Sekring Putus dan Kegelian Diri Seorang Sarjana Teknik Elektro

Arif Budiman
Karya Arif Budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Juni 2016
Sekring Putus dan Kegelian Diri Seorang Sarjana Teknik Elektro

Senin, 20 Juni 2016.
Hari yang menggelikan rasanya. Tergelitik sebuah peristiwa kecil yang membuat saya tertawa sendiri. Geleng-geleng kepala. Hal kecil yang membuat saya terpaksa tidak masuk kerja. Hari yang juga membuat saya mengumpulkan renungan tentang makna hal-hal kecil dalam hidup.

**

Cerita ini diawali saat kemarin listrik di rumah padam. Saya pikir memang sedang mati lampu, yang beberapa hari terakhir sedang kembali "nge-trend". Baru sadar itu bukan "mati lampu biasa", saat semalam pulang tarawih dari masjid di bilangan daerah Pahoman, ternyata rumah yang lain listriknya menyala. Dan listrik yang mati hanya di rumah kontrakan saya.

Alhasil, bingung bin rada panik. Ada apa dengan si listrik?

Mau nanya kanan-kiri sudah cukup malam rasanya. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul sepuluh lebih. Saya mengecek posisi saklar pada meteran dan juga kabel yang mengarah ke tiang listrik dengan penerangan seadanya. Untuk memastikan, tapi sepertinya tidak ada yang salah.

Akhirnya lebih memilih mengikuti keinginan badan yang penat untuk segera istirahat. Tidur dalam kondisi gelap-gelapan, serta esoknya sahur hanya ditemani lampu senter kepunyaan hape nokia yang legendaris itu.

(Ah, untung belum nonton Conjuring 2, kalo gak bisa-bisa kebayang sahur bareng si Valak nih. Hee.)

**

Paginya, saya menghubungi teman kerja saya untuk menanyakan nomor kontak layanan konsumen PLN karena listrik sudah tidak menyala hampir 24 jam. Setelah mengontak layanan 123, saya juga meminta izin kepada atasan di kantor karena akan menunggui Bapak petugas PLN yang datang tak dijemput pulang tak diantar, #ehh salah maksudnya yang datangnya tidak bisa dipastikan kapan.

"Kalau untuk waktu belum bisa diperkirakan, Bapak. Kami akan sampaikan segera ke rayon Tanjungkarang untuk ditindaklanjuti".

Begitulah kira-kira jawaban si Mbak CS PLN 123 di akhir pembicaraan layanan konsumen pagi itu.

Jadilah saya menunggu Bapak petugas PLN tanpa waktu yang pasti. Huhu.

**

Sembari menunggui Bapak petugas yang tak juga kunjung datang, saya coba telepon Bapak saya sendiri di kampung sana. Bertanya kabar sekaligus mengabari kalau listrik di sini putus.

Di seberang telepon Bapak menjawab dengan tenang dan mantap tanpa ragu sama sekali,

"Itu sekringnya aja yang putus pasti. Di belakang meteran depan kan ada sekring yang di dalem.. Nah, kan ada yang warna putih itu kayak botol kecil bentuknya. Itu diputer ke kiri, trus kalo udah copot diliat dalemnya kan ada isinya. Warna putih kecil. Itu dilepas, diganti.", ujar Bapak memberikan arahan dan instruksi kepada saya.

Pelan-pelan saya ikuti instruksi beliau, dan hasilnya tepat seperti yang Bapak bilang. Saya menghubungi lagi setelah melepas sekring yang ada di bagian dalam itu (yang kemudian saya tahu setelah googling namanya sekring batu.. Hee..)

"Nah, gantinya ada di belakang kalender yang deket pintu ke dapur. Kalo udah diganti, dipasang lagi. Semua lampu dimatiin dulu, biar gak njedak listriknya. Kalo udah, baru diidupin lagi", sambung Bapak di seberang sana.

Wah, hebat bener Bapak nih, padahal gak liat kondisinya, tapi bisa langsung tahu. Plus instruksi detail memperbaikinya. (pikir saya dalam hati).

Telepon beberapa kali diputus nyambung dengan Bapak untuk menjeda antara mencerna instruksi dan dialog singkat dengan proses pengecekan, pergantian sekring serta memastikan semua ready.

Saya harap-harap cemas juga ternyata. Dag dig dug derr rasanya. Dan.. TAARRAAAAA!!! Lampu hidup seketika setelah tuas meteran listrik di depan dinyalakan.

Dan saya pun harus bilang WOW rasanya. :D
Mengingat sudah berjam-jam lamanya listrik ini padam dan belum tahu masih harus menunggu sampai kapan. Kegirangan sendiri seperti telah menjadi petugas Gegana yang berhasil menjinakkan bom, memilih hidup mati antara kabel merah dan biru :D

Sepersekian detik kemudian saya jadi geli sendiri karena ingat kalo saya adalah sarjana Teknik Elektro (duhh, maaf para Bapak Ibu dosen dan teman-teman semua). Gak kebayang tadi girangnya mirip anak kecil dapet uang lebaran segepok trus.. tersadar, tergugu dan temangu :D *lebay *jadi malu bangeed. Sarjana Teknik Elektro yang gak ngerti gimana deteksi listrik yang mati. :(

Huhh. Menyesal rasanya karena dulu tidak belajar dengan rajin dan mengikuti proses perkuliahan dengan baik. Tidak serius dan sungguh-sungguh saat mendapatkan kesempatan sebagai mahasiswa Teknik Elektro.

