Denganmu aku tak ingin apa-apa lagi

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Juni 2017
Denganmu aku tak ingin apa-apa lagi

Denganmu aku tak ingin apa-apa lagi. Kamu adalah jawaban dari segala inginku.

Aku kerap membayangkan membersatu denganmu. Lengkap dan indah. Namun kadang ada ragu yang mengganggu. Barangkali jika nanti butuhku bertemu dengan butuhmu, kita bisa membersatu. Jika tidak, biar kamu menjadi tahu bahwa ada aku yang pernah menginginkanmu.

Hanya kekasih yang membuat hati tak rela ditinggalkannya. Jika teman, masih akan rela. Begitupun sahabat, orang tua, saudara ataupun guru. Karena kepada kekasih kita mengharap banyak dengan hal-hal yang lebih privasi untuk kebahagiaan kita, dibandingkan dengan pihak-pihak lainnya.

Malam terlalu malam. Pagi terlalu pagi. Kamu terlalu kamu. Aku terlalu aku. Sehingga ada jarak diantara kita. Jarak yang merenggang menjauhkan kita berdua bukan karena fisik yang terletak berjauhan. Namun lebih karena bosan dan sebal yang kita sembunyikan. Sehingga membuat suasana berkabung rikuh dan kaku.

Apa bedanya sekarang atau nanti. Jika niatmu hanya singgah untuk kemudian pergi, buat apa berlama-lama menetap disini? Perasaan ini bersumber dari hati, bukan dari kawah gunung berapi. Kamu tidakkah tahu rasanya terlanjur jatuh hati?

Kamu mendekat mungkin karena kelebihanku. Menjauh karena kekuranganku. Itu wajar. Tapi jika kamu mendekat untuk menghancurkanku, berarti kamu jahat. Maka menjauhlah karena kesadaran bahwa menghancurkanku tak ada manfaatnya bagimu. Meski sekedar untuk kesenanganmu.

Banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk meraih senang tanpa menghancurkanku. Menghancurkanku malah bisa menghambat rezeki dan bahagiamu. Kembalilah menjadi kamu yang baik hati.

Tentang kisah kita, aku jadi teringat kucing kesayangan. Mungkin aku tak pernah ada dalam pikiran kucing kesayangan. Mungkin pula kucing tak akan pernah menjadikanku kenangan. Tapi kucing selalu ada dalam pikiranku dan akan terus menjadi kenangan. Barangkali begitu; segala sia-siaku terhadapmu.

Di kaki senja yang memerah, aku duduk seorang diri. Bukan menunggu kamu, tapi mencari jawaban kenapa aku terlalu menyukaimu. Cinta jelas bukan kata-kata. Cinta adalah bukti nyata perbuatan pemberian. Pemberian yang kelasnya lebih tinggi itu adalah pengorbanan. Pengorbanan tenaga, pikiran maupun waktu adalah manifestasi dari cinta.

Pengobanan akan menghidupkan, menggairahkan, dan menyemangatkan. Memberilah dengan cinta, tanpa mengharap apapun. Pemberian tanpa pamrih pasti akan kembali dengan hal-hal yang jauh lebih indah. Setiap kita pernah memberi walau sedikit saja. Berarti setiap kita memiliki arti bagi yang lainnya.

Sekali saja memberi sudah sangat besar pengaruhnya. Apalagi jika terus menerus tiada putus. Pengaruh positif dari memberi tentu tak mampu kita bayangkan hebatnya. Geliat dan rantai-berantainya berkembang gemilang di balik sepengetahuan kita.

Kita mungkin tak bisa membersama dalam bahtera rumah-tangga. Namun kisah asmara kita mungkin bisa menjadi rujukan untuk membuat keputusan nanti ketika masing-masing kita membina rumah-tangga.

Marilah kita tetap hidup dan berproses menjadi baik. Berproses menjadi baik tak perlu dengan merasa baik. Karena manusia tak sempurna, maka menjadi baik harus diupayakan setiap saat. Karena memang tak ada baik yang final.

Seperti halnya menjaga kebersihan telapak tangan. Harus selalu dilakukan berulang-ulang, berkali-kali, seolah tanpa selesai. Karena telapak tangan selalu saja bisa kotor dengan berbagai hal penyebabnya.

Dilihat 153