Mushola Sederhana Yang Selalu Terasa Mewah

Arif Budiman
Karya Arif Budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 September 2016
Mushola Sederhana Yang Selalu Terasa Mewah

Mushola sederhana itu..

Malah terasa begitu mewah..
Dibalik sahajanya..
Orang-orang berduyun mendatangi..
Mengantri di tempat wudhu..
Bersisian di ruang yang sempit..
Berdiri penuh sabar..
Menunggu shift shalat, tiga hingga empat kali banyaknya..
Bersegera menyusun shaf..
Lalu menikmati syahdu masing-masing ditengah senyap..
Membisik doa sekejap, lalu menghilang cepat-cepat..

**
Di lantai dua sebuah mall. Deretan teater berjejer rapi dengan karpet tebalnya yang lembut. Wangi pengharum ruangan menyemerbak. Lebih lembut rasanya dari karpet diujung sepatu ini. Membuat pengunjung betah berlama-lama. Ditambah pendingin suhu udara yang di-stel cukup dingin, membuatnya semakin nyaman.

Sebagiannya duduk di sofa-sofa mungil yang empuk, sebagiannya berdiri, malah ada yang jojong bersila di karpetnya. Menunggu jam tayang, atau menunggu teman yang belum datang. Menikmati camilan, atau menatap lekat layar gadget yang tersambung erat dengan perangkat power bank-nya.

**
Maghrib itu, selepas menyaksikan sebuah film produksi dalam negeri yang sedang booming, saya dan dua orang teman berjalan melintas di keramaian itu. Menuju mushola sederhana di ujung selasarnya. Dan seperti kata seorang teman sejak kami masih di depan, "Rame loh pasti". "Iya sih, pasti. Tapi memang gak ada alternatif lain. Kan cuma satu-satunya". Batin saya. Sambil melirik jam tangan digital di lengan kiri. Waktu shalat yang sudah lewat dua-tiga menit dan harus segera diburu agar tak tertinggal jauh.

Sesampainya disana, jamaah sudah tak cukup. Sebagian berdiri sembari bersandar di dinding depan pintu masuk mushola. Shift pertama sampai di mula rakaat akhirnya. Kami pun melepas sepatu, mengantri untuk mengambil air wudhu, berjaga jarak dengan jamaah perempuan agar tak bersentuhan saat berpapasan, lalu masuk mushola untuk sholat bersama dengan jamaah di shift kedua. Menunaikan rakaat demi rakaat dengan penuh kesyukuran.

Setelahnya, saya sejenak memperhatikan sekitar. Mengambil gambar penunjuk ruang yang tertulis, "MUSHOLLA" dengan tanda anak panah dibawahnya. Dan entah kali keberapa perasaan seperti ini datang, melintas, berulang. Pikiran yang tiba-tiba mengajak berkelana. Mengunjungi setiap sudut rasa yang bisa dijumpai; haru, terenyuh, syukur, syahdu, juga miris. Nano-nano rasanya, seperti pesan sebuah iklan.

**
Ini kisah tentang mushola sederhana yang tiba-tiba selalu terasa mewah buat saya. Satu sisi, semacam ada perasaan bahagia. Seperti orang yang sangat beruntung bisa melaksanakan shalat ditengah hiruk pikuk dunia yang makin materialistik, waktu yang sempit, juga tempat yang serba terbatas. Seperti pengembara kehausan yang menemukan oase di tengah sahara luas. Hee.

Juga rasa senang dan syukur yang membekas saat melihat mushola penuh, bahkan tak kunjung cukup menampung jamaahnya untuk satu-dua kali shift shalat. Justru berbanding terbalik dengan masjid-masjid besar atau muahola yang sering melompong. Disini, tempat sholat menjadi tempat yang terasa sangat dibutuhkan.

Tapi disisi lain, juga memunculkan perasaan miris, sedih. Mengapa kondisi mushola yang serba minim ini ada justru di tempat-tempat yang menurut saya wah. Resto dan sejenisnya, mall, pusat perbelanjaan, bahkan hotel-hotel berbintang.

Dengan kondisi umum yang mirip-mirip, walau tidak semuanya begitu. Ada yang sudah bagus, tapi ada juga yang masih sangat minim. Ruangan sempit, tempat wudhu yang kadang hanya dua atau tiga baris (itupun bercampur laki-laki dan perempuan), karpet lembab apek yang membuat sujud kita tak lagi nyaman. Pernah juga berjumpa mushola dengan bau pesing menyengat karena hanya berjarak tak lebih beberapa meter dari toilet. Bahkan ada yang hanya bisa menyediakan ruang gudang tak terpakai atau dipaksakan untuk bisa dipakai. Nun jauh masuk ke dalam gedung.

Ini bukan tentang menyudutkan tempat semacam ini, atau apapun, atau siapapun. Hanya sebentuk kepedulian. Dan jika boleh berharap, agar pelayanan di tempat-tempat umum bisa lebih baik oleh para pengelolanya. Karena saya yakin, mayoritas pengunjungnya adalah muslim yang pastinya butuh tempat untuk sholat lima waktu.

Jika ruang parkir begitu luas dan terus ditambah bahkan terus ditingkat. Atau jika di hotel ada begitu banyak kamar dan ruangannya yang luas nan megah. Mengapa tidak bisa dialokasikan sedikit lagi guna menambah ruang ibadah pengunjung/pengguna yang pasti digunakan rutin setiap harinya. Tidak. Tidak harus luas. Cukup sebuah mushola yang nyaman.

Tapi bagaimanapun, saya tetap memberikan apresiasi kepada pengelola dari setiap mushola yang sebagian kita pasti pernah mengunjunginya; mall, resto, pusat perbelanjaan, hotel. Karena sudah menyediakan tempat shalat. Mushola sederhana yang justru terasa sangat mewah. Ruang kecil yang mampu menggugah banyak rasa. :)

  • view 218