--Bantuan Kecil untuk Seorang Perempuan

Arif Budiman
Karya Arif Budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Juni 2016
--Bantuan Kecil untuk Seorang Perempuan

--Bantuan Kecil untuk Seorang Perempuan

Meme ini mungkin banyak beredar, dan jadi bahan candaan. Entah benar atau tidak, tentu beragam jawabnya. Bisa lelaki, atau juga pihak perempuan sendiri yang mewakilinya untuk menjawab.

Tapi hari ini saya tidak berbicara tentang kerumitan seorang perempuan, apalagi saya juga bukan pakar atau pemerhati perasaan makhluk Tuhan ber-genre Hawa ini. Mungkin hanya ada sedikit keterkaitan saja, memahami sisi-sisi sederhana dari seorang perempuan. #cieilee :D

Kisah ini tentang hari kemarin, selepas jam makan siang. Saya memasuki ruangan yang lengang itu, dan melihat seorang perempuan (teman kerja yang berbeda bagian) sedang merapikan seabrek berkas-berkas laporan pertanggungjawaban kegiatan.

Suasana sepi, ruangan kosong, mungkin semua sedang mengambil jam makan siang atau ada aktifitas di luar.

Perempuan itu tampak butek, seperti tenggelam dalam keruhnya lautan berkas yang harus dibuat berangkap-rangkap. Karena bagiannya memang baru saja menyelesaikan rangkaian kegiatan yang panjang.

Saya sekilas saja memperhatikan, karena saya sendiri berbeda ruangan dengan perempuan yang saya panggil "mbak Mel" ini.

Sebelumnya, pagi harinya saya pun sempat menyapa, saat dia memandangi layar laptop dengan tatapan yang nyaris kosong, "Napa lah laptopnya diliatin doang, Mbak Mel?", kata saya becanda. "Pusing, Rif.. Banyak betoll", katanya.

Maka, siang itu, demi melihatnya hanya sendiri berteman tebaran kertas foto kopi, saya berinisiatif bertanya.

"Ada yang bisa dibantu gak Mbak Mel?", kata saya ramah, sembari duduk di depan mejanya dan memutar kursi. Posisi kursi memang ditata seperti model anak sekolah zaman dulu.

Ia tersenyum, dan juga mungkin terenyuh (yang terakhir ini lebai, hee). "Banyak, Rif", ujar dia.

Saya duduk di depannya. Lalu bilang, "Sini Mbak, biar saya aja yang nye-streplesinnya". Sembari mengambil straples ungu yang ada di atas meja. Dia terlihat lebih lega rasanya.

Tangannya mulai menyusun berkas satu per satu, mengambil masing-masing kertas kopian sesuai dengan tanggal kegiatannya. Setelah lengkap, saya rapihin sebentar lalu di streples. Begitu saja berulang-ulang.

Sembari mengerjakan itu semua, si Mbak mulai bercerita hal-hal ringan dengan tema keseharian. Waktu berlalu tanpa terasa, dan kertas-kertas pun mulai berada pada bundel masing-masing, rapi dan tak seberantakan sebelumnya.

Adzan Ashar berkumandang, dan saya pun meminta waktu untuk shalat terlebih dahulu. Dia mempersilakan, sambil bilang, "Iya Rif, dah gak banyak lagi kok", sembari tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Saya beranjak dari kursi, merapihkan sebentar kursi ke posisi semula, lalu menuju masjid. Bersyukur dalam hati saya, bisa membantu teman kerja walau tak banyak.

Malam harinya saya teringat kejadian siang itu. Ada yang membuat saya ingin bertanya, sekaligus membuat kesimpulan.

"Perempuan itu sebenernya tidak perlu benar-benar dibantu mengerjakan pekerjaannya. Ia lebih butuh untuk ditemani. Itu saja. Dan itu sudah lebih dari cukup".

Rasa penasaran ini membawa saya untuk bertanya kepada seorang teman, perempuan.

"Perempuan terkadang, tak perlu banyak dibantu. Ia hanya butuh ditemani".

"Bener gak ya?" :D

Saya mengirim pesan, kesimpulan pribadi sekaligus sebuah pertanyaan. Tak lama berselang, dia pun membalas.

"Benerrr itu", katanya.

"Bantuan seperti itu, walaupun terlihat kecil dan mudah dilakukan, tetap sangat berarti", lanjutnya.

"Bukan dihitung dari jumlah straplesannya, berapa berkasnya, tapi dari tawaran bantuannya. Menawarkan bantuan berarti peduli", tulisnya lagi.

"Perempuan, selalu ingin ditinggikan walau sebenang", pungkasnya. Mengutip quote dari sebuah film Indonesia.

Saya tersenyum membacanya. Mengucapkan terima kasih atas jawabannya. Lalu menambahkan pelajaran sederhana hari ini dalam catatan harian saya.

Dalam hidup, memang diperlukan saling memahami satu sama lain. Hal-hal kecil, bisa jadi akan sangat berarti. Bantuan kecil yang tak terasa, bisa jadi menjelma dalam bentuk kepedulian yang besar.

Khusus untuk perempuan, sebagai makhluk Tuhan yang dinisbatkan sebagai makhluk perasa ini, hal-hal kecil nan sederhana itu mungkin malah bisa membekas luar biasa. Membuncahkan perasaannya, membuatnya begitu berarti, merasa dihargai, merasa tidak sendiri, ataupun juga merasa selalu dijaga. Dan itulah mungkin yang tidak dipahami oleh banyak laki-laki.

--Bantuan Kecil untuk Seorang Perempuan


sumber gambar :
https://3.bp.blogspot.com/-eVehT9PVjO4/VtQAtGiBEFI/AAAAAAAADbU/2yZfch9LDMw/s400/meme%2Bcewek%2B7.jpg

  • view 135