Cerita Tentang Adam dan Hawa

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Maret 2016
Cerita Tentang Adam dan Hawa

?Fin kamu tahu kenapa Nabi Adam sama Hawa diciptakan untuk turun ke dunia?? Tanyamu waktu itu, kita sedang berjalan di taman menyisir bunga-bunga yang dengan senang hati manisnya di hisap lebah.

?Tahu.? Sahutku. ?Karena mereka melakukan kesalahan karena memakan buah terlarang.? Lanjutku.

?Iya sih bener.? Katamu sambil memakan sisa es krim yang sedari tadi kau pegang. ?Menurut aku, Nabi Adam sama Hawa memang diciptakan untuk bersalah di kemudian hari. Aku rasa Tuhan sudah menuliskan sebagian takdir manusia lewat Nabi Adam sama Hawa.? Lanjutmu.

Aku menggeleng padamu. ?Nggak ngerti.?

?Ihh.. Kamu sadar nggak sih, Nabi Adam dan Hawa yang sudah nyaman tinggal di surga kenapa ketika melakukan kesalahan mereka dipisahkan ribuan kilometer jarak di bumi.?

?Sebagai balasan karena mereka melakukan kesalahan.? Sahutku.

?Nah, menurut aku manusia memang sudah diciptakan untuk menjadi bagian dari kesalahan-kesalahan. Tuhan sudah menuliskannya jauh sebelum semesta terbentuk, kan? Ketika itu Tuhan menuliskan bahwa Nabi Adam dan Hawa akan melakukan kesalahan.? Jelasmu. ?Pernah dengar pepatah ?nggak ada manusia yang sempurna?? Nah dari situ berarti manusia selalu punya kesalahan disetiap perbuatan mereka.?

Aku masih memakan sisa makanan yang berada pada tanganku, awan-awan masih mendung menandakan akan hujan sebentar lagi. Kita masih berjalan di dalam pijakan-pijakan batu taman yang sengaja dibentuk sebagai bahan refleksi.

Sesaat sebelum aku berpikir untuk mengatakan sesuatu, kau mulai berlari ke arah ayunan. ?Aku mau bermain itu.? Katamu dengan lembut. Cinta adalah semacam cerita yang berbeda dari biasanya, seperti Adam dan Hawa. Kita tak pernah dipisahkan ribuan kilometer jauhnya, tapi kita diperkenankan Tuhan untuk saling berdekatan sampai saatnya kita dipisahkan.

---

?Buat aku cinta adalah sebuah kesalahan yang dibuat manusia Fin, sama seperti Nabi Adam dan Hawa. Sayangnya kita tak seperti mereka yang mengetahui takdir kita sendiri.? Katamu tiba-tiba disela-sela ayunan yang perlahan mulai kudorong dari belakang. ?Tapi aku berusaha menerka akan jadi seperti apa kita, semenjak SMK kamu nggak pernah mau mengungkapkan secara langsung padaku. Hanya saja, waktu memperlihatkannya, kan? Mungkin kita akan terus melakukan kesalahan ?seperti Nabi Adam dan Hawa juga. Kita akan tahu akan kembali dan tertambat pada hati siapa.?

Aku terdiam mendengar ucapanmu.

?Dan aku masih menambatkan semuanya sama kamu.? Kau tersenyum ke arah belakang sambil terus memanjangkan kakimu seakan sedang terbang diudara. Sementara dorongan ayunanku perlahan mulai lebih kencang.

Aprilia, mungkin kisah kita berdua tak akan pernah diingat dan dibicarakan banyak orang seperti kisah cinta Adam dan Hawa, Romeo dan Juliet, Rangga dan Cinta. Tapi aku ingin kisah cinta yang biasa-biasa saja, yang bisa menyatukan kita berdua pada titik yang paling menyenangkan.

Kita mungkin bukan ditakdirkan untuk menjadi Adam dan Hawa, manusia mungkin ditakdirkan melakukan kesalahan tersebab Adam dan Hawa melakukannya waktu disurga. Tapi dari banyak yang aku tahu, aku mempunyai satu kesalahan yang ingin selalu aku lakukan. Seperti katamu waktu itu, Cinta adalah sebuah kesalahan Dan mencintaimu adalah kesalahan yang paling besar yang pernah kuperbuat. Dan aku ingin terus merasa bersalah, untuk tetap bertanggung jawab pada cinta itu sendiri.

---

?Fin hujan!.? Hujan turun dengan cukup cepat kau mulai berlari ke tengah taman. ?Ayo.? Serumu.

Kita menari di bawah hujan, masih dengan perasaan yang sama, masih dengan kesalahan yang sama; mencintai satu sama lain.

?