Asssabi(Q)unal Akhirun

Ardiansyah Fadli
Karya Ardiansyah Fadli Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Juni 2017
Asssabi(Q)unal Akhirun

Menjadi salah satu mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam universitas islam negeri Jakarta adalah suatu kebanggaan tersendiri buat saya. Kebanggaan itu saya dapatkan karena saya adalah salah satu orang yang berkesempatan (diberi kesempatan oleh tuhan)_ kuliah di kampus favorit teman-teman saya di pesantren.

Sebab, Tidak sedikit teman-teman yang tidak mendapat kesempatan itu, kemudian melanjutkan di universitas alternative lainnya yang tentu tidak kalah bagusnya dengan tempat saya disini. walaupun dari hati kecil saya berharap saya masih bisa berjuang lagi bersama mereka. 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan semua kenangan, jerih dan payah memperjuangkan nama angkatan. Tetapi walau bagaimanapun roda kehidupan herus tetap berjalan, waktu selalu menuntut manusia untuk selalu berproses dan meninggalkan banyak kenangan di masa lalu dan menyimpannya dalam sebuah ingatan.

saya berani mengatakan, kalau keterimaan saya di kampus ini tidak lain adalah suatu keberuntngan.sebab, Dengan kualitas saya yang tidak lebih baik, pintar dan juga cerdas dibanding teman-teman di pondok. Dan Saya menyadari hal tersebut. untuk itu, saya mohon izin kepada pembaca, perbolehkan saya untuk sedikit merendah sejenak setelah sekian lama  saya menjadi orang yang congak, somobong, angkuh dan dan juga pelupa.

Tahun 2012, saya memulai hidup baru di kampus ini, saya mulai menemukan banyak teman dengan karakter dan gaya yang sebelumnya saya belum pernah temukan. Buat saya mereka adalah orang-orang aneh yang saya tidak faham mengapa tuhan menciptakan mereka. Tapi saya yakin itulah juga yang dipirkan mereka tentang saya.

Saya Mengawali kuliah dengan gaya, fashion, dan penampilan yang kontras terlihat berbeda dengan teman-teman. Maklum, anak pondok tak mengenal levis. Flannel, dan segala tetekbengek lainnya.

Jujur, keluar dari pondok saya hanya menyisakan baju koko, peci, sandal dan celana bahan. Sayangnya, di kampus sandal dilarang untuk digunakan, walhasil saya menukarnya dengan sepatu slop berwana hitam milik ayah dirumah.

Tak jarang saya menemukan banyak juga teman-teman yang berlatar belakang sama seperti saya dengan model penampilan yang tidak jauh berbeda. Saya senang bertemu dengan mereka. Justru dengan mereka, saya yang lebih awal berani untuk menyapanya. Mungkin sama seperti perasaan orang yang bertemu dengan saudaranya sendiri.

Tak lama seiring dengan proses perkuliahan di kampus. Saya dipertemukan dengan orang-orang yang awalnya saya anggap aneh. Itu semua karena alasan mereka berbeda dengan saya. Dari penampilan, karakter, cara komunikasi sampai dengan pergaulan.

Sebagai manusia yang menyadari arti sebuah tenggang rasa, bermodalkan itu saya mencoba beradaptasi dengan mereka. Step by step saya mempelajari dan mengamati pola kehidupannya. Walau tak jarang mereka menganggap penampilan saya aneh, dan juga jauh dari kata modern atau kekinian.

Saya tak hiraukan hal itu, sebab saya faham setiap orang memilik standar gaya dan penampilan sesuai kultur yang pernah di bangun sebelumnya.

Saya hanya ingin bisa menjadi bagian dari mereka. Saya ingin bisa tertawa dengan teman yang kelak akan menjadi bagian dari kisah hidup saya di kampus. Maka saat itulah saya berfikir bahwa tidak ada alasan untuk terus menutup diri dari mereka dan menjadi si individualistik.

Waktu terus belalu, makalah banyak tertumpuk di kamar kost. Saya menyusunnya dengan sangat baik, sebaik saya memperlakukan mereka.

Satu persatu saya mulai mengenal mereka, sudah mulai ada canda dan tawa diantara kami, keakraban semakin terbangun, seiring banyaknya tugas kelompok yang mau tidak mau juga memaksa kami untuk saling bersinergi.

