Sang Juara Yang Terjatuh

Arif Budiman
Karya Arif Budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Juni 2016
Sang Juara Yang Terjatuh

Untuk pertama kalinya dia pake jas. Dengan sepatu Oomnya yang dilapis tiga kaos kaki karena kegedean. Jas sewaan seharga 150 ribu, yang keluarga kami bilang, KEMAHALAN :D

Tapi kata Mbak, "Ya sebandinglah ama piala LUN terbaiknya..", dan kami pun tertawa bersama. Hehe.

Itu, beberapa pekan lalu, di hari Sabtu, 21 Mei 2016.

Senin, 12 Juni 2016
Sekira jam 10-an pagi ini, saya menyempatkan diri untuk menelepon keponakan yang hari ini melakukan sidik jari SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional). Setelah Sabtu kemarin dia dengan diantar ayahnya pergi ke sekolah untuk melihat pengumuman hasil Ujian Nasional dan dinyatakan lulus.

Setelah menelepon, dia mengirim pesan gambar via WA. Hasil Nilai Ujian Nasionalnya tidak terlalu bagus, "hanya" 323 dari total empat mata pelajaran. Bahasa Indonesia 84, Bahasa Inggris 84, Matematika 80 dan IPA 75.

Kalo di rata-rata, maka nilai ini sama dengan hasil UN saya sewaktu SMP dulu, sekitar 8,.. (delapan koma sekian). Nilai yang waktu itu mengantarkan saya bisa masuk ke kelas unggulan di SMA paling favorit di kota Bandar Lampung, juga provinsi Lampung.

Tapi nilai sejumlah itu, sekarang, terasa sangat kecil. Dan itu yang membuat saya bersedih (juga keluarga kami), tapi sekaligus bangga. Karena ada nilai lain yang diperjuangkan oleh anak sulung dari kakak perempuan saya ini.

Ponakan saya (keluarga kami biasa memanggilnya "kakak"), yang selama sekolah di SMP membawa pulang 6 piala (setiap pembagian rapor selalu ranking 1 terbaik dari rekan-rekannya, dan piala terakhir adalah piala nilai terbaik LUN --gambar foto diatas), bercerita dengan agak lesu. Berbeda dengan biasanya yang malu-malu bercampur sumringah saat bercerita usai bagi rapor.

Kali ini nilainya jauh dibanding dengan nilai rekan-rekannya. Hasil belajarnya sendiri yang membuatnya terpukul saat membandingkan dengan teman-temannya. Ia harus belajar kekalahan sejak dini rupanya.

Kegagalan yang didapat, justru diakhir proses belajarnya di SMP. Kegagalan yang mungkin akan mengubur mimpinya, untuk melanjutkan sekolah di almamater yang sama dengan saya.

Dengan nilai akumulasi 323 akan sangat tidak mungkin rasanya. Sedangkan dari data yang ada, nilai terkecil yang diterima SMAN 2 Bandar Lampung pada tahun lalu adalah 359,50.

"Kakak ngerjain sendiri kemarin UN-nya?", tanya saya hati-hati sembari menelisik wajahnya yang lesu.

"Iya Om, ngerjain sendiri..", jawabnya singkat.

Alhamdulillah, kata saya dalam hati, sembari mengusap-usap kepalanya yang berambut ikal.

Kejujuran jauh lebih berarti dalam hidup ini. Nilai yang akan kamu bawa dimanapun kamu berada. (saya membatin sendiri sambil memandanginya).

Anak kecil ini harus terjatuh disaat semua keluarganya, teman-temannya, bahkan guru Bimbelnya yakin bahwa ia akan menerima hasil terbaik dalam pengumuman Ujian Nasional-nya. Dia yang tetiba mengirim pesan lewat BBM ke Ayahnya,

"Bapak, aku mondok aja gpp.."

"Kenapa kakak pengen mondok?"

"Nilai UN-nya kecil.."

Saya terisak sendiri dalam hati. Senyumnya pupus bersama tatapan mata yang tak seperti biasanya.

Saya hampir tak kuat menahan air mata. Bening yang membayang. Melihat mimpi yang terkubur dalam. Sambil tersenyum saya mencoba menyemangati,

"Gpp, nanti pas SMA kakak belajarnya lebih rajin lagi ya.."

"Kakak nanti mau kuliah di mana..?", saya bertanya sembari ingat beberapa waktu sebelumnya membicarakan ini dengan Ummi dan Ayahnya.

"Kakak kan suka Matematika, itu bisa dipake buat dasar semua jurusan eksak. Nah kan suka komputer juga ama utak-atik handphone. Nanti masuk ke Ilmu Komputer aja kalo nggak Teknik Informatika..", lanjut saya, mengingat dia pernah jadi utusan sekolah mengikuti OSN bidang studi Matematika tingkat kota.

"Iya Om..", ujarnya mulai tersenyum kembali.

--

  • view 97