Kapitalisme Pendidikan

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Maret 2016
Kapitalisme Pendidikan

Kadang mungkin kita selalu menganggap semuanya wajar kita bayar, kadang barangkali kita berusaha agar terlihat lebih pintar dengan uang ataupun gelar yang kita dapatkan dari hasil uang itu sendiri. Oh ayolah, saat ini pendidikan sudah menjadi semacam bisnis perdagangan ilmu bukan? Kita tidak sedang membicarakan guru disini, tapi hal lain yang jauh lebih tinggi, yang jauh lebih berkuasa. Mungkin orang yang mondar-mandir terkena macet jalanan Jakarta berkali-kali. Mungkin juga mereka yang perlahan datang dari satu sekolah ke sekolah lain untuk mengadakan transaksi jual-beli.

Mungkin cara berpikir kita yang terlalu kolot dan pelit, mungkin cara kita memaknai ilmu yang terlalu kurang. Ilmu, pada zaman sekarang lebih seperti modal agar setiap orang mendapatkan pengakuan dan rasa hormat dari sekitar. Ilmu yang mereka dapatkan karena kehinaan?bukan yang mereka dapatkan karena kebutuhan. Ini yang salah, ini yang mungkin kadang menghawatirkan kita, semacam reduksi pemerintah yang berujung pada kapitalis-nya setiap orang yang berkecimpung dalam dunia ilmu. Dalam dunia yang bisa kita sebut sekarang ada ; jual-beli ilmu.

---

?Sekarang ada bisnis baru yang mungkin menggiurkan buat lu Fin, mau nggak?? Seru Ruben sambil mengaduk capuccino latte yang baru saja ia pesan. Dia adalah mahasiswa kedoteran Universitas Indonesia.

Gue mengerutkan dahi sejenak, menyobek bungkus makanan yang sedari tadi gue pandangin nggak berhenti. ?Apa?? Tanya gue sama dia.

?Pendidikan.?

Seketika gue terdiam, terkejut dengan apa yang dia katakan. Capuccino yang dia minum mungkin menjadi sangat dingin seketika. Suara riuh kantin UI seperti mendadak sepi tak berpenghuni, seperti ada meteor yang sebentar lagi datang. Dan mungkin mengahancurkan segala kecurangan dan kepitalisme pada tempatnya. ?Gimana-gimana?? Tanya gue mengkonfirmasi.

?Ya, beberapa tahun dari sekarang, mungkin tak ada lagi tempat untuk penikmat ilmu seperti kita. Mungkin tak ada lagi keringanan bagi orang lain.? Jelasnya perlahan.

?Gue masih nggak ngerti.?

Dia menghelas nafas panjang, perlahan berdiri dan berjalan ke arah taman depan kantin. ?Beberapa tahun dari sekarang mungkin akan terjadi kerusakan, bukan pada bagian eksternal; siswa maksud gue, tapi pada bagian internal. Mungkin. Tapi semoga itu semua nggak kejadian.?

?Perebutan jabatan maksudnya? Boikot? Atau pemberontakan mahasiswa yang terjadi 1998? Atau kali ini siswa SMA yang akan mendominasi pemberontakan?? Dia mengangguk dengan pernyataanku. ?Nggak usah lu peringatin, mungkin perlahan akan ada orang-orang kayak gitu. Nggak ada lagi demokrasi, hirarki, paradigma? ataupun bayang-bayang dari ilmu itu sendiri. Kali ini yang ada Cuma satu.? Sahut gue dengan nada tegas.

?Kapitalisme pendidikan.? Tutupnya tiba-tiba.

Gue mengangguk. ?Ya, dan semua hal yang mungkin nggak disetujui sama beberapa kawanan orang bernama siswa dan mahasiswa.?

?Sebuah sistem yang salah?? Sahutnya kembali.

Gue mengangguk dan perlahan kami meninggalkan kantin masih dengan kekhawatiran-kekhawatiran, kegelisahan-kegelisahan yang sama. Dan masih menikmati, ilmu yang selalu minta untuk diserap. Dalam dekap bayang, dalam dinginnya angin, dalam panasnya matahari. Ada pertanyaan yang baru saja terjawab, dan benar-benar selesai kali ini.

?