Sepenggal sesal ini mengingatkan saya pada kilasan peristiwa di sekitaran bulan Oktober tahun 2009, saat menghadapi sebuah pertanyaan "ekstra" pada ujian skripsi,

"IPK kamu berapa?", tanya Bapak dosen yang sangat baik itu.

"Mm.. 2.90-an, Pak..", jawab saya malu-malu.

"Nah, itu gak kecil-kecil amat.. Kenapa kuliahnya lama?"

Dan saya cuma nyengir sendiri.

(Iya juga sih, soalnya ada temen yang rajin IPK-nya masih dibawah saya, Hee. Batin saya gak tau malu membela diri) :D

**

Ketidakseriusan kuliah itu pula mungkin yang menjadi alasan mengapa saya lebih memilih formasi Penggerak Swadaya Masyarakat dibanding formasi Elektro saat tes Cpns kemarin. Karena merasa kecenderungannya lebih ingin mengabdi pada dunia sosial dan kemasyarakatan. #cieile

Tapi tetaplah dinikmati dan disyukuri semuanya, setiap rasa dan rupa yang Allah beri dalam proses panjang perkuliahan hidup ini. Mungkin memang jalannya begitu, mencintai ilmu elektro hanya sepenggalnya saja. Tak utuh. Hee.

Menggebu di awalnya, khas anak SMA yang punya begitu besar mimpi saat baru lulus. Kemudian pelan-pelan merubah haluan. Lalu tiba-tiba sudah berjalan pada jalan lain yang dipilih.

Berusaha, belajar dan mencoba berkarya terbaik di sana. Bahwa ada sesuatu yang dimiliki, juga ada hal baik yang bisa dilakukan.

Sebuah mimpi yang seolah menemukan awal musim seminya. Dalam perjumpaan dengan Bapak dosen tercinta, selepas tes CAT (beliau adalah salah satu panitia), yang berjarak 5 tahun dari masa skripsi itu.

"Berapa nilai CAT-nya, Rif..?

Saya menyebut tiga digit angka sembari mengucap hamdalah dan perasaan malu-malu panda..Hee.

"Kalau Arif mah kemampuannya gak diragukan sebenernya. Tapi kesibukannya di luar dulu itu lho..", ujar Bapak dosen saya yang hebat itu sambil menjabat hangat tangan saya, lalu tertawa lebar khas beliau.

"Insya Allah masuk.. sekarang tinggal banyak-banyak doa ya..", lanjut beliau.

Hati saya melambung sembari membatin, "Bukan sibuk di luar sih Pak, tapi kayaknya karena males ke kampus.. Hehe.."

(Catatan tambahan) : Alhamdulillah, nilai inipun "dinobatkan" sebagai nilai tertinggi alumni Elektro yang mengikuti tes CAT tahun 2014 kemarin oleh salah satu dosen muda Elektro yang memantau nilai alumni-alumni yang ikut tes. (Uhukkk *keselek software CAT :D).

**

Mendekati pukul 1 siang, ada panggilan masuk dari nomor 0811-XXXX-XXX ke handphone saya.

"Maaf, ini dengan Bapak Arif? Petugas kami sudah di depan SMP 13", ujarnya sembari mengenalkan diri sebagai petugas PLN.

"Oh, iya. Tapi maaf Pak, tadi sudah bisa dibenerin. Ternyata sekring dalamnya yang putus. Dan sudah diganti", jawab saya sambil malu.

"Oo, jadi sekarang sudah hidup Pak listriknya?", lanjut Bapak itu.

"Iya Pak, sudah hidup. Mohon maaf", jawab saya.

"Baik kalau begitu", tutup Bapak petugas PLN mengakhiri pembicaraan.

Dan tidak berselang lama, berlalulah mobil PLN beserta dua teknisinya yang duduk di bagian depan. Mobil yang selalu saya lihat dengan tangga alumunium di atasnya. Dalam hati saya mengucap, "terima kasih Bapak PLN atas layanannya".

**

Huft, peristiwa kecil ini ternyata memanggil penggalan memori-memori. Lalu menggabungkannya dalam kumpulan renungan sederhana.

Yap, dalam hidup ini..
Ada hal-hal kecil yang kadang luput dari perhatian kita. Ada hal-hal kecil juga sering kita remehkan.

Padahal banyak hal-hal kecil yang justru menggugah kesadaran kita sebagai manusia, menunjukkan "kebodohan" dan kekurangan kita, menunjukkan tentang betapa kecilnya kita sebagai makhluk, menunjukkan banyak makna besar kehidupan yang seringkali kita lupakan.

Ada juga peristiwa kecil yang kadang tidak berarti buat kita, tetapi ternyata begitu menyentuh buat orang lain.

Ada kejadian kecil yang tampaknya biasa saja, padahal ia sangat berharga buat yang lain.

Ada kebaikan kecil yang terasa terabaikan, tapi ternyata diterima oleh yang lain dengan sangat membekas.

Dan juga, ada kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin tak kita sadari, tetapi itulah kelak yang mengantarkan kita kepada jannah-Nya.

**

Selamat menjalankan ibadah puasa pada sepertiga Ramadhan yang terakhir. Semoga Allah Swt memperjumpakan kita dalam surga Ar-Rayyan. Aamiin. :)

  • view 146