagaimana caranya menulis sebuah cerita, aku tak tahu bagaimana caranya menulis sebuah karangan.

Kemarin baru saja aku mendapatkan lagi ide untuk menulis sesuatu. Kali ini aku ingin kau membacanya, aku ingin kau memaknai setiap tulisan yang aku buat. Aku sedang membuatnya, kali ini aku sungguh-sungguh mengatakannya padamu Aku akan jadi penulis besar nantinya.

?Aku mau tulisan-tulisan aku dibaca banyak orang, dan orang lain tahu kenapa aku menuliskan semua itu. Aku rasa pantas kalau aku menuliskan hal yang realistis.?

?Misalnya?? Tanyamu, aku selalu suka saat kau bertanya tentang sesuatu.

?Soal sepasang kekasih yang belum tahu takdir akan seperti apa atau soal keadilan Tuhan yang banyak diragukan orang atau soal penyakit patah hati remaja.? Ujarku padamu, aku begitu bersamangat waktu itu.

Kau tertawa kecil. ?Aku seneng kamu bisa punya sesuatu untuk sesuatu yang lebih besar lagi.? Sahutmu. ?Tapi Fin, menurut aku kamu jangan jadi penulis yang egois sama tulisannya sendiri. Kamu harus punya karangan untuk masa depan orang-orang.?

Aku masih belum mengerti dengan ucapanmu. ?Maksudmu??

?Sebagai seorang penulis kamu cuma punya satu teman; pembaca. Dan kamu harus nulis sesuatu yang mewakili perasaan pembaca juga. Mungkin sesuatu soal masa depan dan sebagainya, di masa depan pemikiran pembaca akan berubah. Mereka akan punya opini-opini baru, dan kaku sama opini-opini lama.? Katamu.

Aku mulai memperhatikanmu.

?Mungkin kamu harus jadi pengarang masa depan.?

?Pengarang masa depan??

?Aku tahu kita nggak boleh menerka-nerka masa depan dengan cara yang manusia. Tuhan selalu merahasiakan setiap kejadian masa depan pada kita semua. Tapi pengarang masa depan yang aku maksud bukan suatu cara agar kamu mendahulukan takdir Tuhan.? Jawabmu dengan rambut yang tertiup angin. ?Pengarang masa depan yang aku maksud, kamu harus jadi penulis yang punya opini buat pembaca. Bukan cuma buat pembaca di saat ini tapi untuk mereka yang berada di masa depan.? Lanjutmu.

Aku tak tahu apa aku akan bisa menulis seperti itu, semuanya seakan menjadi mustahil bagiku. Semua karangan yang sebelumnya sudah kutulis kini berubah menjadi sekumpulan tulisan yang biasa-biasa saja. Tak punya keistimewaan sama sekali, aku tak pernah tahu bisa melakukan semua itu atau tidak. Aku hanya anak muda yang berusaha membuat buku lewat tangannya sendiri, membuat tulisan agar dibaca banyak orang. Itu saja.

?Aku nggak tahu bisa atau nggak Pril.? Kataku.

?Kamu bisa, aku yakin.? Kau mulai berusaha menampakkan harapan padaku. ?Kamu inget puisi yang kamu kirim ke aku waktu itu??

Aku terdiam, berusaha untuk berpikir dan mengingatnya.

?Masa kamu nggak inget sih Fin. Seperti senja aku mencintaimu, seperti mentari yang bersinar sepanjang waktu.? Katamu.

---

Aku sadar karang butuh waktu untuk hancur terkena ombak

Aku tahu langit butuh keramaian di balik setiap kesepian

Aku tahu mendung akan datang dan hujan akan turun

Tapi waktu selalu punya penghalang soal cinta

Mungkin setiap rasa butuh peraduan pada hati

Mungkin perangai kita akan jauh berbeda nantinya

Aku mencintaimu, karena ini caraku untuk mengungkapkan semuanya

Seperti senja aku mencintaimu, seperti mentari yang bersinar sepanjang waktu

Seperti bulan purnama yang keseribu, dan seperti bintang yang berusaha bersinar

Aku mencintaimu karena aku tahu cinta adalah tempat pulang paling nyaman

Aku mencintamu, karena aku tahu cinta tak akan pernah berkhianat pada hati.

---

Aku mengangguk.

?Dari situ aku tahu kamu bisa jadi penulis besar nantinya.? Katamu kemudian. ?Kalau nantinya nggak ada satupun penerbit yang yakin sama tulisan kamu, aku adalah orang pertama yang yakin sama tulisan kamu.?

?Pegarang masa depan ya?? aku menoleh ke arahmu.

?Iya.? Kau tersenyum padaku. ?Aku udah siap kok jadi pacar penulis, jadi yang kedua setelah laptop kamu.? Candamu padaku.

Aku tertawa waktu itu, kau tertawa dengan lembut. Dan Aprilia, mungkin aku bukan penulis terbaik, bukan pegarang terbaik. Tapi aku akan seutuhnya berusaha menjadi pegarang masa depan. Seperti katamu? Bukan cuma buat pembaca di saat ini tapi untuk mereka yang berada di masa depan.

Karya : Arifin Narendra Putra