Kini aku tak penting bagimu, bagi kehidupanmu

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Maret 2017
Kini aku tak penting bagimu, bagi kehidupanmu

Kini aku tak penting bagimu, bagi kehidupanmu. Namun kamu musti harus tetap ingat bagaimana pun aku pernah penting bagimu, dalam kehidupanmu.

Lepasnya kita memang melepas segala yang dulu kita anggap penting. Menjadi ke bentuknya semula. Kita awalnya memang bukan apa-apa. Kenal pun tidak. Di tempatkan di tempat yang berjarak. Hingga sebuah pertemuan tak sengaja mengawali segala kisah luar biasa. Meski akhirnya penuh liku dan kandas.

Aku pernah mengisi jiwamu. Begitu pun kamu. Aku pernah menjadi pengindah hidupmu. Begitu pun kamu bagiku. Namun aku juga menjadi sumber kecewa bagimu. Begitu sebaliknya kamu menjadi alasan kecewaku.

Pentingnya diriku untukmu kala itu karena kamu pernah bilang tak bisa bersemangat tanpaku. Begitu pun aku tanpamu. Namun akhirnya kita menjalani hidup sendiri-sendiri dengan sedikit semangat.

Harapan-harapan indah yang kita pertalikan, sudah kita lepas. Harapan-harapan milik masing-masing kita terbang entah kemana. Kita menjadi sehelai daun kering yang mencari peruntungan di tanah rimba.

Kita pikir dulu kita adalah makhluk paling bahagia yang akan bahagia selamanya. Namun itu adalah bualan lama. Bualan ketika hati sedang bergembira.

Namun akhirnya kita jatuh di lubang yang dulu kita remehkan. Kita hancur hanya karena perbedaan-perbedaan yang dibalut bosan. Kita memang dua jiwa labil yang berteriak kukuh. Mengabarkan pada dunia bahwa kita adalah pasangan sempurna. Ternyata hanya sesempurna imajinasi liar kita.

Pada akhirnya kenyataan pahit menyadarkan kita. Bahwa kita hanya dua orang yang memburu bahagia, memusuhi kenyataan pahit. Maka akhirnya perpisahan menjadi jalan.

Dari pada harus bertahan sambil introspeksi diri. Karena kita memang dua orang yang menganggap diri sendiri paling benar. Tak mau mengakui kesalahan diri sendiri. Tak mau menyadari kesalahan. Sehingga tidak dapat belajar dari pengalaman. Tidak bisa memperbaiki diri.

Begitulah kita dahulu. Minim pengetahuan, minim pengalaman, namun berlagak jagoan. Hingga apa-apa yang dulu kita percaya baik, justru menjadi penghancur bagi diri sendiri dan bagi hubungan kita. Kita memang dua orang egois yang berusaha membuat bahagia dengan cinta. Kita memang bisa saling mengasihi, namun kita sangat bisa berselisih.

Bahagia memang kita dapatkan. Banyak di awal. Di akhir berbalik. Kecewa dan derita bergantian kita lemparkan. Hanya perang yang membara. Bertahan adalah perang yang tak pernah usai. Maka putus adalah jawaban.

Kini kita sudah lama saling menjauh dan saling melupakan. Namun ketahuilah, aku tak pernah bisa benar-benar menjauh darimu. Karena perasaanku pernah melekat pada pribadimu. Aku pun tak pernah bisa benar-benar melupakanmu. Karena kisah bahagia dan kecewa bersamamu adalah salah satu dari kisah istimewa di kepalaku.

Dilihat 119