Perempuan dalam Rok Mini

Ardhi rosyadi
Karya Ardhi rosyadi Kategori Renungan
dipublikasikan 16 Juli 2017
Perempuan dalam Rok Mini

Pagi itu di salah satu pemberitaan di media televisi swasta dalam negeri menayangkan berita mengenai pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok pemuda penangguran di daerah Solok Sumatera Barat, saat itupun saya sedang menyeduh kopi di warmindo (Warung mie di seputaran kost-kostan) bersama beberapa teman, sontak salah satu teman langsung mengomentari pemberitaan tersebut dengan menyebutkan bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahan dari korbannya yang diduga mengenakan baju seksi (rok mini/ pakaian ketat) dengan entengnya ia berujar “paling wedokan kuwi ngetokke pupune” (paling perempuan itu memperlihatkan pahanya), ketidak setujuan mengenai pendapat itupun langsung dilontarkan oleh pedagang mie yang memang sudah akrab dengan kami “ya kagaklah mas, itu karena daerah tersebut terpencil, lihat saja daerahnya hutan-hutan, ya jelaslah berarti orangnya tak terpelajar”. Dari dua opini inipun dapat disimpulkan bahwa stigma mengenai penyebab adanya pemerkosaan bukanlah dari sifat bejat pelakunya tetapi adanya kelengahan dari seorang korban.

Ironi apabila masyarakat masih terus beranggapan tersebut, karena sejatinya pemikiran yang keliru akan memunculkan sebuah perbuatan yang keliru. Karena jelas dalam beberapa kitab suci baik Al Quran dan AlKitab menjelaskan pentingnya menjaga mata (pandangan). Pentingnya menjaga mata termaktub dalam Alkitab Lukas 11:34 “Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu”. dan terdapat ayat yang berdampingan yakni Matius 5:29 "Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka”.

 Adapun Al Quran juga menjelaskan hal yang senada dalam QS. An-Nur: 30

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Adapun penegas dalam Al Hadits dari Abu Umamah berkata ”saya mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

“Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.”

Dengan adanya penguat dari kedua agama ini saya semakin yakin bahwa janganlah menyalahkan perempuan desa yang memakai baju ala kadarnya (bukan untuk dibuat-buat). Bagaimana dengan keadaan keluarga yang memang memiliki pakaian terbatas maka yang akan mereka pikirkan adalah adanya ketidak adilan di muka bumi.

Dalam kenyataannya sering terjadi perlakuan diskriminasi, marjinalisasi, sub ordinasi, beban ganda dan tindak kekerasan dari satu pihak (laki-laki) kepada pihak lain (perempuan), baik di dalam maupun di luar kehidupan keluarga. Perlakuan ini merupakan hasil dari nilai sosial budaya tanpa adanya suatu pembenaran yang rasional. Selanjutnya bentuk diskriminasi ini merupakan suatu bias gender, yaitu suatu pandangan yang membedakan peran, kedudukan dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan negara. Itulah mengapa sering terjadi diskriminasi status terhadap seorang perempuan. Apakah permasalahan ini akan terus terjadi? Harapannya tidak, tapi dengan syarat, mari ubah pandangan bias gender terhadap perempuan, karena perempuan adalah Setara.

  • view 53