Cerpen Hari Ini : BERLARI !

Arif Arifin
Karya Arif Arifin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Maret 2016
Cerpen Hari Ini : BERLARI !

? ? ? ? ?AKU terlahir dengan Nama Iqbal Fakhrurozi. Ayahku (Ahmad Fakhrurozi) adalah seorang Pelari Jarak Pendek Berprestasi negeri ini. Ia sudah mendapatkan banya Tittle juara, diantaranya juara PON sembilan kali, Juara Seagame enam kali dan peraih mendali perunggu Asian Game. aku tau ia begitu terkenal dimasanya karena begito jago dalam olahraga lari-larian itu.

Dan bebanku saat ini adalah itu. aku adalah anak satu satunya. dan tentunya ia ingin agar aku mengikuti jejaknya, yaitu menjadi seorang atlit lari jarak pendek. Padahal perlu ia tau bakat itu sama sekali tidak ada dalam diriku. Perlu ia tau aku begitu payah dalam urusan olahraga apalagi menyangkut paut lari-larian.

Banyak orang bilang buah jatuh tak jauh dari pohonya, tapi terkadang buah itu jatuh jauh dari pohonya, dan itu adalah aku. Beberapa kali ia melatihku, beberapa kali ia menyemangatiku, beberapa kali ia memotivasiku. Dan aku begitu heran kenapa ia tak pernah lelah melakukan hal sia sia seperti itu.

Ayah, bakatku bukan menjadi seorang pelari. Tapi aku adalah cendekiawan ayah. Aku akan membuatmu bangga dengan otakku, bukan dengan tenagaku.



***



Pagi itu awan begitu mendung. Rumah kami yang terletak tepat didepan jalan raya pun ikut ikutan mendung. Itu semua karena aku.

" sudah ayah bilang ! Berlatihlah yang keras ! Kamu pasti akan terbiasa dan akhirnya kamu bisa seperti ayah ! "
Aku cuma merunduk takut. Jujur aku kasihan padanya, tapi disisih lain apakah ia tak kasihan padaku, kasihan pada diriku yang setiap hari harus berlari 25 kali memutari lapangan.
Kasihan padaku karena tiap hari haru push-up 50 kali. Apa ia tak tahu setelah latihan pasti tubuhku akan memar memar dan kaku karena terlalu dipaksakan.

" bukan ini yang ayah minta darimu ! "
Ayah melempar medali juara 1 cerdas cermatku tingkat kabupaten yang baru aku dapatkan kemarin

" minggu depan ada lomba lari jarak pendek di kota, kamu harus ikut, ayah sudah mendaftarkanmu "
Ayah berbalik dan langsung pergi meninggalkanku.

Dengan pelan aku menaiki tangga menuju kamarku. Kututup pintu kamar dan kurebahkan tubuhku di kasur. Aku benar benar lelah.

Beberapa saat kemudian hujan turun begitu derasnya bahkan mulai diikuti dengan suara guntur dan petir yang menyambar nyambar. Aku mulai terlelap karena kelelahan. Benar benar lelah.


" hanya satu pesan ibu untuk mu, turutilah kata ayahmu, buat dia bangga padamu "

" jangan pernah membuat ayahmu kecewa, karena harapanya ada padamu "

" ayahmu memang keras kepala dan pemaksa, tapi itu untuk kebaikanmu "

" IBU !!!!!!!! "
aku terbangun dari mimpiku.
mimpi yang benar benar membuatku sadar. jadi, ibu ? sekarang apa yang sebaiknya aku lakukan.

kulirik jam dinding. -05.00-
tanpa menunggu lama aku langsung kekamar mandi, mencuci muka dan langsung mengambil air wudhu.

Ketika melewati kamar ayah kulihat ia menangis di foto ibu, ia menangis tersedu. Ayah....
Aku berhenti sejenak.

" maafakan aku, hamida.. Aku gagal menjadi seorang ayah. Maafkan aku "
Katanya tersedu sedu.

"ayah kau tak gagal, kau tak pernah gagal walaupun kau keras kepala tapi itu demi aku ayah "

Dan sejak itu akuputuskan, aku akan membuat ayahku bangga, dan satu satunya cara untuk membuatnya bangga adalah aku harus menjadi atlet lari.
Aku tak peduli dengan fisik yang buruk ini. Seperti kata ayah.

" berlatihlah yang keras ! Kamu pasti akan terbiasa dan akhirnya kamu bisa seperti ayah ! "

Baiklah, aku akan membuktikan kata kata itu.

Saat itu adalah awal dari perubahanku. Aku mulai berlatih 2 kalilipat dari porsi awal latianku biasanya. Dari pulang sekolah sampai maghrib aku latihan. Lalu kalau hari minggu dan libur aku berlatih full satu hari.
Seperti minggu ini aku berlatih ekstra full. Karena lomba di kota tinggal menghitung hari.

