Mudik sebagai pengingat

arik abd muhyi
Karya arik abd muhyi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 September 2016
Mudik sebagai pengingat

Mudik sebagai pengingat.

Malam yang panjang nan dingin itu kami lewatkan dengan bermain gaplek, "Tadarrusan kitab kuning" kami nyebutnya. Di emperan toko miliknya Pak haji Doel.

Sayup-sayup orang mengaji menggunakan pengeras suara terdengar, entah ada yang mendengarkan atau tidak yang pasti malam sudah larut. Manusia-manusia mungkin ada yg sebagian yang sudah tidur, kluyuran, beribadah atau main Gaplek.

Permainan pun berlangsung seru dan ricuh ketika Om nul ketahuan berbuat curang dengen menyelepit kartu di bawah sarungnya. ketawa agak sedikit emosi pada saat itu campur aduk.
Ricuh yang mengundang gelak tawa ndak selesai-selesai akhirnya permainan kami hentikan karena salah satu kawan kita tidak feer, hening sejenak. Tetiba Cak Mang nyeletuk memberikan pertanyaan.

"knapa orang-orang pada mudik yaa?" knapa harus mudik?

Om nul yang berbuat curang tadi menjawab dengan mengandalkan Gejet barunya. Ia membuka Mbah Google, diketiklah keypad hapenya "mudik adalah".

"Menurut WikiPedia, Mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran". Jawab Om nul dengan gayanya yang mirip politisi di panggung-panggung kampanye.

"Tapi itu kata Mbah Google yang ditulis di WikiPedia" kata om nul.

Cak mang manggut-manggut penuh dengan tanda tanya. Entah faham atau tidak dilihat dari raut mukanya masih kebingungan dan belum menerima jawaban dari om nul. Situasi mendadak hening.

"Menurutmu Peribadi, Mudik itu apa Om nul?" celetuk lagi cak mang memecah keheningan.

"Ya...Mati"

"Kok bisa Mati?" sigap dan lugas cak mang tanya lagi.

"Sebab manusia akan mati, seisi alam akan kembali, hancur lebur" om nul jawab dengan santai.

"Maksudnya?" celetuk cak mang

“Kullu Nafsin Dzaiqotul Maut, Setiap yang bernyawa pasti akan menemui mati. Tahu surat Al-Qoriah?" tanya om nul ke cak mang.

"Tahu om, jadi menurut sampeyan mati ya om?"

"Iya, kamu tahu orang-orang yang mudik itu? Ia kembali kekampung halaman. Sama, ketika saya mati, kamu mati kembali ketanah. Pasti bawa kendaraan kan? entah bus atau sepeda atau semacam tumpangan lain. Sama, ketika kamu mati, kendaraanmu ada banyak supirnya". hehehe!, ketawa Omnul.

Om nul melanjutkan pembicaraannya, sementara cak mang, aku, Bang Manaf Mangguk-mangguk.

"Ketika pemudik pulang kampung, pasti bawa oleh-oleh buat keluargamu. Sama, ketika kamu mati kamu harus bawa oleh-oleh yaitu amalmu. Ya terserah kamu amal buruk atau amal baik yang kamu bawa.

"Oke faham omnul, jadi hakekat mudik sesungguhnya ialah kematian atau mati ya om nul" Bang manaf mulai berbicara.

"Iyaa, mati adalah sebenar-benarnya mudik"

Kami tertawa terbahak-bahak di malam panjang angin dingin dari selatan membawa nafas kami ke utara.

"Berarti sampeyan yang main curang tadi amal buruk ya om nul?"

"Hahahahaa". omnul cekakan tidak karuan memecah dinginnya malam. suara sholawat tarkhim mulai meramai. Akhirnyapun kami pulang kerumah masing untuk santap sahur.

  • view 215