Ahok; Antara Menohok dan Tertohok (Sebuah Rasa Keberagamaan Yang Terusik)

Arif Budiman
Karya Arif Budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Oktober 2016
Ahok; Antara Menohok dan Tertohok (Sebuah Rasa Keberagamaan Yang Terusik)

Jika anda berdiri sebagai pembenci. Berilah ruang untuk tetap memberi apresiasi. Jangan sekedar asal gengsi. Berjiwa besarlah mengakui; bahwa Pak Ahok memang punya prestasi. Itu bukti.


Jika anda berperan sebagai pembela. Berilah ruang orang lain untuk berbeda; warna atau gaya. Jangan cuma membabi buta. Berjiwa besarlah untuk berkata, sehebat apapun sang idola, ia tetap punya celah; untuk membuat cela. Itu nyatà.


**
Saya punya teman yang baik, namanya Felix. Lengkapnya Felix Aji Prabowo. Kami biasa memanggilnya dengan sebutan Koko, karena kulitnya yang putih dan matanya yang sipit. Dia, Jawa asli, tapi secara fisik bener-bener mirip etnis Tionghoa. Dia juga seorang Katolik yang taat (sepemahaman saya) dan punya pola hidup sehat. Tidak merokok, berpuasa sesuai keyakinannya, ke Gereja setiap minggu, suka berolah raga, juga pemilih makanan sehat berkualitas.


Kami bersahabat, satu angkatan cpns, (dan buat saya pribadi) juga partner kerja. Toleransinya dalam beragama sangat baik. Kadang sewaktu kami sedang ngumpul atau makan bareng, dia sering menunggui kami saat waktu sholat tiba. Duduk atau berdiri di sekitaran mushola mall misalnya. Bahkan pernah ngemper di undakan tangga masjid menjagai tas dan motor-motor kami.


Dalam obrolan bersama, kadang ada teman yang bertanya hal-hal terkait agama. Satu kalimat menyentuh yang sangat saya ingat sampai sekarang dari ucapan Koko adalah, "Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak bisa dipisahkan manusia". Sebuah koñsep hidup dalam beragamanya terkait dengan pernikahan.


Saya pikir, inilah bentuk kerukunan yang baik. Kita saling memahami dan mengerti satu sama lain. Kita bersaudara sebagai sesama anak bangsa dan saling menjaga karenanya. Bahkan bisa bertukar pikiran untuk hal-hal yang positif. Tanpa memasuki ruang-ruang yang seringkali sensitif; menyinggung nilai-nilai dalam keberagamaan seseorang.


**
Beberapa hari ini rame berita tentang Pak Ahok yang dituding menistakan agama, berseliweran di laman medsos. Saya señdiri mencoba tidak terlalu reaktif dan hanya membaca; berita, status atau komentar-komentar yang ada. Seperti biasanya; ada pro dan kontra. Ada pembenci dan pembela.


Saya pribadi tak ingin masuk dalam konteks apakah beliau menistakan agama atau tidak. Ada yang lebih ahli menilai itu dan sudah banyak ulasannya. Tapi secara pribadi saya menilai, seringan-ringannya kesalahan Pak Ahok ini adalah kesalahan menyinggung perasaan keberagamaan seseorang. Satu hal yang cukup riskan disini bahwa (maaf) Pak Ahok itu non muslim. Saat Bapak berkomentar terkait kitab suci sendiri, mungkin tak masalah.


Lebih jauh lagi, mengomentari bahwa para ulama atau pemuka agama Islam itu sebagai pembohong karena menyampaikan ayat Al Quran yang memang tafsirannya seperti itu, tentu sudah ke luar batas dan tidak tepat. Tafsir surat Al Maidah 51 memang seperti itu Pak. Jelas dan lugas. Dan ini ranah keberagamaan seseorang. Apakah saat ada seseorang yang menyampaikan ayat ini bisa dibilang telah membohongi masyarakat? Lalu bisa anda labeli sebagai pembohong? Fatalnya lagi, karena yang Pak Ahok sangka sebagai penipu berbaju agama itu sebagiannya adalah ulama yang punya beribu jamaah, yang percaya akan kesalehan ulamanya.


Pak Ahok, jika anda berusaha menohok (dalam artian dengan sengaja menuduh orang lain berbohong) dengan kata-kata anda seperti itu, maka jangan kaget ketika orang lain melakukan hal yang sama. Semacam aksi-reaksi, apalagi ini masuk ruang yang sangat privasi. Jika daya lawannya lebih kuat, siap-siaplah Bapak yang berbalik tertohok.


Sayangnya lagi, Pak Ahok, timsesnya dan juga pembelanya adalah orang nomor satu yang berteriak agar tidak menggunakan isu SARA dalam kontestasi Pilkada DKI. Tapi mengapa, justru Pak Ahok dengan mudahnya masuk ke isu SARA itu sendiri. Masuk ke ruang-ruang yang memicu polemik, menyinggung banyak pihak. Lebih dari 50.000 orang yang telah menandatangi petisi terkait hal ini. Artinya, mereka yang tersinggung bukan lagi berjumlah sedikit, Pak.


Pak Ahok, belajarlah dari cagub dan cawagub lain saat merespon masukan, kritik, tudingan, tuduhan bahkan fitnah. Lihatlah jawaban santun dan manis ala pak Anies. Saat beliau dihujat bagaikan hujan yang begitu lebat oleh pembela anda terkait polemik "kali bersih karena foke" misalnya. Atau juga bagaimana beliau merespon terkait isu "Syiah" dan "JIL" yang berembus.


Di sisi lain, ketika mas Sandiaga dituduh Pak Ahok jadi pengemplang pàjak, mas Sandiaga pun membalas dengan bahasa yang tetap terjaga. Begitu pula mas Agus yang tetap bertutur halus, saat dibenturkan dengan isu "cedera punggung", "karir mentok" bahkan "anak ingusan". Walau beliau adalah seorang militer tulen, tidak nampak kata-kata keras yang meluncur deras dari lisannya.


Pak Ahok, jangan biarkan kerekatan, ketenangan dan kerukunan antar umat beragama ini terkoyak dan retak. Sebagai pemimpin, ada punya kewajiban untuk menjaganya. Bukan malah sebaliknya. Dan sebagai sesama anak bangsa; apapun suku, ras dan agamanya, marilah kita sama-sama menjaga dan mawas diri. Tidak terlalu mudah menjelek-jelekkan seseorang atau pihak lain. Jangan mudah terpantik dengan isu-isu yang tidak produktif. Mari maju sebagai sosok yang mampu menjadi perekat bangsa. Sosok-sosok pembawa pesan damai dan kesantunan.


Pak Ahok, sebagai sebuah penutup, saya kutip, juga sebuah penutup dari diskusi panjang yang saya baca di sebuah laman FB yang juga terkait hal ini,

"One sorry will be better than thousands defence". (Kang Santabrata)

  • view 198