"huh... Huh... Huh..."
Kusandarkan tubuhku didinding kamar mandi. Kulepas kaosku.
Kali ini benar benar begitu keras. Tenagaku seperti terkuras sepenuhnya. Tapi itu tak apa yang penting ayahku bahagia.

Namun beberapa hari ini aku merasakan ada yang aneh denagn jantungku, rasanya saat aku berlatih pasti saja terasa sakit dan mengganggu dibagian itu. Tapi, kobaran semangat ayah melatihku membuatku tak peduli. Yang penting ayah bahagia.

Sore ini aku berencana ke dokter hermawan untuk memastikan kondisi tubuhku karena lomba lari dikota tinggal menghitung hari.

" setelah aku periksa, jantungmu lemah, bal"
Apa jantung lemah !
Tidak itu tak boleh terjadi.

" jadi, untuk sementara waktu jangan pacu jantungmu berdetak begitu cepat "

" baik, dok "
Aku hanya menurut walaupun tetap saja aku tak peduli. Yang penting aku harus menang dan membuat ayahku bangga.


***


" siap.. Sedia.. Mulai ! "
Semua atlet pelari berlari begitu kencang. Akupun demikian. Aku harus tetap percaya diri. Seperti kata ayahku.

DEG !

rasa ini, jantungku, aku tak boleh membiarkanya, seperti biasanya aku akan abaikan toh rasa sakitnya akan hilang kalau kuabaikan seperti biasa.
Namun semakin kupacu kencang lariku semakin terasa juga rasa sakitnya. Padahal aku berada diposisi kedua dan AKU HARUS MEMBUAT AYAHKU BANGGA !!

dengan segenap tenaga yang kumiliki berlarilah aku begitu kencang.

tiga langkah... dua langkah... satu langkah dan aku mendahului pelari satu itu, garis finis begitu dekat.


lima langkah... Deg ! Empat langkah.. Deg ! Tiga langkah dua langkah... satu langkah dan....

DEG !

Kesadaranku mulai hilang, tenagaku terasa terkuras, tubuhku terasa lemas dan jantung ini seakan tak berdetak. aku terjatuh terguling.
dan yang terakhir kali kulihat adalah ayah, ia begitu panik.

" a-ya-ah.. a-kk-u me-na-ng... "

tiada lagi yangkulihat. hanya kegelapan yangku lihat.
tapi kenapa disaat terkhir seperti ini malah raut wajah panik yang kudapatkan darinya.. bukan raut wajah bangga...

" ayah, aku menang... Aku akan membawakan piala dan medalinya untukmu.. Hadiah ulang tahunmu ! "


Selesai AKU terlahir dengan Nama Iqbal Fakhrurozi. Ayahku (Ahmad Fakhrurozi) adalah seorang Pelari Jarak Pendek Berprestasi negeri ini. Ia sudah mendapatkan banya Tittle juara, diantaranya juara PON sembilan kali, Juara Seagame enam kali dan peraih mendali perunggu Asian Game. aku tau ia begitu terkenal dimasanya karena begito jago dalam olahraga lari-larian itu.

Dan bebanku saat ini adalah itu. aku adalah anak satu satunya. dan tentunya ia ingin agar aku mengikuti jejaknya, yaitu menjadi seorang atlit lari jarak pendek. Padahal perlu ia tau bakat itu sama sekali tidak ada dalam diriku. Perlu ia tau aku begitu payah dalam urusan olahraga apalagi menyangkut paut lari-larian.

Banyak orang bilang buah jatuh tak jauh dari pohonya, tapi terkadang buah itu jatuh jauh dari pohonya, dan itu adalah aku. Beberapa kali ia melatihku, beberapa kali ia menyemangatiku, beberapa kali ia memotivasiku. Dan aku begitu heran kenapa ia tak pernah lelah melakukan hal sia sia seperti itu.

Ayah, bakatku bukan menjadi seorang pelari. Tapi aku adalah cendekiawan ayah. Aku akan membuatmu bangga dengan otakku, bukan dengan tenagaku.



***



Pagi itu awan begitu mendung. Rumah kami yang terletak tepat didepan jalan raya pun ikut ikutan mendung. Itu semua karena aku.

" sudah ayah bilang ! Berlatihlah yang keras ! Kamu pasti akan terbiasa dan akhirnya kamu bisa seperti ayah ! "
Aku cuma merunduk takut. Jujur aku kasihan padanya, tapi disisih lain apakah ia tak kasihan padaku, kasihan pada diriku yang setiap hari harus berlari 25 kali memutari lapangan.
Kasihan padaku karena tiap hari haru push-up 50 kali. Apa ia tak tahu setelah latihan pasti tubuhku akan memar memar dan kaku karena terlalu dipaksakan.

" bukan ini yang ayah minta darimu ! "
Ayah melempar medali juara 1 cerdas cermatku tingkat kabupaten yang baru aku dapatkan kemarin

" minggu depan ada lomba lari jarak pendek di kota, kamu harus ikut, ayah sudah mendaftarkanmu "
Ayah berbalik dan langsung pergi meninggalkanku.

