Ditulis Dari Dunia Di Balik Kaca

Ardhan Niqa
Karya Ardhan Niqa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2016
Ditulis Dari Dunia Di Balik Kaca

Kita adalah sepasang kekasih yang dipertemukan semesta. Aku dan kamu, duduk di meja pojok sebuah caf? di pinggiran kota Surabaya. Kugenggam kedua tanganmu dengan erat. Berbincang tanpa suara. Mata kita saling bersua. Aku dan senyummu, adalah percakapan terbaik yang dihadirkan oleh semesta. Mungkin sudah puluhan, atau bahkan ratusan, dan sekarang untuk yang ke-seribu-dua kalinya kukatakan bahwa senyumu sangatlah indah, memikat, dan mempesona. Satu lagi yang begitu menyenangkan,? aku juga suka menatap bola matamu, jauh ke dalam seperti jurang tanpa batasan. Mungkin beberapa jam, atau mungkin beberapa bulan, atau bahkan beberapa dasawarsa?sudah berjalan. Aku hanya memandang ke satu arah, dan diam disitu untuk waktu yang lama. ?Segala yang baik, murni, dan mulia, terpancar dari mata yang terbingkai kaca.

Mungkin itulah semua yang sedang terjadi dari dunia dibalik kaca. Sekarang, aku memang sedang duduk di meja pojok sebuah caf? di pinggiran kota Surabaya. Saat ini juga, aku dan kamu memang sedang duduk berhadapan. Namun kamu sedang sibuk dengan telpon genggam, sedangkan aku menatap dan hanya bisa berangan-angan untuk hidup di dunia dibalik kaca. Tidak ada senyumanmu yang dihadirkan semesta. Yang ada hanyalah celotehanmu membalas pesan seseorang di luar sana. Tidak bisa menatap bola matamu dibalik kacamata. Yang bisa kulakukan hanyalah menatap wajah sebelah kananmu dari pantulan kaca di samping kita. Waktu pun juga ikut ambil bagian dalam permainan. Rasanya sudah berjam-jam duduk di sofa berwarna merah. Saat kulihat jam tangan, bahkan belum genap sepertiga jam.

Terkadang status ini memang sangat menyiksa. Terus menerus dirundung ?ketidakjelasan akan kehadiran cinta. Selama ini aku memang tidak percaya cinta. Menurutku, rasa sayang sudah diatas segalanya. Namun kamu berbeda. Menurutmu sebaliknya, cinta diatas segalanya, sedangkan rasa sayang hanyalah untuk teman biasa. Sampai saat ini aku masih sering?bertanya-tanya. Apakah sudah kamu hadirkan untukku suatu rasa yang kamu sebut ?cinta?. Sering aku goyah, apakah bisa perempuan idola seperti anda menghadirkan cinta untuk seseorang yang hanya seperti saya. Andai saja kamu manusia biasa, aku pasti bisa memiliki kamu seutuhnya. Tapi apa daya, setengah dari dirimu bercahaya. Bukannya menyerah, asal bisa melihat senyummu, itu sudah lebih dari segalanya.

?

Ingin kuhancurkan sebuah kaca besar. Lalu masuk kedalamnya. Hidup dan tinggal selamanya di dunia dibalik kaca. Di dunia dibalik kaca, apa yang tidak bisa kudapatkan dari dunia nyata, bisa menjadi kenyataan. ?Ir. Soekarno, bapak pendiri bangsa, pernah berkata: ada saatnya dalam hidupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.

  • view 268