Apakah Tuhan Sudah Merestui?

Arifin Narendra Putra
Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2016
Apakah Tuhan Sudah Merestui?

Bagaimana manusia bisa yakin dengan takdir yang ia dapati? Bagaimana manusia bisa yakin kalau setiap yang dilakukan Tuhan sudah merestuinya?

Kemarin saya kembali mengenang masa Asrama saya, kembali ke Asrama yang cukup luas di daerah Depok. Saya bertemu dengan Guru saya, soal al'quran dia adalah yang paling keras. Disela-sela obrolan saya dengannya, dia berkata "Semoga sukses, semoga rezeki kamu di situ."

Saya tahu maksud beliau, tapi yang jadi pertanyaan saya adalah bagaimana manusia bisa yakin atas rezekinya sendiri atau jodohnya sendiri. Saya kembali bertanya pada beliau. "Bagaimana saya bisa yakin?" Beliau kembali menatap saya dengan tajam.

Sambil terus mengebet terlempar buku-buku karangan Imam Syafi'i, beliau mengangkat kedua jarinya dan berkata. "Manusia punya beberapa sifat yang berbeda, sepeti pada jari ini. Ada yang terlalu panjang, ada yang terlalu pendek dan ada juga yang biasa-biasa saja." Ujarnya.

Saya mulai mendengarkan perkataan beliau.

"Manusia selalu terikat pada 2 hal; takdir dan nasib. Kita selalu menganggap bahwa setiap yang kita lakukan di dukung oleh Allah, tapi apa benar? Atau mungkin itu hanya hawa nafsu kita saja yang terlalu percaya diri?." Lanjutnya.

"Hawa nafsu?" Tanya saya keheranan.

"Iya hawa nafsu, hawa nafsu manusia pada takdir adalah suka menerka-nerka masa depan, suka menebak-nebak jalan Allah. Padahal mungkin beberapa yang kita lakukan tidak direstui Allah, tapi manusia selalu berpandangan sama. Setiap punya masalah; disakiti laki-laki atau perempuan, di phk atau fitnah. Mereka selalu menyebut 'Ya Allah' tapi ketika semua itu tidak terjadi, mereka melupakanNya." Ujarnya.

Saya mengangguk. "Saya belum mengerti Pak?"

"Intinya, jangan menjadi manusia yang selalu yakin kalau apa yang kita lakukan selalu direstui Allah, karena itu bisa saja hawa nafsu belaka. Jangan pernah menganggap bahwa setiap musibah yang kita hadapi adalah ujian Allah, bisa saja itu azab atas perbuatan buruk kita entah yang mana. Lebih baik instropeksi dulu pada diri. Lebih mawas diri." Tutupnya, sudah 2 buku beliau keluarkan. Dia memberikan satu kepada saya.

"Ini ambil buat bacaan."

Saya mengambil nya, sambil berterimakasih. "Sekarang saya tahu Pak." Tutup saya

Hari itu mendung, angin masih mengiris hamparan langit, udara masih sejuk seperti biasa dan saya kembali mengenang soal Asrama dan pesan para pembina.

Depok, 26?Januari 2016.
Muhammad Arifin Adi Saputra

  • view 141