Pentingnya Budaya Literasi Bagi Mahasiswa

arik abd muhyi
Karya arik abd muhyi Kategori Budaya
dipublikasikan 10 September 2016
Pentingnya Budaya Literasi Bagi Mahasiswa

Berbicara pendidikan, mari berbicara tentang literasi. Literasi yaitu keberaksaraan bisa membaca, menulis dan berbicara (publik speaking). Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kesadaran literasi, mulai dari sekolah dasar sampai jenjang S-1 di Perguruan Tinggi.

Kampus sebagai jenjang tertinggi dalam dunia pendidikan, sudah memberikan ruang bagi para mahasiswa untuk bisa menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Merupaka salah satu tujuan pencapain yang harus dilakukan oleh Perguruan Tinggi tersebut. Karena setiap Perguruan Tinggi harus melahirkan orang–orang yang memiliki semangat juang tinggi, yang memiliki pemikiran–pemikiran kritis, kreatif, mandiri, inovatif

Mahasiswa dengan sederet titel dan peran-nya, dianggap sebagai figur penting yang bisa memberikan kontribusi nyata terhadap kehidupan sosial. Kekuatannya sebagai seorang elite intelektual, dituntut memberikan pemikiran-pemikiran cemerlang yang bisa dieksekusi secara riil dalam kehidupan nyata. Ide-ide yang cemerlang sering menjadi cirri khas. Sehingga tak salah apabila bangsa ini, menyimpan harapan besar di pundak para mahasiswa sebagai generasi penerus, yang bisa meneruskan estafeta kepemimpinan bangsa.

Di era media sekarang ini, budaya literasi, seperti membaca, menulis dan berbicara adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan mahasiswa. Karena ciri khas mahasiswa, sebagai elit intelektual. Berbagai ruang untuk membaca dan menulis sudah dijawab oleh zaman dengan sederet media sosial yang ada. Facebook, twitter, instagram, serta media online yang memberikan ruang bebas untuk kita budayakan budaya literasi.

Membaca Realitas
Betapa banyak mahasiswa melupakan tradisi intelektual seperti membaca, menulis, diskusi dan riset. Aktivitas mahasiswa banyak dipusatkan kegiatan hedonisme dan nongkrong tanpa kejelasan. Saya sempat berfikir, jika mahasiswa malas membaca mau jadi apa bangsa Indonesia di masa depan?

Sebab, berdasarkan survei Unesco, minat baca masyarakat Indonesia terendah di ASEAN. Dari 39 negara di dunia, Indonesia menempati posisi ke-38. Tidak kalah memprihatinkan, data UNDP menunjukkan posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname.

Sementara, untuk kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos yang masing-masing berada di urutan angka seratus. Merespon kebuntuan itu, agaknya mahasiswa membutuhkan penyadaran yang serius.

Sadar Literasi Adalah Solusi
Sadar literasi akan menjadi soal bagi civitas akademika kampus. Terkhusus bagi mahasiswa baru untuk menanamkan pola atau ciri mahasiswa sesungguhnya. Masa peralihan dari siswa menjadi mahasiswa adalah proses yang tersulit dalam hidup. Karena pola pikir dan gaya hidup serta metode pembelajaran sangat berbeda antara masa SMA dengan Perguruan Tinggi.

Di saat peralihan inilah jati diri sendiri ditemukan. Sesorang akan terlihat sifat aslinya di masa-masa mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Mungkin akan berbeda dengan sifat yang sebelumnya. Itupun juga tergantung pada pergaulan dan sudut pandang seseorang. Dengan persoalan ini, mahasiswa baru akan menemukan wajah kemahasiswaan sesungguhnya ketika hidup di dunia perkuliahan.

Di akhir tulisan ini, saya mengajak kepada teman-teman mahasiswa untuk sadar, betapa pentingnya melek budaya literasi. Mahasiswa harus dan bahkan wajib banyak membaca, cenderung mudah menyampaikan gagasan, berpengetahuan luas dan merangsang penalaran kritis. Penyampaian gagasan tersebut, bisa melalui tulisan dan berbagai macam media lainnya. Sehingga, hal tersebut akan menumbuhkan sikap kritis bagi kita sebagai mahasiswa, tanpa harus berbuat anarkis.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, izinkan saya menyampaikan satu gagasan, yaitu: “Membacalah agar engkau tidak lupa, dan menulislah agar engkau tidak dilupakan”.

  • view 564