Petrichor Sehabis Ingatan

arik abd muhyi
Karya arik abd muhyi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 September 2016
Petrichor Sehabis Ingatan

Kau tahu?, bagaimana aku merasakan bau Petrichor dengan dibumbui aroma secangkir kopi dan sepotong roti di warung kopi depan kampus. Kau tahun patrichor ?, saya yakin kamu belum tahu atau asing dengan kata Petrichor . Aku Sebagai seorang yang pernah baca di Wikipedia ingin memberi tahu bahwa Petrichor adalah salah satu bau alami yang tercium saat hujan turun membasahi tanah yang kering. kau meraskan?, itulah yang aku rasakan saat ini. semoga kau merasakan juga ketika hujan turun.

Awalnya hujan turun perlahan. Malu-malu mungkin ia melihat aku duduk sendirian diwarung kopi. Semenit kemudian ia turun dengan tetesan yang tak bisa diperkirakan. Kalau di Matemetika Satu dibagi nol itu hasilnya terhingga. Itulah cintaku.

Rasanya belum lengkap kalo aku tidak membakar tembakau yang bercukai. Cukuplah sebatang dua batang dengan harapan mengisi kekosongan pikiran. Perihal tentangmu  aku gambarkan seperti asap. aku hirup lalu aku semburkan meliuk-liuk kamana-mana. Mungkin terbang keudara. menjadi awan, menggumpal dan menjadi hujan lagi. Ya itulah imajenasiku tentangmu. tentang ketidak mungkinan yang selalu aku mungkinkan. Berulang-ulang aku hisap, sekedar menghilangkan rasa ketidakadilan yang aku rasakan. Mungkin kamu bertanya. Keadalin yang semacam apa yang aku minta?. Pintaku Ialah kau menerima kenyataan nantinya.  

Diwarung kopi ini aku banyak menemui banyak kesibukan segerombolan orang-orang, lebih pas lagi sekelompok mahasiswa yang berbicara tentang dunia kampus yang semakin rumit dan mencekik. Entah siapa yang mencekik dan siapa yang dicekik. Disela-sela pembicaraannya aku mendengar bahwa salah satu dari mereka curhat masalah asmara antara ia dan pacarnya. Kedengerannya sih agak rumit. Bahwasanya dia menjalin hubungan selam 6 tahun dan tidak ada titik ujung ketemunya. Selepas ia bicara, temen semejanya terbahak-bahak ketawa dan nyaring bunyi hujan semakin berisik kedengerannya. Maklum warung kiopi ini atapnya terbuat dari palt seng.

Terdiam sesaat aku merenung tentang keadaan dimana aku harus berjarak atau vakum dari segala kehidupanmu yang takmungkin aku berada dsitu. Menjadi teka-teki berputar putar dikepala tentang kata “Pasrah atau memasrahkan” aku tidak tau aku tidak faham. Sedari tadi roti yang terabaikan aku lahap dengan penuh kenikmatan dalam kerumitan.

Ketika kita harus berbicara takdir. Mungkin aku harus berfilsafat dulu untuk sekedar berbicara denganmu tentang hal-hal yang berjangka panjang. Tapi itulah aku. Selalu ciut dalam membaca muqaddimah kisah aku dan kamu. Aku Harus penuh kehati-hatian. Dan sore itu, aku memberanikan diri berkata bahwa tuhan menurunkan hujan tidak, lain tidak mungkin itu adalah sebagai rahmatnya, entah bagi manusia, tumbuhan atau barangkali sekedar ingin menyuburkan tanah atau bahkan sekadar ingin memberi tahu tentang Petrichor yang belum kamu ketahu itu.

Dua cangkir kopi hitam telah aku habiskan diantara susunan siklus hidrologi. Masih ingatkan siklus hidroloigi pelajaran Geografi kelas 1 SMA dulu kala?. Kuharap kamu masih ingat bersamaan tentangku yang kau sudah lupa itu. begitulah aku yang tak bisa kau sembunyikan dari kenangan dan ingatan. Karenah perihal hujan itu identik dengan memory yang tersimpan rapi. Tapi bagi mereka yang menghargai kenangan. Ingat kenangan bukan gengangan.!

Aku sempat berpikir, diantara rintik hujan itu adap apa yaa?. Apakah kau sedang memikirkan juga? Semoga. Asap yang kuhisap dalam-dalam kerongga sampai sesak di dada. kian memenuhi runang paru-paru ini. Mungkin saking sesaknya aku menemukan jawaban. Bahwa terkai hal apapun didunia ini ada jarak. Ada jeda yang harus kita iakan bersama. Kata-kata seindah apapun kalo tidak ada jeda ia kelihat rancu dan tak bisa dibaca lalu tak bermakna. Bumi dan langitpun ada jarak. Coba seandai bumi dan langit berhimpitan mungkin semua manusia ini tedak bergerak bebas atau berdesak-desakan. Menyiksa.

Sore ini sehabis hujan inginku membuat sebuah nota kesepahaman untuk saya sendiri. erihal aku yang terlalu menyiksa angan-angan dan imajinasiku yang kemana-mana. Yang selalu ingin menghantuimu di setiap detik setiap jam yang melingkar dipikaran. Sore ini sehabis hujan aku putuskan bahwa aku tidak lagi dan tidak ingin memikirkan atau mencarimu disela-sela rintiknya hujan di musim yang seharus kemarau.

 

  • view 213