Dengan pelan aku menaiki tangga menuju kamarku. Kututup pintu kamar dan kurebahkan tubuhku di kasur. Aku benar benar lelah.

Beberapa saat kemudian hujan turun begitu derasnya bahkan mulai diikuti dengan suara guntur dan petir yang menyambar nyambar. Aku mulai terlelap karena kelelahan. Benar benar lelah.


" hanya satu pesan ibu untuk mu, turutilah kata ayahmu, buat dia bangga padamu "

" jangan pernah membuat ayahmu kecewa, karena harapanya ada padamu "

" ayahmu memang keras kepala dan pemaksa, tapi itu untuk kebaikanmu "

" IBU !!!!!!!! "
aku terbangun dari mimpiku.
mimpi yang benar benar membuatku sadar. jadi, ibu ? sekarang apa yang sebaiknya aku lakukan.

kulirik jam dinding. -05.00-
tanpa menunggu lama aku langsung kekamar mandi, mencuci muka dan langsung mengambil air wudhu.

Ketika melewati kamar ayah kulihat ia menangis di foto ibu, ia menangis tersedu. Ayah....
Aku berhenti sejenak.

" maafakan aku, hamida.. Aku gagal menjadi seorang ayah. Maafkan aku "
Katanya tersedu sedu.

"ayah kau tak gagal, kau tak pernah gagal walaupun kau keras kepala tapi itu demi aku ayah "

Dan sejak itu akuputuskan, aku akan membuat ayahku bangga, dan satu satunya cara untuk membuatnya bangga adalah aku harus menjadi atlet lari.
Aku tak peduli dengan fisik yang buruk ini. Seperti kata ayah.

" berlatihlah yang keras ! Kamu pasti akan terbiasa dan akhirnya kamu bisa seperti ayah ! "

Baiklah, aku akan membuktikan kata kata itu.

Saat itu adalah awal dari perubahanku. Aku mulai berlatih 2 kalilipat dari porsi awal latianku biasanya. Dari pulang sekolah sampai maghrib aku latihan. Lalu kalau hari minggu dan libur aku berlatih full satu hari.
Seperti minggu ini aku berlatih ekstra full. Karena lomba di kota tinggal menghitung hari.

"huh... Huh... Huh..."
Kusandarkan tubuhku didinding kamar mandi. Kulepas kaosku.
Kali ini benar benar begitu keras. Tenagaku seperti terkuras sepenuhnya. Tapi itu tak apa yang penting ayahku bahagia.

Namun beberapa hari ini aku merasakan ada yang aneh denagn jantungku, rasanya saat aku berlatih pasti saja terasa sakit dan mengganggu dibagian itu. Tapi, kobaran semangat ayah melatihku membuatku tak peduli. Yang penting ayah bahagia.

Sore ini aku berencana ke dokter hermawan untuk memastikan kondisi tubuhku karena lomba lari dikota tinggal menghitung hari.

" setelah aku periksa, jantungmu lemah, bal"
Apa jantung lemah !
Tidak itu tak boleh terjadi.

" jadi, untuk sementara waktu jangan pacu jantungmu berdetak begitu cepat "

" baik, dok "
Aku hanya menurut walaupun tetap saja aku tak peduli. Yang penting aku harus menang dan membuat ayahku bangga.


***


" siap.. Sedia.. Mulai ! "
Semua atlet pelari berlari begitu kencang. Akupun demikian. Aku harus tetap percaya diri. Seperti kata ayahku.

DEG !

rasa ini, jantungku, aku tak boleh membiarkanya, seperti biasanya aku akan abaikan toh rasa sakitnya akan hilang kalau kuabaikan seperti biasa.
Namun semakin kupacu kencang lariku semakin terasa juga rasa sakitnya. Padahal aku berada diposisi kedua dan AKU HARUS MEMBUAT AYAHKU BANGGA !!

dengan segenap tenaga yang kumiliki berlarilah aku begitu kencang.

tiga langkah... dua langkah... satu langkah dan aku mendahului pelari satu itu, garis finis begitu dekat.


lima langkah... Deg ! Empat langkah.. Deg ! Tiga langkah dua langkah... satu langkah dan....

DEG !

Kesadaranku mulai hilang, tenagaku terasa terkuras, tubuhku terasa lemas dan jantung ini seakan tak berdetak. aku terjatuh terguling.
dan yang terakhir kali kulihat adalah ayah, ia begitu panik.

" a-ya-ah.. a-kk-u me-na-ng... "

tiada lagi yangkulihat. hanya kegelapan yangku lihat.
tapi kenapa disaat terkhir seperti ini malah raut wajah panik yang kudapatkan darinya.. bukan raut wajah bangga...

" ayah, aku menang... Aku akan membawakan piala dan medalinya untukmu.. Hadiah ulang tahunmu ! "


Selesai

Dilihat 378