Dari sana komunikasi dilakukan tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga berlanjut di dunia maya. Malam itu, Saya dimasukkan dalam sebuah grup media social yang mengumpulkan semua teman teman kelas yang saya jumpai setiap harinya di kelas.

Hubungan sebuah pertemanan semakin tak berjarak, sampai sering saya merasakan menginp, bahkwan mengerjakan tugas kuliah sampai larut malam di kostan salah satu dari mereka.

Semain lama Saya mulai menyadari betul kalau ternyata mereka tidak seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Mereka orang yang asyik, kocak, lucu, dan juga aneh dalam konotasi positif.

4 tahun berlalu kami menjalani sebuah proses perkuliahan yang tidak mudah untuk melaluinha. Jalan terjal, himpitan bahkan hempasan derasnya permaslaahan di kampus turut mewarnai keseruan kami di kampus.

Aneka macam dosen sudah pernah kami temui bahkan sempat merasakan berada di dalam atmosfir ruangannya yang terikat sebuah kontrak belajar di dalam kelas.

Mulai dari dosen yang baik, yang pura-pura baik, yang woles, sampai yang killer-nya subhanalloh. Tapi itulah beliau –beliau dan beliau. Hehe…

Tak jarang pula kami malah menemukan dosen yang anti kritik dan maha benar. sebagaimana pasal satu dosen selalu benar dan pasal dua jika dosen salah maka kembali ke pasal satu. Haha…

Waktu terasa berputar sangat cepat dan melampaui keinginan saya untuk selalu bersama teman-teman dan merasakan kembali atmosfir suasana kelas. Merasakan kegaduhan, kena semprot dosen yang lagi ngajar, melihat teman yang kesulitan menjawab pertanyaan diskusi, berebut bangku belakang saat UTS dan UAS. Dan keseruan-keseruan lainnya.

Sayang, di tahun ke 4, tepat di semester genap, saya mulai menyadari bahwa semua itu kini tak lebih dari sebuah cerita. Kelak cerita itu mungkin akan menjadi oleh-oleh terindah kami di kampus.

Saya mulai merasakan, satu persatu dari mereka mulai menyelesaikan tugas akhirnya. Dan mereka pun mulai meninggalkan saya dan menyisakan beberapa teman lainnya di kampus.

Tidak ada lagi kelas, tidak ada lagi tugas, dan tidak ada lagi jam kuliah. Yang ada hanya regenerasi, melihat orang-orang baru yang kini menempati ruang ruang kelas yang sebelumnya pernah saya dan teman teman tempati.

Dari situ saya faham, bahwa saya tidak bisa menyesali sebuah perpisahan karena memang sebelumnya saya pernah di pertemukan. Yang tersisa hanya kesedihan dan sebuah doa dan harapan yang terbaik untuk mereka, dan tentu satu harapan lagi, semoga kita bisa di pertemukan lain kesempatan.

Kini yang tersisa di dikampus hanya ada saya, si orang norak yang berusaha menyesuaikan diri dengan kalian, alim,  mahasiswa yang unik dan tidak jelas hidupnya, rifqy, mahasiswa pecinta manga yang bela belain dating ke acara festifal manga di JCC, luthfi, mahasiswa penjual donat kentang dengan kelebihan wajahnya mirip fadli zonk, haris mauludin, mahasiswa stand up yang nggak lucu, zain, mahasiswa si penajahat kelamin, abitu, tukang sepatu yang berkedok sebagai mahasiswa, aris, om om kampus, dan teman teman aneh lainnya.

Saat berkumpul kami merasa seperti mahasiswa veteran yang merindukan toga untuk sang bunda. Walau sesekali kami sering menceritakan teman teman yang sudah jauh meninggalkan kami demi mengejar cita dan juga cintanya hehe…

Mereka pantas menyandang gelar ASSABIQUNAL AWWALUN, Sementara kami yang tersisa akan menyandang ASSABIQUNAL AKHIRUN.. hehe…

 

 

11 oktober 2016,

Warung Sejarah RI,

Sebagai Saksi Kerinduan akan terulangnya sebuah kenangan

  • view 33