Warkop oh Warkop

arik abd muhyi
Karya arik abd muhyi Kategori Budaya
dipublikasikan 19 Maret 2017
Warkop oh Warkop

Berbicara ngopi, pastinya anda-anda punya tempat istimewa tersendiri untuk menikmati kopi. Bisa di rumah, kantor, Cafe, Warkop dan tempat-tempat lain asalkan dimungkinkan untuk menikmati kopi.

Di kota Malang, Wabil Khusus di daerah dekat-dekat Kampus banyak bermunculan Warung-warung menyediakan Kopi tentunya untuk para penikmat kopi dan mahasiswa Akhir yang membutuhkan Kafein untuk sekedar melupakan Skripsi. Mantan juga boleh. Selagi bisa move on dari ketidak berdayaan budaya stalking. Bisaa!?

Hasil pengamatan akhir-akhir ini, banyak dari kalangan Mahasiswa yang berbisnis Warung kopi karena dinilai menguntungkan. Bagaimana tidak, omset perhari bisa mencapai angka 1 Juta, bahkan bisa lebih sesuai situasi dan kondisi. Lumayan bukan? 

Budaya ngopi sudah menjadi kebiasaan Mahasiswa. Mulai dari mahasiswa Imut-imut yang sekedar melepas penat seusai kuliah, sampai mahasiswa amit-amit yang lupa arah jalan kekampus akibat keseringan Ngopi sampai lupa, lupa waktu, lupa kalau sudah semester tua. Semester tua yang masih kuliah. :D

Mungkin dilihat dari itu peluang berbisnis warung kopi sangat menguntungkan dan kerjanya santai. Tinggal "Ngudek" dan mengantarkan ke meja konsumen selesai urusan. Buka warkop di area kampus haruslah extra sabar, iya harus sabar. Kalau enggak bisa-bisa warungnya bubar. Bagaimana harus sabar? Begini, banyak tipe mahasiswa yang ngopi disitu broo, tipe yang bahaya itu, tipe yang nyari Wifi gratisan. Mesen kopinya satu cangkir seharga enam ribuan, nongkrongnya yang berjam-jam. Dan pemilik warung harus memaklumi itu. Heuheuheu!

Tapi bagaimanapun pelanggan adalah raja bagi pemilik warung yang menganggap demikian. Rezeki tidak akan tertukar, hanya judul Film aja yang boleh tertukar.

Bagaimana?, ingin berbisnis warkop ataukah menjadi penikmat kopi saja?. Keputusan ditangan anda saudara-saudara. Selagi kopi masih hitam. Kecuali, kopi susu, kopi ijo susu.

Mari susuri pahit manisnya dalam pekatnya kehidupan. Kentalkan mental dalam cairnya pembicaraan di meja perkopian.

*Arik Abd Muhyi (Insan nomaden warung kopi)

  • view 99